Skip to content
Advertisements

Cinta yang berbuah master piece dalam sejarah, kesabaran dan kebahagiaan


Siapa yang tak kenal Imam Bukhari? Seorang ahli hadits yang menjadi rujukan umat Muslim sedunia. Imam besar yang kepadanya kita semua banyak sekali berhutang. Karyanya terus diturunkan dari masa ke masa, dan semoga menjadi amal jariah beliau, membawa kebaikan bunga berbunga sampai akhir zaman. Semoga kita semua bisa membangun amal jariah seperti beliau, terus bermanfaat sampai akhir zaman, membawa kebaikan terus di dunia dan akhirat. Aamiin.

Imam Bukhari tidak selalu dipuji-puji. Sebagai seorang pemimpin dan ulama, banyak sekali kritik, fitnah, hinaan, celaan dan perlawanan yang beliau harus hadapi. Banyak sekali lawan yang mendzaliminya, tidak hanya kawan. Jumlah banyaknya kawan dan lawan ini memang sebanding dan menggambarkan seberapa besar wilayah pengaruhnya.

Namun, beliau tidak pernah merespon kritikan, celaan dan hinaan yang masuk. Apalagi mendoakan balasan keburukan bagi semua keburukan yang diterimanya. Tidak.

Suatu hari ada yang bertanya, “Mengapa engkau tidak pernah mendoakan keburukan terhadap orang-orang yang telah menzhalimi, menyakiti dan memfitnah dirimu?”

Beliau menjawab, “Karena Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Bersabarlah sehingga kalian dapat berjumpa denganku di telaga (pada hari kiamat).” (HR. Bukhari)

Ternyata, beliau sangat fokus dan hanya memikirkan cinta pada Rasulullah saw. Tak ada yang mampu mengalihkan perhatiannya dari cinta dan kesabarannya menunggu pertemuan ini. Inilah yang luar biasa dari seorang Imam Bukhari. Beliau menjadi ahli hadits Rasulullah saw kenamaan dalam sejarah karena memang semua karyanya didasari cinta yang luar biasa besar pada Rasulullah saw. Cintalah yang menghasilkan master piece yang terus bertahan sampai akhir zaman.

Luar biasa..

Dan cintanya ini membuat semua yang lain menjadi tak penting, tidak esensial, tak perlu difikirkan, dan akhirnya tak mengganggunya. Sebesar apapun fitnah yang dilontarkan, sebanyak apapun orang yang mendzaliminya, tak ada yang mengkhawatirkannya. Tak pula ia balas membenci. Tidak. Karena semua tak masuk dalam hati dan pikirannya. Tidak sampai mendapat perhatiannya, karena ia hanya memperhatikan Rasulullah saw. Orang kasmaran biasanya senyum terus, hatinya berbunga-bunga terus, susah pula diajak bahas hal yang lain, bukan? Nah, seperti itu.

Pernahkah sahabat benar-benar fokus pada sesuatu sehingga tak lagi memperhatikan yang lain? Misalnya saat mau menikah, tak lagi kita memikirkan yang lainnya. Hati berbunga-bunga membayangkan pernikahan saja. Atau saat sedang berdua dengan kekasih tercinta, tak ada yang lebih penting darinya, dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak.

Inilah perwujudan dari hadits ini:
“Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau kita sudah fokus pada cinta dengan Rasulullah dan Allah, tentu kita akan fokus hanya pada pertemuan dengan Rasulullah dan Allah. Orang yang menyebalkan, mendzalimi, mencela, menghina, kanker, penyakit, kebingungan mengurus negara, pemerintah yang menyebalkan dll tak lagi menarik perhatian kita dari Rasulullah dan Allah swt. Tak ada lagi yang penting. Yang penting hanya pertemuan denganNya dan RasulNya. Semua urusan dilakukan untuk mempersiapkan pertemuan denganNya,  dan RasulNya. Hanya karena Allah meminta kita menjadi khalifahNya, dan didasari pada cinta hanya untukNya, untuk mendapat ridloNya.

Nah, dalam menjalani hidup ini, kalau kita bisa seperti itu, kalau kita bisa kasmaran hanya dengan Allah dan RasulNya, sehingga tak ada lagi yang mengganggu pikiran kita dan kita hanya hidup bahagia menanti pertemuan denganNya dan RasulNya, mendasari semua kerja kita dengan kecintaan padaNya dan RasulNya, tentu hidup jadi seperti ada di padang cinta terus-terusan, kasmaran all the time, berbunga setiap saat.

Sejak kecil ini pertanyaanku, mana mungkin cinta pada Allah dan Rasul yang tak pernah kita lihat wujud, lebih dari cinta pada orang tua dan pasangan? Mana mungkin? Tapi dengan berjalannya waktu, dengan terbuktinya banyak janji Allah, sehingga aku benar-benar merasa hanya Allah yang bisa aku pegang, aku andalkan dan aku tuju, aku mulai yakin. Memang selayaknyalah hanya Allah dan RasulNya yang kita cintai lebih dari segalanya. Ternyata memang seharusnya begitu. Terasa sekali dalam hati. Cuma godaan dunia memang besar, sehingga cinta kita pada dunia pun menggoyahkan kita dari fokus ini.

Nah, sekarang pertanyaannya bagi kita,
Seberapa besar sudah rasa cinta kita padaNya dan RasulNya?
Kalau dihitung 1-10, di mana 1 tidak cinta dan 10 cinta mentok, cinta kita ada di mana?
Kenapa cinta ini penting bagi kita?
Untuk siapa saja dan apa saja cinta ini penting bagi kita?
Kalau penting, bagaimana kita bisa mulai membangun cinta ini, hanya bagiNya dan RasulNya?
Dan kira-kira apa rasanya hati yang hanya diisi keindahan dan kebesaran Allah dan kemuliaan Rasulullah saw?
Apa kebahagiaan yang bisa kita peroleh dengannya?
Bagaimana agar kita bisa menjaga komitmen ini dalam hati kita, perkataan kita dan perbuatan kita sehari-hari?

Semoga Allah meridloi usaha kita untuk membangun cinta murni hanya untukNya dan RasulNya, dan mulai membangun master piece yang bisa menjadi amal jariah sampai akhir zaman, sebagai khalifahNya, untuk mendapat ridloNya.

Aamiin yra.

❤️❤️❤️

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: