Skip to content
Advertisements

Kecukupan dan kebahagiaan itu bukan di jumlah, tapi di hati yang bersyukur

  
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan serbuk emas. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya, seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran serbuk emas itu baru akan berhenti, bila si petani mengucapkan kata “cukup.”

Seketika si petani terperangah melihat serbuk emas berjatuhan di depan matanya. 
Diambilnya beberapa ember untuk menampungnya. 

Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana. 

Kucuran emas terus mengalir, sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. 

Masih kurang ……

Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. 

Belum cukup ……
Dia membiarkan mata air itu terus mengalir, hingga akhirnya petani itu mati tertimbun. 

Ya, dia mati tertimbun bersama ketamakannya, karena dia tak pernah bisa berkata “CUKUP.”
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia, adalah “cukup” karena manusia selalu merasa kurang.

Kapankah kita bisa berkata cukup ? 

Hampir semua pegawai, merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.

Pengusaha, selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target. 

Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. 

Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. 

Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. 

Semua merasa kurang ……, kurang ……, dan kurang ……. 

Kapankah kita bisa berkata “cukup” ? 

Cukup, BUKAN soal berapa JUMLAHNYA. 

Cukup, adalah persoalan KEPUASAN HATI. 

CUKUP, HANYA BISA DIUCAPKAN OLEH ORANG YANG BISA BERSYUKUR. 

Tak perlu takut berkata cukup !
Mengucapkan kata cukup, “bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.” 

Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia berbahagia.

Diedit dari artikel kiriman Oyo di group Keluarga Bustami.

🌹🌻🌹🌻🌹🌻
“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” 

HR. Bukhari
Apakah yang bisa disyukuri hari ini?

Keluhan apa yang bisa mulai kita hentikan hari ini dengan menyatakan rasa syukur kita yang dalam atas segala nikmat dan karuniaNya?

Azab apa yang bisa menanti kita kalau kita terus mengeluh karena berbagai masalah hidup?

Pahala untuk sabar tak ada batasnya. Karunia sebagai balasan syukur pun tak ada ujungnya.

Bagaimanakah agar kita bisa selalu bersyukur, apapun yang terjadi?

Advertisements

1 Comment »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: