Saat kita marah dan ingin menyakiti orang lain sesungguhnya kita menyakiti diri sendiri

  
Seekor ular kobra memasuki gudang tempat bekerja tukang kayu yang sudah pulang untuk istirahat. Sudah menjadi kebiasaan tukang kayu membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan tanpa merapikannya, ketika ular masuk kedalam gudang tanpa sengaja merayap diatas gergaji. Tajamnnya mata gergaji menyebabkan perut si ular terluka tetapi ular beranggapan gergaji itu menyerangnya, ular pun membalas dengan mematok gergaji itu berkali-kali, serangan itu mengakibatkan luka parah dibagian mulutnya.

Marah dan putus asa si ular mengerahkan kemampuannya, jurus terakhir untuk mengalahkan musuhnya ular pun membelit kuat gergaji itu maka tubuhnya pun terluka amat parah dan akhirnya ular pun mati.

Terkadang disaat kita marah kita begitu ingin melukai orang lain, tetapi sesungguhnya tanpa kita sadari yang dilukai adalah diri kita sendiri. Mengapa? Karena perkataan dan perbuatan disaat marah adalah perkataan dan perbuatan yang biasanya akan kita sesali dikemudian hari.

Musuh terbesar dalam hidup kita adalah diri kita itu sendiri.

Kiriman Mas Harry, group Coachnesia Book Writers

🌷🌹🌷🌹🌷🌹

Teman-teman,

Di saat kita sakit hati, marah, merasa tidak terima, putus harapan, kehilangan, sel-sel dalam tubuh kita pun ikut merasakannya. 

Rasa negatif terasa “menyesakkan” atau “menyakitkan” .. bukan hanya sekedar di kata, tapi sesungguhnyalah sel tubuh kita merasakan sesak dan sakit itu.

Kalau semua rasa negatif itu tak bisa dilepas, dikeluarkan dengan baik, maka sel akan terus tertekan. Meridien, atau jalur energi akan menutup, sehingga energi tak bisa disalurkan kepada sel-sel tersebut.Darah pun akan teepengaruh dan menjadi asam. Tekanan terhadap sel, hilangnya sumber energi dan kondisi tubuh yang asam akan membuat sel kekurangan oksigen. Inilah kondisi yang bisa membuat sel normal menjadi sel kanker.

Jadi kalau ada yang menimbulkan rasa sakit hati atau galau, lakukanlah hal-hal ini:

1. Semua dari Allah, semua kembali ke Allah. Innalillahi wa inna ilahi rajiun.

Jangan khawatirkan apapun karena semua akan kembali lagi padaNya. Yang lalu jangan difikirkan, karena sudah lewat dan tak pula dapat kita rubah. Yang belum datang tak pula dapat kita tentukan. Dan semua adalah hak Allah untuk menjadikannya seperti itu.

Serahkan saja semua hanya padaNya. Percaya saja.

Lebih ringan kan?

2. Terimalah semua ketentuanNya. Allahu akbar.

Allah hanya menginginkan yang terbaik bagi kita. Jadi terimalah apapun yang terjadi. 

Allah adalah Sang Maha Cinta, maka semua yang diberikan selalu didasari cinta.

Allah adalah Sang Maha Besar, maka semua yang diberikan adalah bukti kebesaranNya.

Kalau tidak enak bagi kita, itu hanya karena ilmu kita tak sebanyak ilmuNya. Kita masih belum tahu apa maksud kebaikanNya, jadi percaya saja. Prasangka baik kepadaNya, karena Allah hanya memberikan sesuai prasangka kita.

3. Syukurilah dan tersenyumlah. Alhamdulillah

Kalau sudah diserahkan semua urusan hanya padaNya, kalau sudah diterima sebagai kebesaranNya, tak sulit untuk bisa kita syukuri.. apapun yang terjadi.

Percaya saja, terima saja, syukuri saja.

Dan kemudian tersenyumlah selebar-lebarnya. Hati pun akan menjadi bahagia. Wajah akan lebih ceria. Kita akan bisa mulai menebarkan energi bahagia.

4. Kirim senyum pada semua anggota tubuh.

Ucapkan maaf kalau sempat ada tubuh yang sakit karena rasa sakit hati tadi.

Ucapkan terima kasih kepada semua anggota tubuh yang telah membantu kita.

Kirimkan energi kesembuhan, energi kebahagiaan.

Rasa bahagia kita akan membuat bahagia seluruh sel dan meyembuhkannya.

5. Kirim senyum pada semua orang

Kirim senyum dan energi positif pada semua yang kita cintai. Sampaikan pesan bahwa kita sayang dan berterima kasih pada mereka.

Kirim senyum dan energi positif pada semua yang tak kita sukai, kita benci, membuat kita marah, atau sakit hati. Kirimkan salam terima kasih karena mereka telah memberikan kita pelajaran berharga untuk bersabar dan bersyukur.

Semoga itu semua membantu kita untuk tidak menyakiti diri sendiri saat ada yang memyakiti; untuk tetap bahagia saat orang lain tidak membuat kita bahagia.

Karena perasaan kita, adalah refleksi dari kalbu kita, jendela kita untuk menyatu denganNya. Dan hanya kitalah yang bertanggung jawab untuk menjagaNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s