Catatan umrah 2: Syukurilah segala kekalahan sebagai bentuk cinta kasihNya 

  
Hari ini kami berkeliling Madinah, dan kembali berkunjung ke Bukit Uhud. Ada cerita yang luar biasa penting di balik bukit tinggi dan kokoh ini. Cerita yang perlu kita pelajari dan ambil esensinya, untuk belajar dari kisah kekalahan.

Bukit Uhud adalah lokasi peperangan setelah Perang Badar. Umat Muslim mengalami kemenangan luar biasa di Perang Badar. Maka Kaum Kafir Mekah saat itu pun belajar bagaimana mengalahkan Rasulullah saw.

Rasulullah saw, pimpinan dan ahli strategi perang yang sangat piawai, memperhitungkan hal tersebut dan diaturnya strategi kemenangan kedua. Ada Bukit Rumat yang ditetapkan beliau sebagai tempat para pemanah yang harus siap sedia menerima sinyal memanah, tak boleh turun bukit apapun yang terjadi.

Peperangan berjalan sesuai dengan strategi awal. Rasulullah dan pasukannya menang dengan kemenangan gemilang. Pasukan lawan dibuat kocar kacir. 

Saat itulah pasukan pemanah yang gembira tiba-tiba melihat berbagai hal yang dapat menjadi rampasan perang di depan mata kepala mereka. Mengetahui bahwa mereka menang, saat itu mereka tak lagi merasa perlu mematuhi perintah Rasulullah saw. Mereka bergegas turun berlari turun. Saat itulah pasukan lawan dipimpin Khalid bin Walid muncul dari balik bukit dan melancarkan serangan kembali. Para pasukan pemanah yang sudah disiapkan menghadapi serangan seperti ini tak lagi bisa menahan serangan. Hal inilah yang menjadi sebab kalahnya pasukan Rasulullah saw saat itu.

Allah menentukan bahwa sampai hari ini Uhud lah yang menjadi tempat para jemaah haji dan umrah berkunjung, bukan lokasi perang Badar. Artinya ada sesuatu di balik kejadian kekalahan ini yang Allah ingin kita ambil pelajarannya, antara lain:

1. Cinta dunia dapat membawa kekalahan 

Kemenangan di depan mata, namun harta benda membuat para pasukan lupa akan komitmen mereka. Kemenangan pun tinggal harapan. Mengejar harta membawa kekalahan yang merenggut nyawa banyak orang.

Hati-hatilah dengan harta yang menggiurkan. Jaga komitmen terhadapNya. Dunia adalah tempat mengambil bekal untuk hidup berikutnya. 

2. Patuhi dan percaya pada pimpinan 

Kadang pimpinan punya rencana yang belum tentu bisa kita fahami. Jagalah komitmen team dengan menjaga kepatuhan terhadap pimpinan. Percayalah pada pimpinan.

Pesan ini kusampaikan pada Hana sebagai pesan “patuh pada orang tua.” Dan bagi para istri, ingatlah bahwa suami adalah pemimpin kita di rumah.

3. Komitmen pada kepentingan bersama 

Pada saat pasukan pemanah turun mengejar kepentingan pribadi dan lupa pada kepentingan bersama, saat itulah mereka dikalahkan. Mereka harus membayar dengan nyawa.

Sering kita tak sadar, mengejar kepentingan pribadi dengan melupakan komitmen pada kepentingan bersama seringkali berarti bunuh diri dalam jangka panjang.

4. Kekalahan adalah pensucian diri 

Kemenangan dan kesuksesan berulang kali seringkali membuat manusia lupa, sombong dan takabur. Dan seringkali manusia harus kalah untuk tetap rendah hati dan terjaga komitmennya pada Allah.

Syukurilah berbagai kekalahan, benturan dan kesulitan, karena ternyata semua itu menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

5. Jangan takut kalah 

Jangan pernah takut kalah atau salah. Banyak hikmah di balik kekalahan. Kalah dan salah adalah bukti bahwa kita melakukan sesuatu. Kalah dan salah berarti kita melakukan sebuah kemajuan, karena kini kita tahu apa yang harus kita hindari. Keberhasilan membutuhkan kekalahan dan kesalahan. 

Kesalahan dan kekalahan sesungguhnya adalah ketakutan untuk salah dan kalah. Ketakutan inilah yang menjauhkan kita dari kemenangan di akhir ujung jalan dengan tidak berbuat apa-apa dan diam di tempat.

6. Kekalahan adalah jalan menuju kemenangan 

Inilah yang dilakukan Khalid untuk bisa menang di Uhud. Inilah juga yang membuat Allah menetapkan Uhud sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi jemaah haji dan umrah, agar kita belajar menang dari kekalahan.

Banyak jalan yang kita bisa tempuh. Tak semuanya berujung pada menang. Tak ada jalan lain, kita seringkali harus mencoba jalan itu satu persatu. Dan mereka yang sudah mengalami kekalahan perlu berbagi pelajaran meniti jalan yang salah tersebut, agar orang lain dapat turut belajar darinya.

Jangan merasa nista belajar dari mereka yang salah dan kalah. Mungkin hal itu bisa menyelamatkan kita dari kekalahan dan kesalahan serupa, agar bisa menang lebih cepat.

7. Kekalahan adalah jalan kenaikan derajat 

Untuk menempatkan hambaNya pada tempat yang tinggi Allah selalu memberikan ujian, antara lain kekalahan.

Kekalahan adalah momentum yang harus kita syukuri karena inilah kesempatan bagi kita membuktikan diri bahwa kita mampu bangkit dan menjaga komitmen padaNya.

8. Kekalahan adalah momentum menemukan kawan dan lawan

Saat kita menang selalu, kita tak pernah tahu siapa kawan dan lawan. Saat kita jatuh dan kalahlah kita bisa membedakannya. 

Jadi, Allah menetapkan Uhud sebagai momentum kekalahan yang lokasinya dikunjungi terus sampai hari ini, bukan tanpa sebab. Banyak sekali hikmah yang dapat kita pelajari di balik kekalahan di Uhud.

Kekalahan adalah juga bukti cintaNya pada kita. Syukurilah, belajar darinya dan kejarlah kemenangan sejati: ridlo Allah pada hidup kita sebagai bekal di akhirat nanti.

Semoga kita semua dapat menjadi pemenang-pemenang bagiNya di hari akhir nanti. Aamiin yra.

Referensi:

– Lessons from the Battle of Uhud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s