Perbanyak cinta. Dengan cinta, kita tak perlu menghakimi, mencibir atau berprasangka buruk. 


Banyak anak yang tumbuh dengan perasaan kurang. Ada yang merasa kurang dicintai, kurang berharga, kurang diperhatikan dan lain-lain. Tanpa sadar, mereka berusaha menutup kekosongan ini dari sumber-sumber lain.

Salah satu yang paling mudah adalah dengan merasa happy kalau ada orang yang juga kurang. Sehingga kekurangan kita tidaklah terlihat terlalu berat dirasa, karena ada orang lain yang juga kurang.

“Ih, dia bajunya kampungan, aku nggak suka. Pasti orang nya nggak seru. Nggak level,” atau
“Uh, judes, sombong, tidak usahlah aku dekat-dekat. Pasti aku juga tidak diperhatikannya.”
Padahal belum tentu juga begitu. Baju kampungan memang jaminan tidak menyenangkan? Bisa saja ia dikirim Allah untuk membantu kita.

Bahkan si alim juga ikut menghakimi,
“Ih, shalatnya begitu. Nggak benar, aku lebih baik shalatnya,”
“Hmm.. dia tidak rajin baca quran kayak saya. Nggak level.”
“Bukan lulusan Kairo seperti saya. Tahu apa dia soal agama?”
Padahal belum tentu si alim masuk surga duluan. Bisa saja yang dihina melakukan hal-hal kemuliaan di akhir hidupnya dan masuk surga yang lebih tinggi daripada yang menghina.

Hal kedua adalah dengan curiga, buat asumsi sendiri dan akhirnya menyimpulkan sendiri. Fakta yang samar-samar pun cukup untuk membuat kesimpulan seperti seorang hakim. Kenapa? Karena ini penting bagi perasaan kurang di dalam hati.
“Tuh kan, dia tidak sayang.”
“Tuh kan, aku dianggap tak berharga. Dia begitu bencinya padaku.”
Padahal belum tentu juga begitu. Tapi kaca mata “kurang” ini memang membuat semua dianggap “tidak mencintaiku” sehingga perilaku nya pun menggambarkan orang yang tidak ingin dicintai.

Inilah kita, manusia. Makin kita merasa tidak dicintai, makin kita merasa wajib memastikan ada orang lain yang tak layak dicintai, atau sibuk mengkonfirmasi ketidakcintaan orang pada dan juga pada kita. Ini adalah proses pertahanan tubuh kita yang dibutuhkan oleh bagian dari otak yang ingin memastikan kita “tidak kecewa-kecewa amat, tidak sakit amat.”

Tapi kalau kita sadari, siapakah kita?
Yang berhak seenaknya menghakimi orang?
Bisa-bisa kita lebih buruk daripada yang dihakimi,
Lebih tidak disukai Allah daripada yang kita cibir “kurang alim”
Lebih buruk rupa dan hati daripada dia yang “bajunya nggak level.”

Setiap kali kita merasa lebih hebat, sadarilah bahwa si otak hanya ingin melindungi kita dari perasaan kurang. Sadarilah bahwa Allah selalu adil, selalu penuh cinta. Orang tua kita bisa saja tak faham bagaimana mengungkapkan rasa cinta, tapi itu bukan berarti kita tidak dicintai.

Sadarilah bahwa kita ada hanya karena cinta, bahwa ada Allah tempat berpegangan dan bergantung yang mencintai kita, ciptaanNya, lebih dari ibu kita sendiri, lebih dari siapapun di alam semesta ini. Apapun yang terjadi, terjadi karena cintaNya pada kita. Isilah hati yang kosong dengan kesadaran akan cintaNya, Rahman dan RahimNya. Memang tak ada manusia yang bisa diandalkan secara penuh, tapi ada Allah, satu-satunya tempat bersandar yang selalu tersedia saat kita butuh. Sehingga tak perlu lagi kita mencibir, menghina atau buang waktu mengkonfirmasi kita tak layak.

Setiap kali kita mencibir, sadarilah bahwa kita hanya sedang mencibir diri sendiri, yang sedang merasa kurang.
Setiap kali kita merasa tersisih, sadarilah bahwa ini kerja si otak yang selalu ingin melindungi. Belum tentu begitu. Bagikan saja cintamu tanpa pamrih, tanpa kondisi, karena kita dipenuhi cinta kasihNya.

Jangan sampai kita cibir orang, karena bisa jadi ia lebih mulia.
Jangan sampai kita nilai orang tak cinta, bisa jadi ia sangat cinta, tapi tak tahu cara menyampaikannya. Dan apapun itu, ada Allah yang Maha Mencinta, tempat kita meminta cinta.
Ikhlaskan semua, prasangka baik semua terjadi karena Allah sayang kita.
Maafkan semua
Syukuri kehadiran semua orang,
Baik yang menjadi hadiah, ataupun yang menjadi ujian.
Semua punya makna dan maksud
Bagikan lagi cinta Allah yang berlimpah ruah
Jangan dihitung
Jangan dikalkulasi
Seakan harus sepadan dengan yang dia beri
Tidak perlu.
Karena Allah pun telah mencintai dan memberi kita
Dengan nikmat yang tak mampu kita hitung
Tak mampu kita kalkulasi, bahkan sering tak kita sadari

Allah tak menghakimi kita,
Kenapa kita harus hakimi orang lain?
Allah terus memberi kesempatan
Kenapa kita tak mau memberi kesempatan?
Allah selalu membuka pintu maaf
Kenapa kita tak mau memaafkan?
Allah tak pernah berhitung dengan cintaNya
Kenapa kita harus berhitung dengan cinta kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s