Perbanyaklah amal jariah karena kita tak pernah tahu seberapa besar dosa jariah kita


Disty, seorang mahasiswa di kampus kenamaan ibu kota, sedang sedih. Sahabatnya, Anita, tiba-tiba menjauh, tak lagi hangat seperti biasa. Ia pun mengeluh pada teman-temannya yang lain.

“Anita sombong sekali sekarang. Mungkin karena ia pindah ke rumah mewah, jadi aku nggak lagi dianggap selevel dengannya,” keluhnya pada Miranda, teman sekelasnya.

Miranda mencoba menghibur Disty sambil berempati, “Iya, dia memang begitu. Sudahlah, gengsi coba mendekat-dekat padanya. Banyak teman yang lain,” hiburnya.

Akhirnya berita itu pun menyebar: “Anita merasa lebih kaya dari teman-teman yang lain, dan sekarang jadi sombong.” Dunia pergosipan kampus pun sibuk membahas kalungnya, mobilnya dan tasnya.

Satu hal yang tidak pernah diketahui Disty, Miranda dan teman-teman lainnya, Anita sesungguhnya sedang menghadapi persoalan berat yang tidak bisa dibaginya pada teman-teman lainnya. Ayah dan Ibunya bercerai, dan ayahnya kedapatan menjadi gay ibu kota. Dan ternyata sudah lama ayahnya menggauli dunia ini. Kini ia pindah ke rumah tantenya yang memang lebih kaya daripada orang tuanya, karena orang tuanya tak lagi mau menampungnya, sibuk dengan urusan perceraian dan pertengkaran mereka.

Anita tak bisa bercerita, karena ia tak mau membuka aib keluarganya. Ia menjadi minder, tak merasa berharga. Ia sangat malu, sehingga tak lagi berani bergaul dengan yang lainnya. Pembentukan jati dirinya terganggu, dan traumanya terus menggerogoti dirinya makin dalam dengan berjalannya hari.

Sesungguhnya ia sangat membutuhkan seseorang yang bisa membantunya, tapi teman-temannya tak lagi mau berdekatan dengannya. Semua menganggapnya “anak kaya baru yang sombong,” berkat prasangka buruk sahabatnya sendiri, yang dikompori oleh teman-temannya. Disty yang seharusnya menjadi malaikat penyelamatnya, sebagai sahabat, ternyata menjadi orang pertama yang membuatnya dihakimi komunitas kampusnya sendiri. Anita lebih senang dijauhi daripada harus ketahuan bahwa ayahnya yang dangat dikaguminya selama ini adalah seorang gay. Ia pun tumnuh menjadi seorang penyediri. Sungguh berat ujian yang harus dihadapi Anita ini, sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Disty kemudian menemukan sahabat-sahabat baru. Sampai mereka lulus, mereka pun masih membincangkan “Anita yang sombong dan tak mau bergaul.” Setiap kali ada orang yang membincangkan “Anita orang kaya baru yang sombong” Disty dan Miranda mendapat dosa jariah. Semua gossip yang lahir akibat asumsi mereka berdua akan membawa keburukan bagi mereka berdua, sebagai pencetusnya. Alangkah ruginya.

Sahabat,
Berapa sering kita mendapat berita seru yang belum tentu benar. Berapa sering, karena serunya, kita dengan gembira dan excited, segera menyebarnya tanpa berfikir lebih panjang? Belum lagi hebohnya orang Indonesia di chat room, WA group, media sosial dan forum-forum lain. Berbagai berita dan gossip yang belum tentu benar dengan ringan kita sebar dengan gembira. Hati-hati, karena semua keburukan yang dibawa gossip tersebut bisa menjadi dosa jariah bagi kita. Di akhirat nanti semua itu akan memberatkan kita. Nah, marilah kita hentikan semua gossip dan aktivitas menyebar atau membincangkan berita yang belum tentu benar, masih asumsi atau perkiraan belaka. Kalau tidak kita lihat dengan mata kepala sendiri, sudahlah, lupakan. Banyak hal yang perlu kita urus. Kita tak pernah tahu seluas apa, dan selama apa keburukan yang kita sebar disebar lagi oleh orang lain, atau membuat orang turut berprasangka buruk pada seseorang atau sesuatu.

Coba simak hadits di bawah ini:

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Bahkan kalau kita melakukan keburukan yang memberi ide atau menginspirasi orang lain melakukan keburukan yang sama, tanpa harus mengajak orang lain itu, itu pun akan membawa dosa jariah bagi si pelaku pertama. Sampai kita meninggal pun, selama keburukan tersebut masih dilakukan, dosa tersebut masih mengalir, tanpa henti.

Untuk mengimbanginya, banyak-banyaklah melakukan amal jariah:
– Berikan makan dan minum sebanyak-banyaknya orang lain, terutama anak yatim. Selama mereka hidup kita mendapat kebaikan, bahkan kalau kita sudah meninggal.
– Bangunlah masjid, atau sarana-sarana ibadah dan fasilitas publik yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Selama yang kita bangun bisa membawa manfaat, kita pun menerima hasil amalannya.
– Sebarlah ilmu tanpa menghitung. Selama ilmu itu menjadi ilmu yang bermanfaat, kita pun mendapat kebaikannya, bahkan setelah kita meninggal.
– Didiklah anak kita agar menjadi manusia-manusia sholeh sholehah yang banyak membawa manfaat. Selama mereka beramal, kita pun mendapat kebaikannya.

Dan masih banyak lagi amal jariah lain. Penting dan penting sekali, lakukan sebanyak-banyaknya karena kita tak pernah tahu seberapa besar dosa jariah kita.

Apakah dosa jariah yang harus kita hentikan secepatnya mulai hari ini?

Kenapa hal itu penting?

Apa amal jariah paling sederhana yang dapat kita mulai sekarang?
Bagaimanakah kita dapat menjadikannya sesuatu yang rutin setiap hari sampai akhir hayat?
Bagaimanakan kita dapat mengembangkannya dan memastikan keluarga, keturunan kita meneruskan kebaikan tersebut?

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai makhluk-makhluk yang mampu menebar manfaat dengan manfaat yang berkembang terus sampai akhir zaman. Aamiin yra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s