Catatan Haji – Guru spiritualku di Padang Arafah mualaf Cina

IMG_6707
DI ARAFAH, GURU SPIRITUAL SAYA MUALLAF KETURUNAN CINA
Setiap musim haji tiba, diam-diam saya selalu teringat pada dua guru spiritual saya di Padang Arafah. Mereka suami-istri, keturunan Cina, baru masuk Islam dua tahun ketika kami bertemu di Makkah. Jangan salah paham dengan kata ”Cina” yang saya gunakan. Itu hanya untuk menjelaskan warisan darah yang mengalir di tubuh mereka. Buat saya, sekali seorang lahir di Indonesia, apa pun darah yang mengalir di tubuhnya, dia adalah bangsa Indonesia. 

Kami adalah para tamu raja di musim haji tahun 2000. Selama tinggal di istana tamu raja, saya nyaris tak pernah melihat pasangan ini. Saya menduga mereka lebih banyak berdiam di al-Masjid al-Haram ketimbang di istana raja. Baru ketika kami bergerak menuju Arafah, saya melihat suami istri ini duduk satu bus dengan saya.

Dibalut baju ihram putih, sang suami saya lihat tak pernah berhenti berzikir. Air matanya terus mengalir. Sementara istrinya kulihat menggunakan kacamata hitam, bibirnyac juga berkomat-kamit tanda berzikir. 

Di Arafah, kami duduk bersimpuh di bawah satu tenda mewah bersama jamaah lain. Hari itu terikc luar biasa. Kendati tenda dipenuhi AC dan kipas angin, suhu panas tetap membuat banyak jamaah tertidur di tengah zikir. Saya pun sempat terlelap di tengah letih berzikir dan kontemplasi. Namun, sebelum jatuh tertidur, sekelebat masih saya lihat pasangan ini tetap duduk berzikir. Ketika saya terbangun, mereka tetap berzikir. Saya berzikir lagi, mereka juga berzikir. Bahkan ketika saya beberapa kali keluar tenda untuk satu kepentingan, mereka sama sekali tak keluar tenda, duduk di tempat semula, dan terus berzikir. Subhaanallah …. 

Usai wuquf di Arafah, saya dekati mereka mengobrol banyak hal, terutama mengapa mereka masuk Islam. Sang suami bercerita, kakaknya lebih dulu masuk Islam tapi diam-diam. Ketika kakaknya meninggal dunia, para tetangga ngotot membawa jenazah ke masjid untuk dishalatkan. ‘’Nah, ketika jenazah kakak saya sudah diletakkan di depan imam, saya tanya apakah non-Muslim boleh masuk masjid. Mereka bilang boleh. Lalu saya buka sandal, masuk masjid pelan-pelan, tiba-tiba badan saya bergetar. Itulah pertama saya masuk masjid. Saya merasa seperti ada tenaga besar masuk dalam tubuh saya.’’ 

Setelah pengalaman hebat itu, di malam hari ia bermimpi memotong dua ekor kambing dan dilihatnya anak laki-lakinya berlari-lari gembira menyaksikan kambing dipotong. Hah, bagaimana mungkin? Bukankah anaknya lumpuh? Mimpi ini ia simpan dari istrinya yang beragama Katolik, tapi ia ceritakan kepada tetangganya yang Muslim. Dari tetangganya ia jadi tahu, itulah aqiqah dalam Islam. Karena itu tak segan-segan ia memotong dua ekor kambing. Ajaib. Di hari ketika ia memotong kambing itu anaknya benar-benar berlari bukan lagi dalam mimpi! 

Agak takut, ia sampaikan niatnya kepada sang istri ingin masuk Islam. Tanpa diduga, sang istri menangis tersedu-sedu. Ternyata selama ini ia juga ingin masuk Islam tapi takut pada suami. 
‘’Waktu masih beragama Katolik, saya juga sering tahajjud,’’ jelas sang istri. 
Saya tentu terkejut. Tahajjud? 
Meski saya tak bertanya, Muslimah di depan saya ini paham saya terkejut dengan kata ‘’tahajjud’’ itu. 

‘’Ya dalam Kristen, kami juga diajarkan sembahyang, bahkan sembahyang malam. Namanya tahajjud kan,’’ katanya tersenyum.

‘’Saat shalat tentu kami tidak menggunakan mukena ini. Tapi suatu malam, ketika saya sedang bertahajjud sendirian, saya lihat di cermin saya sedang duduk mengenakan mukena, padahal waktu itu saya sedang pakai baju biasa. Sejak saat itu saya yakin saya harus masuk Islam.’’ 

Tahun ini adalah 15 tahun lalu ketika Allah SWT menyuguhi saya hidangan spiritual luar biasa di rumahNya yang suci. Sejak pesta spiritual itu, setiap musim wuquf tiba saya selalu teringat kedua guru spiritual saya, dua muallaf keturunan Cina. Ketika saya tanya mengapa mereka tak pernah berhenti berzikir saat wuquf, sang suami berkata dengan nada sedih: ‘’Kami iri, kami jauh tertinggal. Bapak sudah masuk Islam sejak lahir, sudah banyak zikir sejak kecil. Kami harus mengejar saudara-saudara saya sesama Muslim. Kami tak boleh berhenti berzikir sampai tua, sampai kami meninggal.’’ 

Kedua suami istri ini sekarang menjadi aktivis Yayasan Karim Oei. Biarkan saya dan Allah SWT yang tahu siapa nama mereka.

Dari status facebook Helmi H, kiriman Anis Sipan

🌻🍀🍃🌻🍀🍃🌻🍀🍃🌻🍀🍃

Sahabatku,

Waktu adalah kemewahan yang sering tak kita sadari. Bapak dan Ibu mualaf yang mulia dalam cerita ini sungguh sadar akan hal ini. Mereka ingin mengejar ketertinggalan jumlah ibadah dari mereka yang lahir dalam Islam.

Namun, apakah benar mereka tertinggal? Banyak orang yang punya waktu, punya ilmu, namun tak melakukan ibadah. 

“Ah… Masih ada waktu..”

“Nanti saja kalau sudah tua.”

“Nanti kalau sudah menikah.”

Masih adakah “nanti” itu? Maukah ajal menunggu “nanti” kalau Allah sudah tentukan sang waktu habis?

Demi waktu, sesungguhnya manusia banyak sekali yang rugi. Yang selamat dari terkaman waktu hanyalah mereka yang benar-benar memanfaatkan waktu untuk berbuat kebaikan, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Jadi apa lagi yang ditunggu? karena ajal tak akan menunggu?

Bagaimana kita bisa lebih pandai memanfaatkan waktu untuk mendapat ridloNya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s