Pujian itu melemahkan, menipu dan melenakan. Hati-hati ya


Dari Abu Musa RA, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada orang yang senang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Maka Rasulullah saw bersabda

“Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” (HR. Bukhari 158 dan Muslim 2297) 

Dulu aku sering bingung dengan hadits soal memuji ini, karena secara umum kita belajar untuk melakukan apresiasi dengan memuji. Setelah belajar self healing di hanara, ternyata terbukti memang pujian itu melemahkan, atau “mematahkan tulang belakang” persis seperti hadits ini. Seseorang yang sebelumnya kuat menahan berbagai beban dalam test kinesiologi, ternyata tak bisa kuat menahan pujian. Ia pun menjadi lemah (juga dibuktikan dengan test kinesiologi).

Setiap pujian adalah senjata yang lebih tajam dari senjata yang terlihat. Kita nyaman dibuatnya, bahkan selalu mengharapkannya, dan kalau tidak diberi malah marah. Padahal hal itu merusak kita, mematahkan punggung kita dan menjadikan kita lemah. Seperti candu yang memabukkan.

Semua pujian adalah tipuan. Seakan-akan kita yang hebat. Padahal yang dipuji bukan berasal dari kita, tak ada pula dalam diri kita.

Pujian adalah halangan untuk kemajuan, apabila kita dibuatnya menjadi sulit melihat kekurangan diri sendiri, tak mau menerima kritik. Tak mau bertobat, karena merasa hebat.

Pujian juga bisa menjauhkan diri dari Allah, seperti Firaun yang merasa diri menjadi tuhan. 

Terima pujian sebagai hadiah Allah, yang telah bekerja melalui kita, tapi bukan dari kita, bukan untuk kita.
Kebaikan terjadi bukan karena kemampuan kita. Semua terjadi hanya karenaNya. Jangan sombong, kembalikan semua pujian hanya padaNya. Ingat langsung, yang sedang dipuji adalah Allah, bukan kita. 

Rasulullah saw bersabda:

“Janganlah kalian dibuat takjub dengan amal yang dilakukan oleh siapapun, sampai kalian melihat dengan amal apa hidupnya ditutup.” (Silsilah ash-Shahihah, 1334) 

Jaga hati dari rasa bangga, sombong dan merasa lebih dari yang tidak menerima pujian. Ini jebakan setan dan iblis yang mencari teman masuk tempat pembalasan bersama mereka dengan rasa sombong dan berbangga diri. Hati-hati, amal kita bisa lenyap kebaikannya seperti debu di atas batu yang ditiup angin, akibat pujian itu.

Sucikan niat, luruskan hati dan semua hanya dari Allah, untuk Allah, bukan dari kehebatan diri sendiri, untuk mendapat pujian.

Masih panjang perjalanan, jangan sampai pujian hari ini melemahkan perjuangan mencapai Allah dan surgaNya sampai akhir hayat.

Ingatlah keikhlasan sebagai ciri penduduk surga:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridlaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” (Qs. Al-Insan 9) 

Jangan pernah marah kalau berbuat kebaikan tanpa dibalas ucapan terima kasih, karena bukan itu tujuan kebaikan. Kalau terucap tanda akhlak yang baik dari si penerima, ingat ucapan itu untuk Allah, bukan untuk kita

Tak mudah ya?

Di bawah ini adalah doa Abu Bakar Ash Shidiq saat menerima pujian:

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] 


(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah)

Dan bagi orang lain, murahlah dengan apresiasi terhadap proses agar orang tahu proses yang dilakukannya baik dan bermanfaat, namun jangan berlebihan dan jangan takjub pada hasil. Ingat bahwa hasil adalah murni karunia Allah. Pujilah ia dengan mendoakannya. 

Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, maka hendaklah dia mendo’akannya agar diberikan keberkahan kepadanya.” (HR. Malik II/716 : 2, Ahmad 447) 

Apresiasi tetap penting, tapi jaga kadarnya. Kaitkan selalu dengan Allah, pujilah Allah melalui kebaikan orang lain.

Jangan jerumuskan orang dengan rasa sombong itu. Kasihani mereka, apalagi kalau mereka tak mampu menahan serangan pujian yang lebih mematikan dari senjata api. Tanpa mereka sadari mereka terlena dibuatnya.
💐💐💐

Terima kasih untuk Mozaika yang menginspirasiku menulis hal ini melalui ulasan hadits sahih nya yang disampaikan pada group YKM FEUI.

Doa Abu Bakar dari: rumaysho.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s