Yang kamu beli itu bukan berasal dari si penjual, Allah lah yang memberikannya padamu 


Sahabat,

Saat kita sadar semua berasal dari Allah, terjadi atas izinNya, dan kembali padaNya, maka sadarkah kita bahwa semua keluhan pun sesungguhnya terlontar untukNya?

Yuk kita simak kiriman sahabat saya, Teh Henny Asmara dari Lavender Jawa Barat, yuk.

🌷🎀💐🌷🎀💐🌷🎀💐

Pada suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli buah semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah Semangka tersebut terasa hambar. Dan sang isteri pun marah.
Syeikh al-Imam Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu, setelah selesai didengarkan amarahnya, beliau bertanya dengan halus: 

“Kepada siapakah kau marah wahai istriku? Kepada pedagang buahnya kah? atau kepada pembelinya? atau kepada petani yang menanamnya? ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?” tanya Syeikh al-Imam Syaqiq

Istri beliau terdiam.

Sembari tersenyum, Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya, “Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik. Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula. Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik. Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada Yang Menciptakan Semangka itu.”

Pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus kedalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya.

Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya, “Bertaqwalah wahai istriku. Terimalah apa yang sudah menjadi ketetapanNya, agar Allah memberikan keberkahan pada kita.”

Mendengar nasehat suaminya itu sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan ridha’ dengan apa yang telah Allah tetapkan.

Pelajaran terpenting buat kita adalah bahwa setiap keluhan yang terucap sama saja kita tidak ridha dengan ketetapan Allah SWT, sehingga barokah Alloh jauh dari kita.

Karena barokah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi barokah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dgn segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.

Barokah itu “… bertambahnya ketaatanmu kepada Allah.”

Makanan barokah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat setelah memakannya.

Hidup yang barokah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagai mana Nabi Ayyub, sakitnya menjadikannya bertambah taat kepada Allah.

Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umair.

Tanah yang barokah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Allah tiada banding, tiada tara.

Ilmu yang barokah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang barokah ialah ilmu yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal dan berjuang untuk agama Allah.

Penghasilan barokah juga bukan gaji yang besar dan berlimpah, tetapi sejauhmana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.

Anak-anak yang barokah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar dan mempunyai pekerjaan, jabatan hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada RabbNya dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari kita dan tak henti-hentinya mendoakan kedua orang tuanya.

Semoga kita semua dianugrahi kekuatan untuk senantiasa bersyukur padaNYA, agar kita mendapatkan keberkahanNYA.

Alhamdulillah

🌷🎀💐🌷🎀💐

Nah, jadi apalagi yang bisa kita keluhkan? Apa lagi yang bisa kita jadikan sumber kemarahan dan kekesalan? Semua yang tidak enak dan tidak menyenangkan, kejadian yang kita tak bisa terima, itu semua adalah dari Sang Maha Kasih, Sang Maha Penyayang dan Maha Menjaga, Maha Mencukupi.

Saat Allah memberikan apapun yang tak enak dan tak menyenangkan itu, pasti ada dasarnya. Kira-kira apa maksud Allah memberikan hal itu pada kita? Kenapa istri Syeikh mendapat semangka yang tak sesuai harapannya di hari itu?

Kira-kira apa maksud Allah memberikan:
sakit kanker?
..orang tua yang suka marah?
..partner yang menipu?
..bencana tak berkeputusan?
Atau misalnya wabah penyakit yang merenggut nyawa orang-orang terkasih kita?
Atau apapun yang sedang kita alami.
Allah yang menyayangi dan mengasihi kita lebih dari siapapun memberikan kita hal-hal itu karena Allah tahu kita kuat dan perlu belajar lebih banyak untuk bisa masuk dalam surgaNya.
Kira-kira apa pelajaran yang harus kita jalani dengan menerima semua itu?
Kenapa itu penting bagi kita?
Bagaimanakah pelajaran itu dapat membawa kita lebih dekat lagi denganNya dan surgaNya?

Alhamdulillah untuk semuanya, ya Allah.

2 thoughts on “Yang kamu beli itu bukan berasal dari si penjual, Allah lah yang memberikannya padamu 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s