Apa maksud Allah mempertemukan kita?

   
Assalamualaikum ww

Sahabat, tak ada yang kebetulan di dunia ini. There’s no such thing as coincidence. Semua yang kita alami saat ini sudah tertulis di buku Allah jauh sebelum kita lahir di muka bumi. Tak ada kebetulan, tak ada yang tiba-tiba, tak ada yang tanpa cita-cita dan tak ada yang tanpa makna. Semua sudah digariskanNya untuk kita atas dasar kasihNya.

Termasuk semua kehadiran orang yang ada dalam hidup kita. Orang tua, teman, sahabat, orang yang kita cintai, orang yang baik pada kita, orang yang mendzalimi kita dan orang yang kita benci. Mereka semua ada dengan makna. Semua punya arti, semua punya nilai.

Dan jangan bilang kita dipertemukan di blog ini pun tanpa maksud.

Allah menuntun sahabat ke sini dan membuka tulisan-tulisan dalam blog ini untuk satu alasan.

Entah untuk dicerna dan dibagi lagi.
Entah untuk belajar dan mengajarkan kembali.
Entah untuk bercerita atau mendengarkan.
Entah untuk sesaat atau selamanya.
Entah akan menjadi bagian terpenting dalam hidup atau hanya untuk sekedarnya.

Semua tidak ada yang sia-sia, karena Allah yang mempertemukan kita dan menuntun sahabat membaca tulisan-tulisan ini.

Hidup kita saling mengisi, melengkapi berkomunikasi. Aku mengirim semua tulisan dalam blog ini dengan mengharap ridlo Allah, berharap ada tulisan-tulisan yang dapat menjadi ilmu jariah yang bermanfaat sampai akhir zaman.

Sahabat datang untuk menyimak dan kalau apa yang dibaca bermanfaat, sahabat pun menjadi jawaban atas doa-doaku.

Bisa jadi tulisan-tulisan dalam blog ini adalah juga jawaban atas doa-doa sahabat atau sahabat kita yang lain yang menanti sahabat berbagi ilmu dari blog ini, sebagaimana mereka pun adalah jawaban atas doa-doa kita.

Jika sudah menjadi takdir Allah, meski dengan jarak ribuan kilometer kita tetap akan dipertemukan, dalam satu ikatan bernama “ukhuwah” baik online maupun offline, tatap muka atau hanya di blog.

Terima kasih atas kunjungannya, terima kasih sudah membaca berbagai artikel dalam blog ini. Berbagilah, karena kita tak pernah tahu kapan ilmu yang kita bagikan menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi jawaban atas doa sahabat kita.

Untuk setiap kejadian,
untuk setiap pertemuan,
untuk setiap bacaan,
bertanyalah dalam hati, kira-kira mengapa Allah yang sangat menyayangiku memberikanku orang/kejadian/bacaan ini?
Kebaikan apa yang aku dapat lakukan dengan pertemuan/kejadian/bacaan ini, sebagai tanda cintaku padaNya yang sangat mencintaiku?

Bagilah kembali setiap ilmu
Jadilah tanganNya di muka bumi dengan semua pelajaran yang diberikanNya melalui semua orang/kejadian/bacaan
Termasuk orang yang dzalim, serakah, dan kita tak suka.
Mungkin mereka dikirim untuk menguji sabar, ikhlas dan kemampuan bersyukur dalam setiap kondisi.

Syukurilah semua orang/kejadian/ilmu, dan cintailah mereka semua karena mereka dikirim oleh Sang Maha Cinta.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan Nabi, dan bukan pula Syuhada (orang yang mati syahid). Tetapi para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti, disebabkan kedudukanALLAH yang diberikan Allah kepada mereka”.
“Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka?”

Ujar sahabat, “Agar kami bisa turut mencintai mereka.”
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab :

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah tanpa ada hubungan keluarga dan nasab di antara mereka. Demi Allah, wajah-wajah mereka pada hari itu bersinar bagaikan cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saat manusia sedih.”

(HR. Abu Dawud)

Dalam Hadits lain disebutkan :

“Di sekitar singgasana Allah ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya terdapat orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka bercahaya, mereka bukan Nabi atau pun Syuhada. Para Nabi dan syuhada iri kepada mereka”.

Ketika ditanya para sahabat :

“Siapakah mereka itu ya Rasulullah ?”
Rasulullah menjawab :

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Alloh.” (HR. Tirmidzi).

Semoga kita juga termasuk golongan orang-orang yang dicemburui oleh para Nabi dan Syuhada.

Semoga ukhuwah kita yang terjalin ini dilandasi oleh kasih sayang dan saling mencintai karena Allah.

Terinspirasi dari kiriman: Mochtar Iskandar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s