Skip to content
Advertisements

Teruslah tersenyum. Bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sendiri, karena kita sangat membutuhkannya.

Di kelas Neuro-Linguistic Programming, Pak Hing Hindranata, guru kami, meminta seorang volunteer maju ke depan. Lalu dimintanya sang volunteer menceritakan beban hidupnya. Mulailah panjang lebar sang volunteer bercerita. Lalu Pak Hing meminta beliau tersenyum dan menahan senyumnya. “Mulailah lagi menceritakan beban hidup anda, sambil tetap tersenyum.” Ternyata sang volunteer kesulitan menjelaskan kesulitan hidupnya. Lalu Pak Hing memintanya berdiri lebih tegak dan menengadah ke atas sambil tersenyum. “Ayo cerita lagi tentang masalahmu,” kata Pak Hing. Dan kini ia tak bisa berkata-kata lagi, hanya tersenyum sambil petantang petenteng.

“Demikianlah besarnya peranan senyum dan posisi tubuh mempengaruhi pikiran dan perasaan. Wajah, tubuh pikiran dan perasaan adalah satu kesatuan. Perhatikan orang yang suka mengeluh, badannya bungkuk dan susah senyum. Mungkin justru karena dia bungkuk dan susah senyum dia suka mengeluh. Mungkin bukan sebaliknya. Coba paksa dia tersenyum dan berdiri tegak setiap saat, mungkin kebiasaan mengeluhnya hilang,” tegas Pak Hing.

Menarik.

Dr. Hanson di Hanara pun selalu mengingatkan kami untuk selalu tersenyum, terutama saat berlatih pernafasan VBC, sambil menghadirkan 5 vibrasi: ikhlas, menerima, bersyukur, cinta tanpa kondisi dan bahagia saat yang lain bahagia. “Senyum membantumu untuk sembuh,” pesannya.

Jadi kenapa kita butuh senyum terpasang terus di wajah kita?

  • Tubuh memproduksi endorphin. Hormon ini membuat kita merasa bahagia dan menurunkan rasa sakit. Endorphin berfungsi seperti morfin, tapi tidak menimbulkan dampak kecanduan atau ketergantungan. Hal inilah yang membuat kita merasa bahagia justru karena kita tersenyum.
  • Imunitas meningkat. Senyum membantu tubuh memproduksi sel darah putih yang membantu mengatasi penyakit. Sebuah riset menunjukkan bahwa pasien-pasien yang dikunjungi seorang pencerita yang membuat mereka banyak tersenyum, memiliki lebih banyak sel darah putih dibanding mereka yang tidak.
  • Senyum menekan stress. Sebuah riset menemukan bahwa mereka yang banyak tersenyum lebih tahan stress dan tidak mudah galau, dengan degup jantung yang lebih rendah daripada mereka yang tidak banyak tersenyum.
  • Kita merasa lebih nyaman. Manusia cenderung mencari sesuatu yang nyaman dan tidak bisa menikmati sesuatu yang tidak familiar. Sebuah riset menemukan bahwa senyum bisa membuat kita merasa nyaman dalam berbagai kondisi, termasuk yang tidak familiar.
  • Pemimpin yang lebih baik. Sebuah riset di Universitas Montpellier menemukan bahwa tersenyum adalah metode kepemimpinan yang lebih efektif daripada mengemban tanggung jawab manajemen yang besar.
  • Lebih dipercaya. Orang yang banyak tersenyum ternyata lebih mudah dipercaya daripada yang tidak. Para responden di sebuah riset di Universitas Pittsburg menyatakan bahwa mereka lebih percaya pada orang-orang yang tersenyum daripada yang tidak.

Nah, banyak sekali bukan, manfaat senyum? Di foto, atau saat bercermin, kita otomatis tersenyum karena kita ingin terlihat baik, bukan? Kenapa kita tidak terus pertahankan senyum ini untuk diri kita sendiri, bukan hanya untuk cermin dan kamera? Ingatlah bahwa diri kita sangat membutuhkan sebuah senyum tersungging di wajah kita.

 Jadi, yuk, kita terus sadari setiap saat, jagalah senyum agar selalu hadir di wajah. Bagaimana strategi sahabat? 

Kalau aku, aku sering-sering cek, senyum atau tidak saat itu. Kalau tidak, saatnya untuk senyum.

Silakan share di “comment” ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: