Cinta itu menerima apa adanya, tak menuntut, tak mengekang 


Seorang Ibu stress menangis berulang kali, saat anaknya hanya diterima di sebuah fakultas di sebuah universitas di kotanya. Fakultas itu bukan fakultas impiannya, dan universitas itu juga bukan universitas kebanggaannya.

“Aku sangat cinta pada anakku, aku ingin ia dapat yang terbaik, apa yang bisa kubanggakan kalau ia sekolah di sana?” raung ibunya berkali-kali.

Sementara anaknya sangat menikmati ilmu baru yang memang digemarinya. Universitas ini memang bukan universitas terbaik di negeri ini, tapi ia cukup bahagia di sana.

Seorang ayah berkali-kali menolak pria yang melamar anaknya karena “tidak berkelas” lantaran bukan keturunan ningrat atau tak punya titel.

“Aku sangat mencintai anakku, aku tak rela anakku menikah dengan seseorang yang seperti itu. Mau hidup apa ia dengan pria-pria itu? Aku malu punya menantu seperti itu,” kata ayahnya berkali-kali. Sementara anaknya dengan pilu mulai merasa harus menerima nasib jadi perawan tua.

Benarkah mereka cinta pada anaknya?

Cinta membawa bahagia saat yang dicintai bahagia.

Cinta mendorong yang dicintai meraih harapan dan impiannya, bukan harapan dan impian yang mencintai.

Cinta menginspirasi untuk menemukan panggilan hidup yang dicintai, bukan menuntut untuk mengikuti harapan lain.

Cinta sadar bahwa semua manusia baik dan berharga, memiliki hidupnya, jiwanya dan keinginannya sendiri, tak perlu dipaksa untuk mengikuti jalan hidup lain.  

Cinta bisa membuka wawasan, tanpa memberikan keharusan.
Cinta menerima dengan penuh syukur, tanpa harus hancur karena yang terjadi bukan yang diharapkan.

Tapi memang ada ego yang selalu ingin dituruti.
Yang merasa segala sesuatu “harus begini dan harus begitu.”
Ego melekatkan impian yang tak tercapai pada impian orang lain. Dan kalau orang lain tak ingin mengejar impian itu, ia merasa hancur.
Ia tak merasa dirinya berharga sehingga ia butuh orang lain mencapai sesuatu untuk membuat dirinya berharga.
Ego melekatkan penerimaan diri pada hal-hal di luar diri. Ia merasa diterima saat hal-hal seperti titel dan harta itu ada. 
Saat satu hal saja berubah ia menjadi goncang. Ia tak mampu menerima dirinya sendiri apa adanya tanpa hal-hal tersebut.

Kita bisa menginspirasi
Tapi tak pernah bisa menuntut
Kita bisa menghargai dan mendorong
Tapi tak bisa membatasi jalan siapapun
Bermimpilah setinggi langit
Tapi jangan jadikan mimpi sebagai patokan penghargaan diri

Terimalah diri apa adanya.
Terimalah semua apa adanya.
Syukurilah segala ketentuanNya apa adanya.
Saat itulah kita akan bahagia.
Dan saat kita bahagia penuh syukur, semua keindahan bisa terjadi.
Saat kita memilih untuk menganggap semua kejadian sebagai mujizatNya dan menyampaikan puja puji atas semua yang terjadi, mujizat akan banyak menghampiri.

Terimalah apa adanya,
Syukurilah semuanya,
Karena inilah kunci datangnya impian yang tak pernah mampu kita impikan.
Hadiah dari Sang Maha Pemberi Impian bagi mereka yang mampu bermimpi dengan syukur dan suka cita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s