Mujur atau tidak? kau yang tentukan, Nak.

  
Masih dalam rangka Hari Ayah, kita simak kisah percapakan seorang ayah dengan anaknya yuk.

🍃🍋🍃🍋🍃🍋

Alkisah, di satu desa di negeri Cina zaman dahulu, seorang pemuda anak seorang petani miskin, sedang “curhat” pada ayahnya.
“Ayah coba lihat betapa miskin dan malangnya kita. Kita hanya memiliki seekor kuda jantan dan tak sanggup membeli seekor kuda betina agar mereka dapat berkembang-biak.” 

Ayahnya menjawab, “Malang atau mujur, siapa yang tahu? Percayalah, Tuhan pasti memiliki rencana yang baik dan akbar bagi setiap umat yg berharap kepadaNya. Belajarlah untuk selalu bersyukur padaNya.”

Pada suatu hari, kuda jantan satu-satunya itu hilang karena pintu kandang “lupa” ditutup oleh si pemuda. Kembali dia “curhat” menyesali kealpaannya dan kesialan yang menimpa keluarga mereka.

Si ayah kembali menjawab, “Malang atau mujur, siapa yang tahu? Percayalah, Tuhan pasti memiliki rencana yang baik dan akbar bagi setiap umat yang berharap padaNya. Belajarlah untuk selalu bersyukur padaNya.”
Beberapa hari kemudian si kuda jantan ternyata pulang ke kandangnya dengan membawa seekor kuda betina liar bersamanya. Si pemuda terkejut melihat itu dan menjadi sangat senang, dengan menggebu-gebu dia menceritakan rencana dan mimpinya untuk mengembangbiakkan kuda-kuda untuk menjadi ternak mereka di masa mendatang.
Kembali, si ayah mengingatkan, “Malang atau mujur, siapa yang tahu? Percayalah, Tuhan pasti memiliki rencana yang baik dan akbar bagi setiap umat yang berharap padaNya. Belajarlah utk selalu bersyukur padaNya.”
🍃🍋🍃🍋🍃🍋🍃🍋

Ayah … dan juga Bunda, kakak, sahabat dan siapapun anda bagi anak,

Percakapan seperti ini sangat penting bagi tumbuh kembang anak yang selalu mensyukuri apapun yang ada dan selalu mendekatkan diri padaNya. 

Tak ada yang disesali, tak ada yang dikesalkan, dikhawatirkan, dibanding-bandingkan, apalagi dikecilkan. Ayah ini hanya mengajak anaknya untuk terus berharap, berdoa dan bersyukur padaNya. Syukuri semuanya.

Betapa indahnya hidup kalau kita selalu bernafas dengan nafas syukur, senyum yang selalu tersungging di mulut dan bibir dan kata-kata bahagia.

Inilah modal yang sangat besar bagi anak.

Bagi diri kita sendiri, hadiahilah diri kita dengan percapakapan diri (self talk, self coaching) yang sama.

Selalulah bertanya pada anak dan diri sendiri:

“Apa yang bisa disyukuri dari kejadian (atau musibah) ini?”

“Doa terbaik apa yang dapat kita panjatkan padaNya dalam kondisi ini?”

Semoga semua percakapan kita dengan anak dan dengan diri sendiri dapat menjadi percakapan syukur dan doa.

Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s