Sumber kemarahan itu ada di dalam diri. Jaga rasa, apapun yang terjadi tak akan membuat marah.

IMG_8867
Seorang pemuda mencoba konsentrasi penuh untuk belajar. Dinyalakannya musik klasik sebagai teman. Ditutupnya dan dikuncinya pintu. Ia harus belajar karena besok ia harus menghadapi ujian. Ujian ini sangat penting baginya. Ia harus lulus.

Tiba-tiba ibunya memanggil berkali-kali, minta bantuannya melihat genting bocor. Dengan kesal ia berteriak, “Aku sedang belajar, besok saja.”

Tak lama kemudian adiknya menggedor-gedor pintu karena mainannya tertinggal di kamar kakaknya. Ia makin kesal. Dibukanya pintu dan dibentaknya adiknya, “Aku lagi belajar, jangan ganggu lagi.”

Adiknya terbelalak dibentak oleh kakaknya. Ia pun menangis dengan keras. Si kakak makin kesal, kapan ia bisa belajar dengan tenang?

Tapi kemudian saat tangannya hendak memukul adiknya ia terhenyak. Ia jauh lebih besar, adiknya hanya anak kecil. Seharusnya kakak menyayangi adiknya, bukan memarahi seperti itu.

Tiba-tiba ia tersadar, ibunya dianggapnya “membuatnya marah” dan adiknya pun “membuatnya marah.” Kalau ada orang lain yang tak berniat mengganggu mengetok kamarnya pun ia akan merasa marah.

Jadi sesungguhnya bukan ibunya, atau adiknya atau orang lain yang membuatnya marah. Ia sendirilah yang ada dalam kondisi stress dan akhirnya meledak.

Tak ada salah ibunya, atau adiknya, atau orang lain. Wajar mereka meminta bantuan atau ingin main. Ia pun tak akan marah kalau mereka melakukan hal-hal itu dalam kondisi ia tenang.

Perasaannya lah yang menyebabkan ia marah, bukan orang lain. Ia sendirilah yang mengizinkan marah itu hadir, bukan orang lain.

Dipandanginya dampak marahnya. Ibunya cemberut sakit hati, adiknya menangis keras. Ia pun merasa sangat bersalah. Stress nya telah membuatnya melakukan hal-hal yang berdampak sangat buruk, dan tak diinginkannya. Betapa ia sangat menyesal. Nasi sudah menjadi bubur. Hati ibunya sudah terluka, batin adiknya sudah tertoreh. Bukan tak mungkin dampaknya bisa terus berlanjut seumur hidupnya.

Dipeluknya ibunya dan adiknya sambil minta maaf dan menjelaskan kondisinya. Ibunya pun memeluknya kembali. 

“Pergilah ke perpustakaan, akan lebih tenang di sana,” seru ibunya.

Ia pun menurut. “Bukan orang lain yang harus berubah. Akulah yang harus menjaga rasa dan melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk mendapatkan apa yang kuinginkan,” batinnya.

Pemuda itu pun berdamai dengan dunianya, dengan ibunya yang memang membutuhkan bantuannya, dan adiknya yang senang bermain dengannya. Dibayangkannya kalau semua itu tak ada, “Astaghfirulllah,” serunya. Betapa ia tak menginginkan semua itu hilang. 

“Sesungguhnya Allah menghadirkan panggilan ibuku dan rengekan adikku untuk membuatku belajar,” introspeksinya di dalam hati. Ia pun melangkah dengan penuh syukur akan teguran Allah baginya.

Seringkali kita marah dan menyalahkan orang lain atau kondisi. Padahal sesungguhnya bukan orang lain atau kondisi itu yang membuat kita marah, tapi hati kitalah yang belum kita lapangkan untuk bisa menerima orang lain atau kondisi tersebut. Karena Allah hadirkan Nabi Yusuf sebagai contoh yang punya ribuan alasan untuk marah dan merasa didzalimi tapi tetap tawakal dan bersyukur padaNya, apapun yang terjadi. 

Setiap orang dan kondisi dihadirkan Allah dengan maksud tertentu, agar kita belajar dari mereka. Belajar dari kelebihan mereka, dari kekurangan mereka dan belajar untuk tetap tawakal dan penuh syukur, berpegang hanya padaNya, apapun yang terjadi dengan orang dan kondisi tersebut.

Stephen Covey menyebut kelapangan hati ini sebagai “kebiasaan proaktif” yang penting diasah untuk menjadi manusia efektif.

Kendalikan hidup, ciptakan apa yang ingin kita ciptakan dalam hidup, dan jangan biarkan sikap orang laib atau kondisi apapun mengendalikan hidup kita.

Dalam hal apakah anda perlu membangun kebiasaan proaktif ini?

Dalam hal apa anda perlu terus melatih kelapangan dada anda?

Mengapa hal itu penting bagi anda?

Kebahagiaan apa yang akan anda dapatkan sebagai hasilnya?

Bagaimanakah anda dapat meraih surha dunia dan akhirat dengan lapang dada ini?

Semoga Allah ridloi usaha kita semua untuk terus menjadi manusia yang lapang dada, proaktif dan selalu bersyukur, apapun yang terjadi.

Aamiin yra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s