Mereka yang berbakti pada ibunya adalah manusia mulia

  

PEJUANG yang MENCIUM TANGAN ISTERINYA.

Alkisah, sambil mencium tangan istrinya, Mustafa Chamran mengucapkan “Terima kasih.”

Tentu saja istrinya heran dan bertanya: “Terima kasih untuk apa, Mustafa?”

Lalu, air mata Mustafa pun berurai.
Lelaki itu menjawab isterinya, “Inilah tangan yang telah mengabdi pada ibunya di hari-hari yang sulit. Tangan ini suci bagiku dan aku harus menciumnya.”

Sang bini berkata lagi, ”Mengapa engkau berterima kasih padaku? aku berbuat begitu lantaran beliau adalah ibuku, bukan ibumu. Justru engkaulah yang telah berbuat baik kepada beliau.”

Mustafa lalu menanggapi, “Tangan yang mengabdi pada ibunya (adalah tangan yang) suci. Orang yang tidak berbuat baik pada ibunya, tidak akan baik pada siapapun. Aku berterimakasih karena engkau telah mengabdi pada ibumu dengan penuh cinta dan kasih sayang.”

“Mustafa, setelah semua perlakuan kasar yang mereka lakukan padamu, engkau masih mengucapkan kata-kata seperti ini?”

“Mereka berhak berbuat demikian lantaran mereka menyayangimu. Mereka tak seberapa mengenal aku. Dan itu sangat wajar, setiap orangtua ingin menjaga anak gadisnya.”

Mustafa Chamran meminta istrinya untuk selalu menemani ibu isterinya (mertua Chamran) hingga sembuh dari sakitnya. 
Ia seorang pejuang di medan perang, tapi hatinya amat lembut, dan nilai kemanusiaan di dalamnya amat menyentuh. 

Ini kata Chamran kepada istrinya, “Berusahalah dengan cinta dan kasih sayang untuk membuat kedua orangtuamu ridha. Aku tidak suka, sementara aku menikah denganmu (tetapi) hati ayah ibumu terluka.”

🌾

Mustafa Chamran Savei adalah sosok pejuang Islam yang mati syahid saat berjuang untuk negaranya. 

Dalam buku karya Habibah Ja’fariyan, berjudul ‘Chamran be Rewoya-e Hamsar-e Syahid’ (yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh penerbit Qorina), pembaca akan terpukau pada kisah “human interest” yang indah, penuh cinta dan kemesraan suami-isteri.

Chamran, yang pernah menjadi Menteri dan turut membidani berdirinya Gerakan Perlawanan “Amal” (anti Israel) di Lebanon bersama Musa Sadr, ikut berperang membela negaranya. 

Chamran juga salah seorang pendiri Hizbullah, sehingga pemimpinnya yang sekarang pun, Sayyid Hasan Nasrallah, sangat menghormati Chamran.

Scientist itu meraih gelar Master of Science dari Texas A&M University, AS. Gelar PhD-nya diperoleh Chamran dari the University of California, Berkeley, AS.

Pahlawan Iran itu syahid pada 20 Juni 1981, dan namanya diabadikan menjadi nama jalan, nama gedung, dan berbagai tempat penting, baik di Iran ataupun di Lebanon.

Chamran adalah legenda.

Chamran adalah seorang ilmuwan (scientist) yang pernah menjadi Menteri Pertahanan pertama pasca-revolusi Islam Iran. Ia juga pernah menjadi anggota parlemen negeri itu.

Pada akhir tahun 50-an, Mustafa Chamran pindah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikannya. Ia meraih gelar Master of Science dari Texas A&M University. Gelar PhD-nya diperoleh Chamran dari the University of California, Berkeley, pada tahun 1963.

Pada tahun 60-an, ia menjadi salah satu anggota senior Gerakan Perdamaian Iran, yang dipimpin Mehdi Bazargan. Chamran menjadi salah seorang anggota sayap gerakan itu bersama tokoh-tokoh seperti Ebrahim Yazdi, Sadegh Ghotbzadeh dan Ali Shariati. Sebagai orang pergerakan anti Syah Iran, Chamran dan kawan-kawannya memperkuat ketrampilan militer mereka. Ia antara lain mendapatkan latihan militer di Kuba dan Mesir.

Pada tahun 1971, Chamran meninggalkan AS menuju Lebanon, dan bergabung dengan PLO (Palestine Liberation Organization) dan Gerakan Amal (Afwaaj al-Muqawwamah al-Lubnaniyah) di Lebanon Selatan. Chamran bahkan membantu pendirian Amal, dan sempat menjadi tangan kanan Musa Sadr, pendiri Amal.

Di masa perang antara Iran dan Irak (yang berlangsung selama delapan tahun, 1980 – 1988), Chamran memimpin pasukan infanteri. Mantan komandan tentara sukarelawan paramiliter (Pasdaran) Iran itu, tertembak kaki kirinya oleh mortar tentara musuh hingga dua kali. Namun ia menolak meninggalkan pasukannya. Baru pada 20 Juni 1981, ketika perang makin gencar, Chamran mati syahid. Jasadnya kini terbaring di pemakaman Behesht-e Zahra, Teheran.

+++

Ternyata ia juga memiliki jiwa yang romantis dan sangat menyayangi dan menghormati wanita (istrinya). Ia sering merapikan tempat tidur dan menyediakan sarapan untuk istrinya hingga akhir hayatnya (walau lebih didasari oleh janji yang diucapkannya kepada ibu mertuanya). Ia menjadi contoh yang luar biasa. Ia seperti hendak mengingatkan kita pada kebiasaan yang dilakukan Nabi saw kepada istri-istrinya. 

Kiriman Pak Syafiq Basri, Group SS. Selengkapnya ada di: http://wp.me/p5zLi-2hl

Sumber gambar: https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Portrait_of_Mostafa_Chamran.JPG

🌻🌿🌻🌿🌻🌿🌻

Kisah yang indah.

Apa arti kisah ini bagi sahabat semua?

Apa teladan yang bisa dibawa untuk kehidupan sahabat?

Apa hal paling sederhana yang bisa diteladani dari seorang Chamran?

One thought on “Mereka yang berbakti pada ibunya adalah manusia mulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s