Skip to content
Advertisements

Catatan umrah 3: jangan mengeluh, karena setiap kekurangan adalah kesempatan berkarya. 

Hari ini kami mengucap selamat tinggal pada Madinah Al Munawarah, kota suci tempat tinggal Rasulullah saw. Entah kapan lagi Allah undang kami kembali ke sini.

Selain ibadah tak putus-putus di Masjid Nabawi, ibadah Madinah selalu diwarnai dengan dua dinamika unik, khas Madinah: berdesakan memasuki Masjid Quba, dan berdesakan di Raudlah.

Masjid Quba adalah masjid pertama yang Rasulullah saw dirikan begitu beliau tiba di Madinah, yang saat itu masih bernama Yastrib. Saat rombongan tiba dan beristirahat seorang sahabat berkata, “Alangkah baiknya kalau ada masjid di sini.” Rasulullah saw pun mengaminkan dan mulai membangun sebuah masjid bersama-sama dengan para sahabat.

Seseorang yang meninggalkan rumah dalam kondisi suci dan melaksanakan dua rakaat di Masjid Quba akan mendapatkan pahala seperti pahala Umrah. Maka tak pernah kita melalui Madinah tanpa hadir dan shalat di Masjid Quba.

Bagi jemaah perempuan, pintu menuju Masjid Quba tidak terlalu besar. Tak ada sistem yang membuat para jemaah masuk dengan tertib. Yang masuk dan keluar seringkali bertabrakan sambil berdesak-desakan.

Kemarin sempat hatiku tercekat melihat Hana kecil tenggelam di antara badan jemaah lain yang tinggi besar. Aku tak ikut masuk karena masih haid. Dari pintu masjid aku terus berdoa La hawla walla quwatta illa billah, tak ada pertolongan selain pertolongan Allah. Saat Hana muncul lagi aku langsung memeluknya. Alhamdulillah.

Di Raudlah lebih-lebih lagi.

Jam 9 malam aku sudah siap berdiri di pintu 3, khusus untuk jemaah Melayu. Tiba-tiba semua berlari ke sebuah pintu, mungkin ada dugaan pintu itu terbuka. Penjaga pintu 3 sudah melarang semua orang berlari namun apa daya semua orang berlari bak air bah. Padahal tak ada pintu yang terbuka. Kami pun kembali menunggu. Tiba-tiba pintu benar-benar terbuka. Air bah manusia tumpah masuk ke dalam masjid berlari menuju Raudlah.

Siapa cepat dia dapat. Aku hanya berjalan cepat tanpa ingin mengejar mereka yang sprint. Alhamdulillah masih bisa mencapai karpet hijau Raudlah dan bersimpuh menyampaikan salam di depan makam Kanjeng Rasul. Aku hanya sempat bersimpuh membawakan berbagai titipan doa di sini, karena Rasulullah berkata bahwa tempat ini adalah tempat makbul berdoa.

Jemaah tak berhenti masuk memadati ruangan. Aku sedang fokus konsentrasi bersimpuh dengan doaku, saat seorang ibu terjerembab di atas tubuhku. Berat nian. Ia bangkit dan menciumiku. Kucium pula tanganya. Tak berapa lama kemudian ada lagi badan besar menimpa badanku yang sedang bersimpuh. Betapa bersyukurnya aku Hana tidak ikut.

Aku tak sempat membacakan semua titipan doa, baru juga setengah yang kubaca, tapi tanda-tandanya aku harus segera pergi.

Saat aku berjalan meninggalkan tempat suci itu aku membatin, apakah tidak bisa ada sistem yang mengatur agar beribadah bisa lebih tertib? Agar para jemaah tak perlu sprint, berdesakan, saling timpa dan mendorong?

Baik d Baqi maupun di Raudlah ibadah tak perlu membahayakan, bukan?

Mungkin inilah bagian kita, umatNya, untuk turun tangan berkontribusi melayani jemaah di sini. Kalau pelayanan visa di bandara saja bisa tertib, mengapa beribadah harus berdesakan? Jumlah pendatangnya pun sama banyaknya.

Saat kutinggalkan Masjid Nabawi, kulempar doa kepadaNya, terima kasih atas adanya celah dan kekurangan, karena dari sanalah kita bisa ikut berkontribusi. Kalau semua sudah sempurna apa lagi yang bisa kita kontribusikan? Sekedar mengeluh, mengkritik, menggerundel, apalagi marah-marah tak akan membawa keadaan menjadi lebih baik. Malah tubuh kita menjadi lebih sengsara. Berdoa, niat baik, menulis dan melempar ide bisa membawa hasil dan berpahala.

Aku tak tahu apa yang bisa kulakukan, kapan, bagaimana, dan dengan siapa. Pokoknya aku mau melayani umat. Biar Allah yang mengatur, diawali dengan tulisan ini.

Sampai saat itu terjadi aku akan terus mensyukuri dan mengenang dinamika desak-desakan, didorong dan ditimpa sebagai salah satu bagian dari uniknya ziarah dan ibadah. Pasti ada hikmah di baliknya. Suatu hari nanti belum tentu hal ini ada lagi, mungkin ini bisa jadi cerita bagi cucuku kelak.

Alhamdulillah atas semua celah, ya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: