Buka mata, buka hati, buka kemungkinan. Jangan mudah prasangka, hati-hati dosa jariah. 

 

Seorang fotografer mengadakan percobaan mengenai sifat manusia. Ia hadir ke sebuah pesta pernikahan dan mencari wajah-wajah yang sedang tidak terlihat gembira. Cuma 1-2 detik pun jadi, difotonya wajah-wajah tanpa senyum tersebut. Pesta itu adalah sebuah pesta yang sangat meriah. Semua orang bergembira ria. Maka, sangat sulit mencari detik-detik di mana hadirin sedang tidak tersenyum atau tertawa.

Semua foto tersebut dimasukkan ke dalam sebuah album. Jadilah album tersebut sebuah album berisi foto pernikahan tanpa wajah gembira. Diperlihatkannya pada teman-temannya dan dengan cepat teman-temannya berkata, “Kasihan pengantin ini, keduanya pasti dipaksa nikah, tidak bahagia sekali keduanya.” Dan kemudian beredarlah berbagai perkiraan mengenai tidak bahagianya pasangan tersebut. Ada yang bilang ibu pengantin putri sangat membenci menantunya, ada yang menolak dengan tegas dengan pendapat bahwa paman pengantin putrilah yang sangat membenci pengantin pria, karena sang paman tak hadir di acara pernikahan.

Padahal keduanya sangat gembira dan bahagia, kebetulan saja fotonya menangkap momen-momen saat mereka lelah atau sedang tidak tertawa. Kebetulan saja sang paman sedang demam berdarah sehingga tak bisa hadir, kebetulan saja ibu mempelai bukan orang yang suka senyum sehingga paling banyak difoto. Tidak ada yang mencoba klarifikasi mengapa album tersebut tak menampakkan senyum atau tawa yang lazim ada di pesta pernikahan. Tak ada yang klarifikasi mengenai sang ibu atau sang paman yang digossipkan membenci mempelai pria.

Malangnya sang mempelai pria. Ia menjadi korban gossip. Beberapa orang mencoba menyelamatkannya dengan memprovokasi dengan berbagai berita yang menunjukkan indikasi kebencian ibu dan paman mempelai pria. Sayangnya sang suami mudah termakan omongan, dan berbagai kejadian kecil dalam keluarga besar mempelai putri dianggapnya mengkonfirmasi kecurigaan tersebut. Mereka pun sering ribut dan akhirnya bercerai.

Begitu cepat orang mengambil kesimpulan. Mereka tidak lagi bertanya atau klarifikasi. Dan semua perkataan bisa menjadi doa. Kecurigaan kecil menjadi prasangka dan akhirnya penghakiman yang membawa konflik. Semua berasal dari sebuah foto album yang dibuat oleh seseorang yang memilih untuk menangkap hanya yang tidak happy.

Dan demikianlah yang sering terjadi pada kita. Banyak orang di sekitar kita yang hanya melihat dari satu sisi. Kita semua dibesarkan dengan sebuah pola tertentu. Yang terbiasa melihat keluarga yang harmonis dan bahagia akan melihat segalanya dari kacamata gembira dan bahagia. Akan sangat sulit mereka menerima bahwa ada keluarga yang tidak bahagia. Saat mereka melihat ada yang tak bahagia mereka akan bilang, “Kebetulan saja ini.” Mereka cenderung berkata, “Semua bisa, semua indah.” Dan saat hidup membawa mereka ke hal-hal yang tidak seperti masa kecilnya, mereka sangat kecewa.

Sebaliknya yang terbiasa dengan kaca mata kekerasan dan kepahitan, akan berkata, “Beginilah memang seluruh dunia.” Kalau ada yang bahagia mereka akan berkata, “Kebetulan saja ini.” Saat ada keluarga bahagia bertengkar sedikit saja mereka akan berkata, “Tuh, kan, pasti sebentar lagi juga bercerai.” Dan kalau ternyata semua baik-baik saja mereka bisa kecewa. Saat pasangannya buat kesalahan sekali saja, mereka akan menganggapnya seperti “pertanda” bahwa masa lalunya akan terulang lagi, dan mereka akan sangat curiga dan cemburu luar biasa.

Itulah kita. Kita seringkali tidak obyektif. Kita memandang segala sesuatu berdasarkan pengalaman masa lalu tanpa mau berhenti sebentar dan mengklarifikasi apa yang sesungguhnya terjadi. Hati-hati dengan prasangka, karena bisa jadi prasangka kita lebih banyak dipengaruhi pengalaman masa lalu kita daripada fakta sesungguhnya. Saat kita menilai, menghakimi dan akhirnya membuat orang turut menghakimi sesuatu atau seseorang, hati-hati, bisa-bisa kita kena dosa jariah yang terus mengalir bahkan sampai kita sudah meninggal di akhirat nanti. Padahal belum tentu opini kita benar. Mungkin kita hanya melihat album foto yang isinya hanya cuplikan diam tanpa tawa, di tengah suasana yang penuh tawa seperti di atas.

Dan apapun kenyataan yang kita temukan, yang tak sesuai dengan kaca mata kita, yakinilah bahwa Allah punya kaca mata sendiri yang lebih hebat. Setiap ciptaanNya adalah hebat, dan setiap kejadian yang diizinkanNya terjadi adalah karunia bagi kita. Bisa jadi hadiah, bisa jadi ujian, karena Allah senang sekali kasih ujian agar kita bisa naik kelas. Terima saja semua ujian, karena semua bagus untuk kita dalam jangka panjang.

Yuk, marilah kita buka mata, buka hati lebih jauh. Jangan mudah berprasangka, jangan cepat menghakimi, apalagi berbagi opini yang belum kita teliti baik-baik dengan orang lain. Teliti sebelum beropini. Jangan pula termakan opini orang lain, karena mereka bisa saja juga berprasangka. Jangan ditentang, samakan posisi dan bantu mereka membuka berbagai kemungkinan lain.

2 thoughts on “Buka mata, buka hati, buka kemungkinan. Jangan mudah prasangka, hati-hati dosa jariah. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s