Skip to content
Advertisements

Suami istri jangan berdagang dalam rumah tangga. Tutup dulu warungnya. Kasih saja tanpa pamrih


Banyak suami istri menjadi pedagang paling hebat di dunia, justru saat mereka ada di rumah. Betapa tidak, mereka pandai sekali berdagang dengan pasangannya.

“Tiap pagi kusediakan teh manis, tak pernah kurang pelayananku untuknya, kok bisa-bisanya ia selingkuh?”

“Aku sampai mengubah semua kepribadianku untuk bisa menyesuaikan diri untuknya. Tapi masih saja ia jahat padaku.”

“Aku selalu perhatian padanya. Tak pernah kurang. Tapi kok ia begitu padaku ya. Huuuuh.”

“Aku begini, jadi ia harus begitu.”
Inilah dia transaksi di rumah.
Suami istri yang jago berdagang,
Menjual kasih sayang dan pengorbanan untuk mendapat perlakuan yang baik.
Pantas kan?
Layak dong?
“Harganya pas” begitu kira-kira secara implisit kita katakan.

Itu mau kita. Itu pendapat kita.
“Harganya sudah pas.”

Tapi apakah Allah berpendapat sama?
Mungkin Allah tidak sependapat.
Mungkin menurut Allah masih banyak yang harus kita buktikan.
Karena urusan dengan Allah bukan hanya urusan dengan suami atau istri kita.
Allah ingin memasukkan kita ke surga.
Tapi Allah butuh kita buktikan bahwa kita layak masuk surga.
Bahwa kita cinta Allah lebih dari cinta pada makhluk manapun.
Bahwa kita hanya melekat pada Allah, dan bukan pada makhluk.
Bahwa Allah adalah selalu nomor satu dalam hati kita, bukan pasangan kita.
Bahwa kita percaya penuh padaNya, prasangka baik terhadapNya, bahwa semua yang diberikanNya adalah baik, termasuk pasang kita, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Bahwa kita selalu tulus berbagi, tak berhitung denganNya
Karena pemberianNya pada kita pun tak bisa kita hitung.
Berbagi pada pasangan atas namaNya, sebagai khalifahNya, untuk mendapat ridloNya. Bukan untuk yang lain.

Jadi perdagangan kita tidak laku di mataNya.
Harga yang kita bayar belum cukup di mataNya.
Karena suami istri kita pun hanyalah alatNya memberikan karunia berupa ujian agar bisa masuk surga.
Dan kebaikan, keikhlasan kita melayani dan memberi, tak berhubungan dengan apa yang pasangan kita lakukan, tapi berhubungan dengan rasa syukur kita terhadap semua nikmatNya yang tak terbatas.
Pelayanan kita pada pasangan adalah wujud ibadah kita untuk mendapat ridloNya, lebih dari sekedar mendapat perhatian pasangan.

Jadi suami, istri, jangan berdagang dalam rumah.
Karena urusan kita nomor satu sesungguhnya adalah dengan Sang Maha Pencipta, bukan dengan pasangan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: