Janganlah menghakimi karena itulah sombong yang mendzalimi diri sendiri

    
Seorang pengusaha terlambat mengejar pesawat dan merasa sangat sial karena kehilangan kesempatan bisnis besar. Ia pun mengutuk orang yang menahannya sebelum pergi ke bandara dan menganggapnya sebagai orang pembawa sial. Betapa tidak, karena orang ini ia kehilangan bisnis milyaran.

Ternyata orang yang memenangkan bisnis tersebut setahun kemudian bangkrut karena deal bisnis itu membawa kerugian.

Pengusaha tadi pun menarik nafas lega. Betapa beruntungnya ia karena kehilangan deal bisnis tersebut. Allah sudah menyelamatkannya dari kebangkrutan.

Dan orang yang menahannya sebelum ke bandara ternyata adalah tangan Allah untuk membawa keselamatan baginya. Ia bukan pembawa sial, ia adalah pembawa untung.

Seorang istri sakit hati dan depresi ditinggal suaminya yang selingkuh. Dikutuknya suaminya setiap hari sampai ia lelah dan memutuskan untuk melupakan segalanya. 

Setelah lama menjanda ia bertemu seorang suami yang sangat baik hati dan menerima dirinya apa adanya. Rupanya pengalaman dengan suaminya sebelumnya telah menempanya menjadi istri yang lebih bijak dan tak lagi temperamental seperti sebelumnya.

Sesungguhnya suaminya yang dikutuknya sekian tahun adalah tangan Allah untuk menjadikannya seorang istri yang lebih siap menerima suami yang baik dan setia. Sebelumnya, ia belum layak mendapat suami yang baik.

Seringkali kita cepat menilai dan menghakimi sebuah peristiwa atau orang lain. Seakan yang benar dan paling baik hanya diri kita. Kita tak mau mnsyukuri kejadian buruk atau orang yang kita benci dalam hidup kita.

Hati kita menjadi keras karena kita bertahan pada kebencian itu dan menikmati kesombogan kita. Saat itulah kita bisa memaki, menghujat, membenci, dan menceritakan keburukan orang lain pada teman-teman. Saat itulah kita bisa mengeluh dan mendapat simpati yang belum tentu didapat kalau kita gembira dan bahagia.

Pada saat tabir hikmah dibuka seringkali kita tak mau mengakuinya karena kita tak mau memaafkan, tak mau kehilangan kesepatan mendapat simpati.

Saat itulah sesungguhnya kita sedang menikam diri kita sendiri dengan pisau penderitaan. Kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa kejadian buruk adalah anugerah dan orang yang kita benci sesungguhnya karuniaNya.

Allah jelaskan bahwa orang yang dendam, membenci sesuatu atau seseorang adalah manusia sombong yang mendzalimi diri sendiri. Mereka merasa mereka didzalimi orang lain, tapi sesungguhnya mereka mendzalimi diri dengan kesombongan itu.

[Yaitu] orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri [sambil berkata]; “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. [Malaikat menjawab]: “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.  16:28-29

Janganlah banyak menilai, karena kita manusia yang punya ilmu sangat sedikit untuk menilai, apalagi menghakimi.

Bahkan Nabi Musa as pun tak mampu menilai kebaikan di balik semua yang dilakukan Nabi Khidir yang dianggapnya kriminal.

Iblis pun diusir dari surga karena tak mau menerima bahwa Allah menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi.

Belajarlah dan bersyukurlah dari semua orang dan pengalaman. Allah mengajarkan kita melalui peristiwa dan manusia yang dihadirkanNya dalam hidup kita. Dari yang kita sukai kita pelajari apa yang kita sukai untuk diri kita dan dari yang kita tak sukai kita belajar apa yang kita tak sukai dari diri kita.

Setiap orang, setiap peristiwa adalah cermin bagi kita, untuk kita berkaca dan berhias, menjadi manusia yang lebih baik setiap hari. Berhentilah membenci apapun karena sesungguhnya yang kita benci adalah cermin dari diri kita sendiri. Sebaliknya bertanyalah: 

Mengapa Allah yang mencintaiku memberikan peristiwa dan orang ini padaku? Apa yang harus kupelajari dari mereka? Bagaimana aku bisa menjadi manusia yang lebih baik dengan kehadiran mereka? Dan kenapa hal itu penting bagiku?
Selamat malam, Assalamualaikum ww.

❤️🌿🌻❤️🌿🌻❤️🌿🌻❤️🌿🌻

One thought on “Janganlah menghakimi karena itulah sombong yang mendzalimi diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s