Jalan kebaikan selalu lebih sulit, tapi inilah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan hakiki

IMG_0581-0
“Ustadz, dulu aku merasa semangat berbagi, menyemangati orang lain, menginspirasi dan berdakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering, banyak pula yang aneh-aneh.” Begitu keluh kesah seorang murid kepada gurunya di suatu malam.
Sang guru hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri muridnya. “Lalu, apa yang ingin kau lakukan setelah merasakan semua itu?” sahut sang guru setelah sesaat termenung.

“Aku ingin berhenti saja, aku capek bicara, prihatin dan tak nyaman. Aku kecewa dengan perilaku teman-temanku. Juga dengan organisasi yang kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, aku mendingan sendiri saja,” jawab murid itu.

Sang guru termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

“Bila suatu kali kau naik sebuah kapal mengarungi lautan luas dan kau temukan kapal itu ternyata sudah amat bobrok, layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia, apa yang akan kau lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” tanya sang guru dengan kiasan bermakna dalam.

Sang murid terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

“Apakah kau memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?” sang guru mencoba memberi opsi.

“Bila kau terjun ke laut, sesaat kau akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Apakah kau pandai berenang? Berapa kekuatanmu untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana kau mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana kau akan atasi hawa dingin? Kalaupun kau mampu berenang dan sampai ke daratan, apakah kau yakin tiba di pulau yang berpenghuni, atau hanya didiami binatang buas? Kalaupun berpenghuni, apakah kau dapat menjamin manusia yang hidup di dalamnya adalah manusia ramah, sopan santun, alim, seideal impianmu selama ini?” serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang murid.

Tak ayal, sang murid menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang guru yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Apakah kau masih merasa bahwa jalan berbagi adalah jalan yang paling utama menuju kebahagiaan yang hakiki dengan ridho Allah?” Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang murid. Ia hanya mengangguk.

“Bagaimana bila temyata mobil yang kau kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Kau akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?” tanya sang guru lagi.

Sang murid tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.
Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, “Cukup ustadz, cukup. Aku sadar. Maafkan aku. Aku akan tetap istiqamah. Aku berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan atau agar setiap kata-kataku diperhatikan.”

“Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Aku akan tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakanku kelak dengan janji-janjiNya. Biarlah segala kepedihan yang kurasakan jadi pelebur dosa-dosaku,” sang murid berjanji di hadapan guru yang semakin dihormatinya.

Sang guru tersenyum. “Dengan siapapun kau berhubungan, mereka adalah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Di balik kelemahan itu masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk ada dalam jalan kebaikan. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah.”

“Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaanmu. Sebagaimana Allah menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di matamu dengan kebaikan-kebaikan mereka selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu kau lebih baik dari mereka.”

“Mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?” sambungnya panjang lebar.

“Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, setiap orang bisa melakukannya. Tapi kita adalah pemimpin, pertama bagi diri kita sendiri, kedua bagi keluarga dan akhirnya orang lain. Kita adalah khalifah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.”

“Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!”

Sang murid termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Tekadnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.

“Tapi bagaimana aku bisa memperbaiki organisasi dengan kapasitasku yang lemah ini?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

“Siapa bilang kapasitasmu lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepadamu? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!” sahut sang guru.

“Allah memasukkan kita ke dalam surga bukan karena kita mampu menciptakan kesempurnaan tanpa kelemahan. Allah melihat apa yang telah kita kerjakan untukNya,sekecil apapun peran tersebut.

Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua yang terlibat dalam organisasi itu. Peringatan selalu berguna. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telingamu dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil (dengki, benci, iri hati) terhadap saudara seperjuangan sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya.”

Malam itu, sang murid menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama yang lain dalam mengarungi jalan kebaikan dan dakwah. Pencerahan diperolehnya.

Diadopsi dari artikel kiriman Nur Bali, fasil 21.

🌿🌻🍀🌿🌻🍀🌿🌻

Sahabat,

Jalan kebaikan selalu lebih sulit daripada jalan kebanyakan. Semua terpulang pada kita, seberapa jauh kita ingin menjadi manusia kecintaanNya? Mengambil ridloNya untuk mendapat surga tentu tak mudah.

Saat ini aku sedang berada di Fukuoka, di mana penduduknya belum mengenal fasilitas halal. Apalagi dengan kasus ISIS, ternyata banyak masyarakat Jepang yang menjadi sangat anti Islam. Dalam kondisi ini tentu berdakwah tak mudah. Namun banyak yang terus berdakwah tanpa henti. Sahabat kami, Pak Eko Fajar dan Ibu Savitri salah duanya. Merekalah yang membuat #KyusuHalalTour terlaksana untuk memberikan masukan pada pemerintah Jepang mengenai fasilitas halal untuk menarik minat wisatawan dan penduduk Indonesia. Dakwah yang luar biasa. 

Upaya ini dapat menjadi awal pengenalan masyarakat Jepang mengenai nilai-nilai dan filosofi halal. Masyarakat Muslim pun akan lebih nyaman hidup di sana. Luar biasa. Semoga Allah menjadikan upaya dakwah ini sebagai amal jariah dunia akhirat.

Tak mudah. Dan dibalik setiap kesulitan, akan selalu ada pertolongan Allah.

Teruslah bertahan tanpa putus asa. Ikhlas karena semua terjadi adalah ketentuanNya. Tak perlu buat galau, khawatir apalagi perasaan tidak terima. Makin berilmu, makin rendah hati kita dibuatNya, makin merasa bukan apa-apa dan tak akan lagi merasa sakit hati atau galau.

Apakah yang harus kita lakukan untuk bisa mencapai tingkat kedewasaan yang tinggi dalam menjadi hambaNya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s