Justru karena ia pernah lumpuh seluruh badanlah ia mampu menciptakan ilmu-ilmu baru

  

 Namanya Milton Erickson. Sejak kecil pertumbuhannya agak lebih lambat dibanding saudara-saudaranya. Ia buta warna, dan disleksik.

Di usia 17 tahun ia terserang polio. Milton lumpuh seluruh tubuhnya. Pada suatu ketika ia mendengar tiga dokter berkata pada orang tuanya bahwa ia akan meninggal di pagi harinya. Milton merasa sangat marah mendengarnya. Ia pun memutuskan bahwa ia harus bisa menikmati matahari terbenam malam itu. Saat ibunya masuk ke kamarnya  Milton meminta ibunya memindahkan furniture dalam kamarnya agar ia bisa melihat matahari tenggelam.

Dilihatnya matarahari yang tenggelam dengan sangat lekat. Saking konsentrasinya ia melihat matahari, ia tak lagi melihat pagar dan pohon yang ada dalam jangkauan pandangannya. Dinikmatinya pemandangan matahari tenggelam tersebut sampai tak ada lagi pohon dan pagar yang dilihatnya. Dan setelah itu ia pingsan selama tiga hari.

Ternyata keinginannya untuk melihat matahari tenggelam telah menyelamatkan hidupnya. Saat ia bangun dari pingsan tiga harinya, ia melihat ternyata pohon dan pagar telah dipindahkan dan benar-benar tak ada lagi. Saat itulah ia menyadari, jangan-jangan pikirannya benar-benar telah mempengaruhi apa yang ada dan apa yang tak ada. Saat itulah ia merasa bahwa ia mulai belajar menghipnosis diri sendiri.

Setelah itu Milton hidup dalam kondisi lumpuh, tak ada yang bisa bergerak kecuali matanya. Ia hidup dengan 7 saudara perempuan, 1 saudara laki-laki, orang tuanya dan seorang perawat. Maka ia menjalani hari-harinya memperhatikan apa yang terjadi dengan semua yang ada di sekitarnya. Ia mulai mempelajari cara saudara-saudara dan orang tuanya berkomunikasi. Seringkali yang dikatakan “iya” itu berarti “tidak” dan sebaliknya. Saat itulah ia mulai belajar program jalan pikiran semua orang yang ada di sekitarnya. Ia mulai mengerti mengapa seseorang mengatakan apa yang mereka katakan dan lakukan apa yang mereka lakukan.

Milton merasa sangat kesepian karena tak bisa berkomunikasi, tapi ia tak menghabiskan waktu dirundung kesedihan dan merasa diri malang. Justru karena ia tak bisa berkomunikasi ia berkesempatan menjadi pengamat dan mengembangkan ilmu baru. Ia mempelajari hubungan antara cara berkomunikasi dengan perubahan perilaku.

Milton juga mulai memperhatikan bahwa otonya memiliki memori. Ia mulai berkonsentrasi memperhatikan cara kerja memori otot ini dan mulai belajar menggerakan tubuhnya. Pelan-pelan ia mulai bisa bicara dan menggerakan tubuhnya. Ia belum bisa jalan saat itu. Ia melatih tubuhnya dengan berkelana menggunakan canoe, sendirian, sejauh 1.000 mil. Setelah itu ia pelan-pelan bisa berjalan. Pengalamannya ini kemudian sangat berharga dalam mengembangkan ilmu terapi dalam profesinya.

Erickson belajar di sekolah kedokteran dan mendapatkan gelar dalam bidang psikologi. Dalam perjalanannya ia mengembangkan ilmu psikiater, dan menjadi psikiater yang sangat berpengaruh di Amerika. Ia menjadi pendiri dan presiden pertama dari American Society for Clinical Hypnosis, dan seorang fellow dari American Psychiatric Association, American Psychological Association dan American Psychopathological Assocation. Ia sangat terkenal dengan pendekatannya melalui pemikiran bawah sadar yang kreatif, mampu menciptakan solusinya sendiri dan sangat berdaya untuk membangun potensi yang ada dan tak disadari. Ia juga mempengaruhi berbagai pendekatan seperti brief therapy, strategic family therapy, family systems therapy, solution focused brief therapy, dan neuro-linguistic programming.

Milton mengembangkan fondasi Ericksonian Coaching dan Ericksonian Hypnosis yang kemudian dikembangkan di Erickson College.

Milton Model yang ditemukannya adalah sebuah pendekatan dengan menggunakan bahasa untuk menggali potensi yang terpendam pada pikiran bawah sadar yang sangat kreatif dan selalu menyerap dan mendengarkan. Asumsi dasar yang digunakan adalah bahwa semua orang baik, semua orang berbuat yang terbaik dengan sumber daya yang dimilikinya, dan bahwa perubahan selalu mungkin, bahkan tak dapat dihindari.

Richard Bendler dan John Grinder mengembangkan ilmu Neuro Linguistic Programming berdasarkan berbagai pendekatan yang dikembangkan oleh Milton Erickson.

Bagi saya pribadi, Milton menginspirasi saya sangat dalam. Berbagai ilmu yang membuatnya sangat sukses justru dikembangkan saat ia berada dalam kondisi polio, tak dapat bergerak, bahkan dinyatakan tak ada harapan hidup. Ia sama sekali tak menyerah pada keadaan dan bangkit, belajar banyak dari kondisi diam tersebut, menjadi seseorang yang sangat sukses membantu orang lain mencapai impiannya.

Milton selalu berkata bahwa ia menjadikan dirinya sendiri trance agar ia bisa menyelam ke dalam tubuh dan jiwa siapapun yang sedang dibantunya, bahkan saat orang tersebut tak ada di dekatnya. Kondisi trance tak selalu harus hilang kesadaran. Kondisi trance adalah kondisi di mana kita benar-benar terserap dalam sesuatu hal, sehingga perhatian kita tak terganggu oleh hal-hal lain. Pada saat itulah kita dapat mendengar dengan hati, tak hanya kata tapi juga rasa.

Hal ini menjadi PR bagi saya. Dengarkan, hayati, dengan menyatulah dengan orang lain. Saat kita menjadi bagian dari dirinya, kita akan bisa membantunya menciptakan perubahan dan menggali potensi-potensi besarnya.

🌿🌻🌿🌻🌿🌻

Jadi sahabat blog, apakah yang dapat sahabat pelajari dari Milton?

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s