Selama Allah happy, tak apa orang tidak happy. Yang penting kita sudah berusaha yang terbaik.

Kisah-Luqman-Al-Hakim-e1441944592986.jpg

Suatu hari Lukmanul Hakim ingin mengajarkan sesuatu pada anaknya. Dipanggilnya anaknya, dan diajaknya ke pasar bersama keledainya. Lukman duduk di atas keledainya, dan anaknya dimintanya menuntun keledai tersebut.

Begitu keluar, orang-orang pun banyak mencibir, “Ayah yang tega. Lihat anaknya dibiarkan kecapekan berjalan menuntun keledai. Ayah macam apa itu?” cibir orang pada ayah anak tersebut.

Lukman pun tersenyum melihat anaknya kebingungan. Ia pun mengajak anaknya berganti tempat. Kini anaknyalah yang duduk di atas keledai dan ayahnya menuntun keledai tersebut.

Belum lama berjalan, ada pula cibiran, “Anak tak tahu diri, masak ayahnya dibiarkan kelelahan berjalan dan menuntu keledai, sementara ia duduk enak-enak di atas keledai?”

Anaknya pun kembali bingung. Lukman kembai tersenyum. Maka ia pun bergabung dengan anaknya, ikut duduk di atas keledai.

Belum juga jauh, sekelompok orang melihat dengan tatapan tak suka pada mereka berdua. “Majikan tak kenal belas kasihan. Keledai seperti itu disuruh mengangkut dua orang. Huuuh.. tak punya peri kebinatangan, penyiksa binatang,” hina mereka.

Anaknya tak habis pikir. Tak pernah ada yang benar. Lukman pun tersenyum kembali, maka diajaknya anaknya turun agar si keledai berjalan tanpa beban.

Belum lama berjalan, kembali cibiran datang dari orang lain yang berpapasan dengan mereka. “Lihat ayah anak bodoh. Punya keledai bukannya dipakai.”

Anaknya kembali bingung. Lukman pun berkata, “Apapun yang kita lakukan, kita tak akan lepas dari gunjingan orang. Jangan bingung. Pakailah akalmu, dekatkan diri hanya kepada Allah. Jadikan Allah sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Carilah rizki yang halal, agar kamu tak menjadi fakir. Orang fakir akan tertimpa tiga perkara: tipis keyakinannya, lemah akalnya sehingga mudah ditipu dan diperdaya, serta hilang kepribadian serta kemuliaan hatinya, ia akan mudah direndahkan dan disepelekan.”

Sahabat blog tersayang,

Demikianlah cara Lukmanul Hakim mendidik anak. Beliau adalah seorang ayah yang diabadikan namanya dalam Quran karena caranya mendidik anak. Bukan dengan kata-kata tapi dengan memberi pengalaman. Demikianlah cara yang paling melekat dan berkesan dalam mendidik.

Marilah kita ambil pelajaran dari sini. Apapun yang kita lakukan, akan selalu ada yang menghina, mencibir, tidak suka, atau tidak berkenan. Kita wajib membangun reputasi, atau kemuliaan dalam bahasa Lukmanul Hakim, namun jangan goyah karena semua cibiran orang.

Bangunlah prinsip dan kepribadian yang kuat berdasarkan petunjuk Allah dan cara hidup Rasulullah. Syahadat sudah mengantar kita untuk berikrar bahwa kita hanya menuhankanNya dan mengikuti cara hidup RasulNya, bukan mengikuti cibiran orang atau memuaskan keinginan orang.

Jadikan semua hinaan seperti juga pujian, sebagai masukan, dengan tujuan terus memperbaiki diri mendekatkan diri pada Allah, menjalankan tugas kita di muka bumi sebagai khalifahNya, membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat dan umatNya. Gembirakan orang lain, limpahkan cinta tanpa pamrih (unconditional love), dan serahkan semua hasil kepada Allah. Izinkan orang untuk tidak suka. Berikan maaf tanpa kondisi, sabar tanpa batas. Selama Allah happy, tidak apa-apa orang tidak happy. Yang penting kita sudah berusaha yang terbaik, dan terus memperbaiki diri untuk mendapat ridloNya dalam menebar cinta bagi semesta.

Bismillah.

Image: https://3.bp.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s