“Bukan aku tak mau menyampaikan cinta, aku tak tahu, Nak.” Catatan di Hari #Ayah 2015

  

Selamat Hari Ayah 2015.

Beberapa catatan penting yang kupelajari hari ini dari acara Peluncuran Materi Pengayaan Orangtua dan Guru PAUD adalah:

– Emosi negatif sudah menjadi bagian hidup anak Indonesia.  93% anak pernah mengalami tindak kekerasan di rumah atau sekolah (Save The Children, survey di 10 propinsi).

– 82% remaja menganggap orang tua otoriter, 50% pernah dihukum secara fisik, 39% mengatakan orang tua pemarah (FEKMI, 2003).

– Orang tua adalah pendidik terpenting, dan paling tak tersiapkan (Anies Baswedan).

– Kebanyakan orang tua mendidik berdasarkan rabaan, tradisi dan kebiasaan, bukan pengetahuan.

Catatan-catatan tersebut disampaikan oleh Ibu Ferry Farhati Baswedan sebagai latar belakang dari diluncurkannya program pengayaan orangtua dan guru PAUD ini.

Selanjutnya Ayah Irwan menyampaikan bahwa Indonesia masuk dalam kelompok Fatherless Country dan anak-anak Indonesia termasuk kelompok lapar ayah.

Menurut Ayah Irwan ada beberapa hal yang menyebabkan hal-ha di atas terjadi:

  • Orang tua memiliki masalah dalam mencintai dirinya sendiri. Hanya orang yang benar-benar mencintai dirinya mampu mencintai orang lain, termasuk keluarganya.
  • Orang tua memiliki tingkat stress yang tinggi, yang tak diselesaikan di luar rumah sehingga terlampiaskan pada keluarganya.
  • Orang tua tidak merasa perlu belajar untuk menjadi orang tua. Contoh dari orang tuanya sendiri yang menjadi acuan mereka mendidik anak, yang juga belum tentu berdasarkan ilmu atau panduan yang jelas.
  • Orang tua bukannya tidak mau mendidik dengan cinta, tapi tidak tahu, dan tidak mencari tahu. 

Demikian juga guru PAUD. PAUD adalah tempat anak tumbuh kembang di luar rumah. Guru-gurunya sebagian besar adalah ibu-ibu PKK yang belum tentu faham ilmu pendidikan anak usia dini.

Untuk itulah kami, Sanggar Fortune dan Komunitas Rumah Pencerah, meluncurkan materi-materi pengayaan ini, untuk memberikan panduan bagi orang tua, guru PAUD dan relawan dalam bidang pendidikan usia dini.

Ada lima nilai yang penting sekali untuk dianut orang tua dan guru dalam mendidik anak, yang disampaikan dalam materi-materi ini;

🌻 Cinta. 

Pendidikan anak wajib didasari cinta. Cinta perlu secara eksplisit dikatakan dan ditunjukkan secara fisik. Anak membutuhkan orang tua dan pengajar yang mampu membuatnya merasa dicintai. Cinta inilah yang akan menjadi modal baginya menyayangi dirinya sendiri dan orang lain di masa depan.

Ketidakmampuan orang tua menyampaikan cinta akan melahirkan anak yang gersang dan lapar. Ia akan sulit menjadi pemberi di masa dewasanya karena ia masih merasa “hampa” dalam hidupnya.

🌻 Visioner

Orang tua dan guru yang mampu bermimpi akan lebih mudah mendidik anak yang mampu bermimpi pula. Masa depan anak akan sangat ditentukan oleh kemampuannya bermimpi.

🌻 Semangat belajar

Anak sangat dinamis. Orang tua perlu memberikan bimbingan secara dinamis pula. Apa yang baik di masa kita kecil belum tentu dapat diterapkan pada anak-anak kita. Belajarlah terus untuk menentukan metode terbaik khusus untuk anak kita, karena tiap anak unik. Kegemaran belajar juga akan ditiru anak, modal penting bagi masa depannya.

Orang tua yang tak mampu menandingi dinamika anak akan membuat anak membutuhkan stimulan di luar orang tua, antara lain gadget.

🌻 Relijius

Agama adalah dasar segalanya. Inilah manual hidup paling dasar bagi orang tua untuk mendidik anak. Bagaimana orang tua dapat mendidik anak menjalankan manual hidup ini kalau mereka sendiri tak menguasainya.

🌻 Kehadiran

Banyak orang tua tak hadir saat anak membutuhkannya sehingga mereka mencari figur lain. Sayangnya figur ini banyak didapat dari asisten rumah tangga yang juga belum tentu tahu dinamika pengasuhan anak.

Pada saat tak ada yang hadir, anak dapat mengalami krisis yang berdampak panjang di masa depannya.

  

Marilah kita simak puisi Kahlil Gibran mengenai anak di bawah ini.

Anak

Anakmu bukanlah milikmu,mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau.

Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian.

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya, hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Yuk, sama-sama kita bantu anak-anak Indonesia tumbuh lebih berdaya.

Bagi yang ingin:

  • menyelenggarakan pelatihan orang tua dan guru PAUD
  • pesan materi “Menjadi Orangtua Cerdas” atau 
  • bertanya seputar materi “Guru Cahaya Masa Depan” bisa hubungi Esvy di +6285697403656.

Pembayaran dilakukan melalui rekening Mandiri a.n Komunitas Rumah Pencerah 101-00-0735655-1

Kemudian mengirimkan bukti transfer melalui :

WA/Telp : +6285697403656

Line : aspary

e-mail : esvy@rumahpencerah.org

Buku bisa diambil di KRP (Dengan membuat janji terlebih dahulu) atau dikirim dengan Go-Jek (Satu hari) atau JNE (2-3 hari)

*harga buku belum termasuk biaya pengiriman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s