Kita tak punya hak untuk sombong, atau merasa lebih baik. Hati-hati karena salah setan hanya satu: sombong


Sahabat, Iblis itu Muslim, sangat pandai dan ada sebelum manusia diciptakan. Kesalahan Iblis yang membuatnya harus mendekam di neraka selamanya hanya satu: ia sombong. Itu saja. Allah mengatakan sombong menjauhkan kita dari surga. Selama ada bibit sombong dalam hati, jangan mimpi masuk surga. Jadi penting sekali kita terus deteksi bibit sombong dalam hati.

Sombong adalah penyakit hati yang sangat sulit dideteksi. Benihnya sering muncul tanpa kita sadari. Ada beberapa jenis sombong:

  1. Secara materi: lebih kaya, ganteng, cantik, terhormat
  2. Secara intelektual: lebih pintar, merasa paling benar, paling cerdas, paling tahu, paling berwawasan.
  3. Sombong kebaikan: lebih suci, lebih taat, lebih relijius, lebih dermawan, lebih bermoral, bersusila, lebih tulus

Makin tinggi tingkat kesombongan, makin sulit kita deteksi. Sombong kebaikan sangat halus dan lebih sering membuat orang jumawa. Dengan mudah kita bisa merendahkan orang karena tidak serajin kita shalat, tidak pernah terlihat sedekah, atau tidak ikut ODOJ.

Coba lihat beberapa kalimat ini:

“Kalau tidak ikut pengobatan ini, pasti mati.” Maaf.. umur manusia di tangan Allah.

“Potong leher saya, pengobatan alternatif yang belum teruji itu metode abal-abal. Mana mungkin bisa sembuh.” Maaf, kesembuhan ada tangan Allah. Selama kita tidak musyrik, bisa saja yang belum teruji secara klinis menjadi alat penyembuh kita dari Allah.

“Aku sudah 16 tahun belajar dan tidak pernah ada pengobatan kanker seperti itu. Itu pasti bohong.” Maaf, lamanya belajar belum menjamin Allah berikan semua ilmu pada kita. Bisa saja orang lain mendapatkan sesuatu yang tidak kita dapatkan. Itu rejeki Allah baginya yang tidak perlu kita gugat.

“Tahu apa dia?” Maaf, siapa tahu dia lebih banyak tahu daripada kita.

“Dia itu kafir, tidak pernah shalat.” Maaf, mungkin ia shalat tanpa kita tahu, dan mungkin di akhir hidup ia lebih dekat pada Allah daripada kita.

“Aku sudah belajar setinggi ini, mana mungkin dia yang tidak sebanyak aku pendidikannya bisa lebih tinggi jabatannya, dan lebih kaya daripadaku?” Maaf, rejeki di tangan Allah, bukan ditentukan oleh lamanya pendidikan.

“Suamiku tak berarti. Aku yang bekerja menghidupi keluarga.” Maaf, bisa jadi rejeki bagi istri itu adalah bagian suami, diberikan Allah pada kita sebagai ujian, apakah kita mampu sabar dan adil, tanpa menyakiti hati suami. Tanpa suami belum tentu rejeki itu mampir pada kita.

“Istri tak tahu diri. Kalau kutinggalkan, mau hidup dari mana? Punya apa?” Maaf, rejeki tidak datang dari suami. Allah Maha Mencukupi.

Semua pujian hanya bagi Allah. Tak ada hak bagi kita untuk sombong sedikitpun. Kita hanya bisa merunduk, sujud, menjadikan diri hanya sebagai medium. Semua kebaikan yang menjadi hasil karya kita bisa terjadi hanya karena Allah, tidak bisa kita claim. Semua rejeki pun bukan hanya karena kita bekerja, ada juga kontribusi Ibu yang selalu berdoa, bapak yang selalu meminta, pimpinan yang juga memohon, pekerja lemah yang tawadlu, yang rejekinya dititipkan melalui kita. Bukan karena kita, bukan alasan yang bisa menjadikan kita sombong.

Hati-hati dengan benih sombong. Jaga hati, jaga mulut, jaga perbuatan. Jangan sampai ada yang sakit hati dan mendoakan kehancuran kita. Jaga jangan sampai di hari pembalasan kita tak mendapat jalan menuju rumah di surga. Sungguh rugi, sungguh tak berarti hidup kita, seindah apapun istana yang pernah kita tinggali di dunia, setinggi apapun jabatan kita, seperti apapun kekuasaan kita.

Karena hanya Allah yang bisa sombong, bukan kita.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s