Catatan Umrah 7: seberapa layak impian kita mendapat ridloNya?

    

Akhirnya berakhir sudah perjalanan umrah kami kali ini. Umrah kali ini membantuku untuk lebih banyak bermimpi, membangun cita-cita, mempersiapkan hari akhirku.

Rasanya dosa, kesalahan, kesia-siaan dan berbagai hal yang tidak sejalan dengan ridlo Allah sudah banyak sekali kulakukan. Saatnya untuk benar-benar fokus pada apa yang Allah inginkan saat menciptakanku puluhan tahun lalu. Purpose in life.

Madinah dan Mekah dibangun dari ketaatan dan kecintaan Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, Nabi Muhammad saw, para sahabat dan keluarganya terhadap Allah swt. Cinta dan taat datang lebih dulu. Ikhlas, syukur dan doa melengkapi resep sukses adanya dua kota yang menakjubkan ini. Semua yang dibutuhkan kemudian akan datang menyusul. Dana, para pemimpin, dukungan, dan berbagai sumber daya yang dibutuhkan akan diberikan semua oleh Allah swt. LOA atau Law of Allah, the secret, kunci sukses keberhasilan karuniaNya, semua sama saja.

Sahabat, 

Yuk kita renungkan kembali tentang tujuan hidup kita, tujuan Allah menciptakan kita sekian puluh tahun lalu. Tanya dulu ke lubuk hati paling dalam:

  • Apakah yang kita cintai? Yang ingin kita dedikasikan dalam hidup ini?
  • Apakah hal yang Allah berikan unik pada kita dan tak banyak diberikan pada orang lain?
  • Apa yang sangat dibutuhkan orang lain yang dapat kita berikan?
  • Apa yang orang lain butuhkan dari kita dan bisa kita berikan dengan baik, sepenuh hati, dengan gembira?
  • Dari semua jawaban di atas, kira-kita dalam hal apakah kita bisa menjadi wakilNya menyalurkan kasihNya di atas muka bumi ini?

Setelah itu ketemu coba tanya, kenapa hal itu penting?

  • Penting bagi diri kita, terkait dengan apa yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapanNya saat kita dipanggil nanti?
  • Penting bagi kita, kebahagiaan kita, kepuasan hidup dan pencapaian diri kita?
  • Penting bagi kita, dalam penyaluran hobi, passion, kecintaan kita terhadap apa yang dapat kita lakukan dengan sangat baik (what we do best)?
  • Bagi siapa lagi hal itu penting? Dan kenapa? Keluarga? Masyarakat sekitar? Indonesia? Kenapa penting bagi mereka semua?

Coba bayangkan, rasakan, kalau impian dan cita-cita tersebut tercapai, apa rasanya? Apa yang akan orang katakan? Apa yang akan kita katakan pada diri kita sendiri?

Rasakan cinta yang tercurah dalam setiap imajinasi di atas. Apa rasanya? Apa artinya Impian  – atau perwujudan cinta kita – bagi semua yang kita cintai, yang kita bayangkan di atas?

Apa hal terkecil, yang ada dalam kontrol kita, yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya?

Apa lagi selanjutnya?

Selengkapnya, apa saja yang bisa kita lakukan sampai semua impian tersebut terwujud?

Kirimkan cinta pada semua rencana tersebut. Feel the love. Bayangkan lagi, kenapa semua rencana itu penting? Kenapa semua rencana ini adalah wujud cinta Allah yang dapat diwujudkan menggunakan badan, pikiran dan jiwa kita? Kenapa rencana ini layak mendapat ridloNya?

Bagaimana kita dapat libatkan Allah dalam setiap langkah kita? Bagaimana kita bisa menghadirkan karunia dan berkahNya dalam impian kita?

Seberapa bersih kalbu kita untuk bisa membaca petunjukNya?

Seberapa banyak kita sudah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya?

Seberapa banyak kita isi semua detik kita dengan cintaNya dan menghalau energi negatif yang menghalangi cintaNya?

Tak ada yang tak mungkin untuk Allah, semua tergantung keridloanNya. Sekarang tinggal seberapa layak impian kita mendapat ridloNya? Dan bagaimana kita bisa terus meminta ridloNya?

Ingat, kita semua punya batas waktu di muka bumi untuk mewujudkan tujuanNya menciptakan kita di muka bumi sebagai wakilNya menciptakan kebaikan dan mencegah keburukan/kemunkaran.

Rajin-rajinlah bertanya. Inilah metode self coaching yang saya pelajari di The Arts and Science of Coaching, di bawah bimbingan Mbak Lyra Puspa. Insya Allah pertanyaan-pertanyaan ini bisa membuka potensi terdalam dari dalam sanubari kita.

Bismillah… Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.


Gambar: pemandangan kota Mekah dari gua Hira, tempat Rasulullah saw merenung mengenai kota Mekah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s