Catatan Umrah 4: Tinggalkan warisan bagi dunia, landasi dengan cinta dan taat padaNya

  

Alhamdulillah kamar hotel kami dalam perjalanan umrah ini sangat indah pemandangannya. Kami bisa melihat kabah dan bukit-bukit batu sekitarnya.

Pikiranku pun mengembara ke masa-masa Nabi Ibrahim as datang pertama kali ke tempat ini meninggalkan Bunda Hajar dan bayi Ismail as. Meninggalkan istri dan anak yang masih bayi di tengah padang pasir tak berpenghuni, jauh dari peradaban apapun.

Mungkin orang dulu bilang Nabi Ibrahim as gila, tidak masuk akal, bodoh, tidak waras, “ga make sense.”

Manusia waras mana yang mau melakukan itu?

Kemudian setelah Ismail dewasa diajaknya pula membangun kabah untuk menjadi pusat peribadatan. Kegilaan selanjutnya, sekali lagi tak masuk akal.

Belum lagi kejadian kurban. Lebih gila, sadis, tak berperi kemanusiaan.

Tapi Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as bukanlah dua manusia gila. Mereka sama sekali tidak bodoh. Sebaliknya mereka punya kecerdasan yang manusia lainnya tidak miliki. Mereka sangat cerdas secara spiritual. Mereka penuh cinta pada Sang Maha Cinta. Kecintaan yang berbuah keintiman, kedekatan dan ketaatan tanpa batas. Mereka sangat faham akal manusia amat sangat lemah dan akal Allah tak berbatas. Mereka bukannya bodoh, tapi mereka terlalu pintar untuk membatasi diri hanya dengan menggunakan akalnya.

Nabi Ibrahim as adalah seseorang yang amat sangat kritis. Ia terus mempertanyakan “tuhan” yang disembah ayahnya dan kaumnya. Tapi setelah ia temukan Tuhan yang sesuai dengan konsep ketuhanannya ia pun jatuh cinta dan taat penuh.

Ditinggalkannya Bunda Hajar dan bayi Nabi Ismail as berbuah keluarnya air zam-zam yang menjadi suguhan istimewa Allah bagi semua tamuNya. Air alkali natural yang menangkap energi doa para jemaah yang tak putus-putus. 

Kabah kini terbukti menjadi pusat peribadatan paling ramai di dunia yang tak pernah tidur. Inilah warisan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail buah taat pada Sang Pencipta yang dulu dianggap tak masuk akal.

Peristiwa kurban sampai sekarang menjadi hari raya Islam yang diperingati oleh Muslim sedunia, mengingatkan kita akan makna ikhlas, taat dan penyerahan diri total.

Kegilaan yang mungkin dihujat banyak orang berbuah sangat manis, menjadi warisan tak ternilai harganya.

Mungkin banyak hal yang kita lakukan tak difahami orang lain, dihujat atau dicela. Selama kita yakin yang kita lakukan baik, berpeganglah hanya padaNya. Libatkan Allah. Jangan sampai terhambat hanya karena celaan orang lain.

Nabi Ibrahim juga mendasari semua dengan cinta luar biasa. Kabah tak membawa keuntungan sedikitpun baginya. Hanya lelah, celaan dan jauh dari keluarga. Tapi kabah membawa nikmat besar bagi kita semua yang hidup jauh setelah beliau meninggal.

Lakukan semua dengan cinta. Cinta padaNya, cinta pada umatNya, cinta pada semua orang yang akan menikmati hasilnya. Jangan hanya berfikir kepentingan jangka pendek atau untuk diri sendiri. Tinggalkan warisan untuk dunia. Insya Allah segalanya yang kita niatkan untuk membawa manfaat bagi umat manusia setelah kita meninggal akan menjadi amal jariah, pembawa kebaikan dan pertolongan selama di akhirat.

Suatu hari, saat kita tinggal nama, nama ini insya Allah akan harum abadi. Bila tidak di dunia, Allah akan jaga harumnya di akhirat. Dan inilah yang paling penting, lebih dari segala kenikmatan dunia manapun.

Aamiin yra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s