Catatan umrah 6: Tak ada impian yang terlalu tinggi selama kita sertakan Allah

  
Pagi ini kami mendaki Jabal Nur untuk napak tilas perjalanan pencarian pencerahan Rasulullah saw di Gua Hira. Saat kami tiba di kaki Jabal Nur, kami langsung melihat ke atas. Wow… Tinggi sekali. Aku sempat membatin, bisakah kami semua mendaki ke atas? Belum lagi Hana, bagaimana dengan Hana?

Kutetapkan bahwa bagi Allah tak ada yang tak mungkin. Doa kupanjatkan agar kami mendapat ridloNya untuk mendaki. Setiap langkah aku mengucap “la hawla walla quwwatta illa billah,” tiada pertolongan selain pertolongan Allah. Kusertakan Allah setiap detik selama perjalanan itu. Dan tak ada lagi rasa gentar sedikitpun karena aku yakin Allah menyertai kami.
Ternyata benar, Hana melesat cepat sekali ke atas. Tak terlihat ia lelah sama sekali. Saat melintas ke dalam celah-celah gua dan batu, di mana banyak orang berdesakan di tempat yang sangat sempit, sempat pula aku berfikir, bagaimana Hana? Bagaimana kalau tergencet? Sekali lagi, tak ada pertolongan tanpa pertolongan Allah. Alhamdulillah semua beres.

Aku membayangkan Rasulullah dulu mau capek-capek naik ke gunung ini untuk merenungkan strategi mengeluarkan  masyarakat Kota Mekah dari kemaksiatan. Cintanya yang besar pada Mekah membuatnya mau berlelah-lelah naik dan merenung di sana.

Aku pun membayangkan Khadijah yang bolak balik membawakan makanan untuk suami tercintanya. Apalagi kalau bukan cinta yang mampu membawanya ke sana.

Mengingat semua itu aku makin bersemangat. Aku hanya fokus dari satu langkah ke langkah berikutnya. Setiap kali kami melihat ke atas memang rasanya jauh sekali. Tapi dengan fokus hanya satu langkah demi satu langkah, tanpa terasa puncak Jabal Nur dapat dicapai.

Hebat?

Tidak sama sekali. Karena ini semua bukan karena kami hebat. Allah lah yang membuat kami tak takut, dan akhirnya sukses naik ke atas. When you are a zero, Allah will become your hero. Buang jauh-jauh rasa bahwa ini prestasiku semata. Sama sekali bukan.

Allah bisa saja menerbangkanku dalam sekejap kalau Allah mau. Tapi apa yang dapat dipelajari kalau semua dicapai semudah itu? Memang Allah mau aku melangkah, lelah, dan belajar dari setiap tetes keringat yang mengucur.

Demikian juga impian kita. Bermimpilah setinggi mungkin untuk bisa berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Fokuslah selangkah demi selangkah. Sertakan Allah dalam setiap langkah. Seaungguhnya impian tersebut pun bisa hadir atas izinNya. Jadi jangan takut. Selama semua ada dalam jalanNya, Allah akan selalu mendampingi.

Jalan menuju puncak memang sangat sulit, penuh liku dan batu. Memang demikianlah Allah sediakan agar kita belajar dan tumbuh menjadi lebih besar dan bijaksana. Bersyukurlah atas segala batu dan halang rintang yang ada. 

Tak tanggung-tanggung dalam perjalananku, aku diberinya kanker. Dan sungguh aku sangat bersyukur. Justru kanker lah yang membuat aku bisa melihat jelas puncak gunung yang kutuju.

Jadi apakah Puncak Gunung impianmu? Kalau sampai tiba hari akhirmu, dan Allah bertanya, “Apa yang sudah kaubuat untukku?” Kira-kira apa jawabannya? Sesulit apa dari 1-10 gunungmu ini untuk dicapai? 

Apa saja langkah yang perlu ditempuh? Bagaimana agar kita bisa menjaga komitmen? 

Seberapa penting puncak gunung ini bagimu? Bagi keluarga? Bagi Indonesia?

Dan bagaimana kita dapat terus sertakan Allah sepanjang perjalanan?

Sejauh mana impian ini dapat menjadi wujud cintaNya bagi makhlukNya di muka bumi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s