Menghadapi kesulitan dengan tawakal, belajar dari Doa Nabi Yunus

  
Sahabat blog tercinta,

Seorang yang beriman tak akan punya rasa galau, rasa marah, rasa gentar. Kenapa harus takut, galau dan gentar kalau benar-benar beriman, yakin dan berpegang hanya pada taliNya?

Tidak terlalu gembira, jumawa atau sombong saat di atas karena tahu semua hanya milikNya. Dan tak galau, khawatir atau takut saat di bawah dan susah karena tahu bantuanNya selalu ada.

Salah satu contoh dan teladan yang Allah berikan untuk kita semua adalah Nabi Yunus as.


“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Ash-Shaffat: 143-144)

Kisah Nabi Yunus 

Nama asli Nabi Yunus a.s adalah Yunus bin Mata atau Zun Nun. Baginda adalah seorang Nabi yang mulia yang diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya. Baginda menasihati mereka dan membimbing mereka ke jalan kebenaran dan kebaikan; baginda mengingatkan mereka akan kedahsyatan hari kiamat dan neraka dan menjanjikan mereka dengan syurga; baginda memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mengajak mereka hanya menyembah kepada Allah SWT.

Nabi Yunus a.s. senantiasa menasihati kaumnya namun tidak ada seorang pun yang beriman di antara mereka. 

Suatu hari hatinya gundah dan resah. Ia marah pada kaumnya  keluar dalam keadaan marah, menetapkan untuk meninggalkan mereka. Allah SWT menceritakan hal itu dalam firmanNya :


“ Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘ Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk  orang-orang yang zalim.” (Surah al-Anbiya’ ayat 87)

Baginda pergi ke tepi laut dan menaiki kapal yang dapat memindahkannya ke tempat yang lain. Padahal saat itu Allah SWT belum mengeluarkan perintah baginya untuk meninggalkan kaumnya. 

Nabi Yunus a.s.  mengira bahawa Allah SWT tidak mungkin menurunkan hukuman kepadanya kerana dia meninggalkan kaumnya itu. Saat itu Nabi Yunus a.s. seakan-akan lupa bahawa seorang nabi diperintah hanya untuk berdakwah di jalan Allah SWT. 

Taufik dan hidayah adalah hak Allah SWT untuk diberikan-mNya kepada yang Dia kehendaki. Jadi, tugasnya hanya berdakwah di jalan Allah SWT dan menyerahkan sepenuhnya masalah berjaya atau tidak kepada Allah SWT semata-mata.

Di tengah jalan kapal diterjang badai. Untuk mengurangi beban dibuatlah undian untuk menentukan siapa yang harus terjun ke laut. Setelah tiga kali diundi nama Nabi Yunus terus keluar.  Ia pun kemudian terjun ke laut dan dimakan ikan.

Nabi Yunus a.s. sangat terkejut ketika mendapati dirinya dalam perut ikan. 

Nabi Yunus a.s. mulai menangis dan bertasbih kepada Allah SWT. Baginda mulai melakukan perjalanan menuju Allah saat baginda terpenjara di dalam tiga kegelapan. Hatinya mulai bergerak untuk bertasbih kepada Allah, dan lisannya pun mulai mengikutinya. Baginda mengatakan:

” Laailahailaanta subhanainni kuntum minazzalimin”

(Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk  orang-orang yang zalim).

Ikan-ikan yang lain dan tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk yang hidup di dasar lautan mendengar tasbih Nabi Yunus. Tasbih itu berasal dari perut ikan paus ini. Kemudian semua makhluk-makhluk itu berkumpul di sekitar ikan paus itu dan mereka pun ikut bertasbih kepada Allah SWT. Setiap dari mereka bertasbih dengan caranya dan bahasanya sendiri.

Ikan paus yang memakan Nabi Yunus itu terbangun dan mendengar suara-suara tasbih begitu riuh dan gemuruh. Ia menyaksikan di dasar lautan terjadi suatu perayaan besar yang dihadiri oleh ikan-ikan dan hewan-hewan lainya, bahkan batu-batuan dan pasir semuanya bertasbih kepada Allah SWT dan ia pun tidak ketinggalan ikut serta bersama mereka bertasbih kepada Allah SWT. Dan ia mulai menyadari bahawa ia sedang menelan seorang Nabi.

Allah SWT melihat ketulusan taubat Nabi Yunus a.s. Allah SWT mendengar tasbihnya di dalam perut ikan. Kemudian Allah SWT menurunkan perintah kepada ikan itu agar mengeluarkan Yunus a.s. ke permukaan laut dan membuangnya di suatu pulau yang ditentukan oleh Allah SWT.

Ikan itu pun mentaati perintah Ilahi. Tubuh Nabi Yunus a.s. merasakan kepanasan di perut ikan. Baginda sedang  sakit tenat, lalu matahari bersinar dan menyentuh badannya yang kepanasan itu. Kemudian Allah SWT menumbuhkan pohon Yaqthin (jenis labu), pohon yang daun-daunnya lebar yang dapat melindungi dari sinar matahari. Dan Allah SWT menyembuhkannya dan mengampuninya. 

Allah SWT memberitahunya kalau bukan kerana tasbih yang diucapkannya nescaya ia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari kiamat.

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut undi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, nescaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, kerena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (Surah as-Saffat ayat 139-148)

Kisah ini adalah kisah yang Allah berikan untuk mengajarkan bagaimana kita harus bersikap dalam kesusahan.

Allah mengajarkan kita bagaimana bersikap menghadapi kesusahan melalui doa Nabi Yunus. Doa Nabi Yunus ini perlu menjadi dasar kita menata hati, pikiran, perkataan dan perbuatan dalam kesusahan, seperti juga dalam kondisi apapun.

“Sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri” (Al-Anbiya’ : 87).

🌹 Tetap yakin pada Allah: “Tiada Tuhan melainkan Allah.”

Kalimat tauhid ini membantu kita selalu ingat bahwa hanya Allah tempat mengadu, berpegang, berserah diri, dan memohon pertolongan di kala susah.

Hal ini yang perlu terus kita ingat dan benar-benar jalankan setiap hari dalam tiap kondisi. Tentu tak akan ada lagi rasa yang menyiksa. Di lain sisi tidak juga akan ada rasa paling tinggi dan sombong. 

🌹 Mensucikan Allah: “Maha Suci Allah.”

Inilah sikap yang harus selalu ada termasuk di masa sulit. Saat sulit akan lebih sulit mensucikanNya, apalagi kalau kalimat tauhid di atas tak terucap. Banyak yang malah marah pada Allah. 

Nabi Yunus as terus mensucikanNya saat dilanda kesusahan. Inilah tanda keimanan yang membuatnya tenang, pasrah dalam ikhtiarnya.

🌹 Mengakui kesalahan: “Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri.” 

Banyak manusia tak bisa menerima kejadian yang di alaminya. Mereka lupa bahwa apapun yang dialami adalah hasil dari pikiran, perkataan atau perbuatannya sendiri.

“Dan tiadalah Kami menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” [al-Nahl 16:118]
Nabi Yunus ingat sekali akan hal ini dan diakuinya bahwa apapun yang terjadi berasal dari dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ini adalah buah tindakannya lari dari tugas dakwah.

Selalu introspeksi, melihat ke dalam dan tidak ke luar, memohon ampun dan merendahkan diri di hadapanNya membuat Nabi Yunus as selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik setiap hari. 

Tanpa introspeksi bisa jadi kita terus mengulang kesalahan yang sama dan keterpurukan terus meliputi kita.

“Dan apa jua yang menimpa kamu dari sesuatu kesusahan, maka ia adalah disebabkan apa yang kamu lakukan (dari perbuatan-perbuatan yang salah dan berdosa) dan (dalam pada itu) Allah memaafkan sebahagian besar dari dosa-dosa kamu.” [al-Shura 42:30] 

Tiga sikap inilah pelajaran yang Allah berikan serta doa yang dapat terus kita ucapkan, membasahi bibir kita senantiasa, untuk kita amalkan dalam pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.
Semoga dengan mengamalkan doa ini sepenuhnya Allah bebaskan kita dari segala kesulitan.
Jadi, sudahkah kita:

  • Selalu berserah diri padaNya, mengadu dan meminta hanya padaNya tanpa berkeluh kesah ke manusia?
  • Mensucikan Allah dalam kondisi apapun?
  • Selalu introspeksi, mengakui kesalahan dan berusaha menjadi lebih baik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s