Membuat orang tergantung pada kita itu dosa, lho


Renungan pagi hari..
Ada pesan dr. Hanson (di Hanara) yang melekat sekali di otak saya: 

“Kalau sampai kita buat orang tergantung pada kita, kita dosa lho. Manusia itu hanya boleh tergantung pada dirinya sendiri dan Allah.”

Benar banget. 

“Membantu” lebih mudah dan cepat daripada “membangun.”

“Membantu” itu seperti terapis yang menyelesaikan masalah, yang diterapi happy, tapi tidak tahu bagaimana ia bisa menyelesaikannya sendiri. Padahal ia punya potensi menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Membangun” itu seperti coach, yang harus lebih putar otak bagaimana membantu seseorang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Sehingga is tak akan pernah lagi membutuhkan si coach. Ia sudah bisa selesaikan masalahnya sendiri. Kalaupun ia datang ia akan datang dengan masalah yang lain. Dan sebagai coach kita kembali membantu agar ia bisa selesaikan lagi SENDIRI masalah itu.

Jauh-jauh hari aku tetapkan aku tak mau “membantu” karena aku tidak mampu. Waktunya tidak ada juga. Berapa banyak orang yang bisa dibantu secara langsung tiap hari? Tapi kalau kita “membangun” tiap orang Insya Allah hanya harus datang sekali, dan Insya Allah bagus kalau tidak datang-datang lagi, karena mereka sudah bisa mandiri. Insya Allah lebih banyak hasilnya.

But it’s a lonely place up there. Ego harus sangat ditekan.

Saat kita “bantu” orang dan orang happy, bilang terima kasih, menganggap kita pahlawan, kita happy. Makin sering dia ke kita, kita makin happy dan merasa dibutuhkan. Dan aku amati banyak orang yang menikmati hal itu. Banyak yang dengan bangga bilang, “Kalau dia ada apa-apa pasti ke saya.”

Banyak pula orang yang berharap kita menjadi seperti itu, jadi “dewa penolong” yang bisa mereka andalkan. Dan itulah yang dicari ego kita. Ego. Bukan jalan surga.
Ga gampang menekan “kebutuhan untuk dibutuhkan” seperti itu. 

Ga gampang pula membangun kesadaran bahwa mandiri itu lebih baik bagi mereka daripada harus bolak balik datang ke kita.

Ga gampang … Asli. Tapi Insya Allah ini lebih dekat surga dan bebas dosa, dari menciptakan kemelekatan terhadap diri kita. 

Hal ini yang harus dikikis Iedul Adha kemarin, bukan?

Dan itulah yang kita butuhkan… Jalan surga. Bukan ucapan terima kasih, bukan bakti anak pada kita, bukan ketergantungan orang lain pada kita.

Terima kasih, bakti, itu semua urusan mereka dengan Allah. Bukan urusan kita. Saat kita bantu mereka bisa bersyukur, bukan untuk kita, bukan untuk ego kita, tapi untuk kebaikan mereka. 

Phew…. What a challenge. Thanks for the challenge, doc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s