Siti Hajar: kalau itu perintah Allah, ditinggal seorang diri bersama bayi pun tak apa, karena Allah pasti mencukupi


Sahabat,

Semoga kisah di bawah bisa membantu menghiasi hati kita dengan ikhlas tanpa batas, mengisi jiwa dengan ketenangan menerima apapun perintahNya tanpa kondisi.

Aamiin.

💦🌸💦🌸

Hajar protes. Mengapa suaminya meninggalkannya dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi putra. Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran.

Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?” Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua terkesiap. 

Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!”

Hajar berhenti mengejar. dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang memgagetkan semua, malaikat, butir pasir dan angin. 

 “Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.” 

Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. 

Peristiwa Hajar dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan. Itulah ikhlas.
Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak.
Ikhlas adalah kepasrahan bukan mengalah apalagi menyerah kalah.
Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilh patuh dan tunduk.
Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dan semua yang engkau cintai.
Ikhlas adalah memilih jalanNya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain.
Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa.
Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengalkulasi hasil akhir.
Ikhlas tak pernah berhitung.
Ikhlas tak pernah pula menepuk dada.
Ikhlas itu tangga menujuNya.
Ikhlas itu mendengar perintahNya dan menaatiNya.
Ikhlas adalah ikhlas.
Titik.

“Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari diamnya Hajar dan perginya Ibrahim?”
Dan aku, kamu, serta kita….semuanya tertunduk pasrah bersama Malaikat, butir pasir dan angin. 

Tabik,

Nadirsyah Hosen

*meng-Hajar-kan pertanyaan, meng-Ibrahim-kan jawaban*

8 Zulhijah 1437H

💦🌸💦🌸

Peristiwa yang sangat indah ini sengaja Allah abadikan melalui air zam-zam, hadiahNya bagi Sang Ibu sholehah yang Ikhlas ditinggal bersama bayi mungil Ismail as di tengah gurun pasir kosong tanpa penghuni.

Dengan zam-zam Ismail minum dan dengan zam-zam banyak musafir yang lewat menetap untuk beristirahat.
Dengan zam-zam tempat itu perlahan-lahan tumbuh menjadi pusat peradaban baru.
Dengan zam-zam lah padang pasir bisa menjadi sebuah kota yang ramai dikunjungi, Mekah Al Mukaramah.

Zam-zam adalah bukti Allah mencukupi Hajar dan Ismail
Zam-zam adalah bukti Allah menepati janji dan selalu bisa dijadikan sandaran, bahwa semua rizki sumbernya dari Allah. Jangan pernah takut mengikuti jalanNya, seperti Hajar yang tak takut ditinggal di padang pasir bersama bayinya, karena ia tahu Allah akan menjaganya.
Jangan pernah menghalalkan yang haram karena takut yang halal akan “seret” dan “tidak cukup.” Malah nanti kita terseret dalam hidup yang tidak berkah dan jauh dari lindunganNya.
Jangan pernah merasa dijerumuskan Allah dan ditimpa berbagai musibah kekurangan, ditinggal dalam jurang kebingungan dan kehampaan. Selama kita mendekat padaNya, selama kita jalani semua perintahNya dan hindari semua laranganNya, insya Allah kita ada dalam penjagaanNya.

Jadi,
apakah arti kisah Hajar di atas – khusus bagi sahabat?

Bukan kebetulan kisah ini dibaca sahabat. Apa yang Allah coba katakan melalui kisah ini, detik ini, dalam kondisi ini, khusus pada sahabat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s