Sudahkah anda menjadi tuan dari harta? Atau hartakah tuan anda sesungguhnya?

  
Harta adalah ujian, seperti juga kehidupan dunia lainnya. Ia diberikan pada kita sebagai karunia sekaligus ujian. Banyak syarat dan tugas yang terkait dengannya. Kalau kita menjalankan semua tugas tersebut, kita lulus ujian menjadi tuan dari harta kita. Kita yang mengatur harta.

Tapi kalau kita terbuai dengannya sehingga tak lagi menjalankan semua kewajiban akibat mengejarnya, sah lah ia menjadi tuan kita.

Jadi andakah sang tuan atau harta dan kehidupan dunia yang menjadi tuan?

Apakah hal-hal ini terjadi pada anda?

1. Anda tidak bersiap-siap saat waktu shalat akan tiba, karena sibuk dengan berbagai pekerjaan.

2. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun membuka lembaran Al Qur’an lantaran Anda terlalu sibuk.

3. Anda sangat perhatian dengan omongan orang lain tentang diri Anda, dan bukan apa nilai anda di mata Allah swt.

4. Anda selalu berpikir setiap waktu bagaimana caranya agar harta Anda semakin bertambah dan tak terlalu fokus pada bagaimana agar amal semakin bertambah.

5. Anda marah ketika ada orang yang memberikan nasihat bahwa perbuatan yang Anda lakukan adalah haram.

6. Anda terus menerus menunda untuk berbuat baik. “Aku akan mengerjakannya besok, nanti, dan seterusnya.”

7. Anda selalu mengikuti perkembangan gadget terbaru dan selalu berusaha memilikinya.

8. Anda sangat tertarik dengan kehidupan para selebriti.

9. Anda sangat kagum dengan gaya hidup orang-orang kaya.

10. Anda ingin selalu menjadi pusat perhatian orang.

11. Anda selalu bersaing dengan orang lain untuk meraih cita-cita duniawi.

12. Anda selalu merasa haus akan kekuasaan dan kedigdayaan dalam hidup, dan perasaan itu tidak dapat dibendung.

13. Anda merasa tertekan manakala Anda gagal meraih sesuatu.

14. Anda tidak merasa bersalah saat melakukan dosa-dosa kecil, selama hal itu membawa nikmat. Seakan-akan tak peduli bencana yang ada dibaliknya, baik di dunia maupun akhirat.

15. Anda tidak mampu untuk segera berhenti berbuat yang haram, dan selalu menunda bertaubat kepada Allah.

16. Anda tidak kuasa berbuat sesuatu yang diridhai Allah hanya karena perbuatan itu bisa mengecewakan orang lain

17. Anda sangat perhatian terhadap harta benda yang sangat ingin Anda miliki.

18. Anda merencanakan kehidupan hingga jauh ke depan untuk dunia dan lupa masa depan sesungguhnya yang ada di akhirat.

19. Anda menjadikan aktivitas belajar agama sebagai aktivitas pengisi waktu luang saja, setelah sibuk berkarir. Sisanya, kalau sempat… untuk agama.

20. Anda memiliki teman-teman yang kebanyakannya tidak bisa mengingatkan Anda kepada Allah.

21. Anda menilai orang lain berdasarkan status sosialnya di dunia.

22. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun terbersit memikirkan kematian.

23. Anda meluangkan banyak waktu sia-sia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.

24. Anda merasa sangat malas dan berat untuk mengerjakan suatu ibadah.

25. Anda tidak kuasa mengubah gaya hidup Anda yang suka berfoya-foya, walaupun Anda tahu bahwa Allah tidak menyukai gaya hidup seperti itu.

26. Anda senang berkunjung ke negeri-negeri kafir dan enggan pergi ke Baitullah.

27. Anda diberi nasihat tentang bahaya memakan harta riba, akan tetapi Anda beralasan bahwa beginilah satu-satunya cara agar tetap bertahan di tengah kesulitan ekonomi.

28. Anda ingin menikmati hidup ini sepuasnya.

29. Anda sangat perhatian dengan penampilan fisik Anda dan lupa mendandani jiwa anda.

30. Anda meyakini bahwa kematian dan hari kiamat masih lama datangnya.

31. Anda melihat orang lain meraih sesuatu dan Anda selalu merasa iri dan berpikir agar dapat meraihnya juga, bahkan melebihinya.

32. Anda ikut menguburkan orang lain yang meninggal, tapi Anda sama sekali tidak memetik pelajaran dari kematiannya.

33. Anda ingin semua yang Anda harapkan di dunia ini terkabul.

34. Anda mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa agar bisa segera melanjutkan pekerjaan.

35. Anda tidak pernah berpikir bahwa hari ini bisa jadi adalah hari terakhir Anda hidup di dunia.

36. Anda merasa mendapatkan ketenangan hidup dari berbagai kemewahan yang Anda miliki, bukan merasa tenang dengan mengingat Allah.

37. Anda berdoa agar bisa masuk surga namun tidak sepenuh hati seperti halnya saat Anda meminta kenikmatan dunia.

Kalau anda mengalami sebagian besar dari hal di atas, mohon maaf, anda adalah budak dari harta dan dunia anda. Anda belum menjadi tuan yang menjadikan harta dan dunia sebagai modal meraih istana di akhirat.

Lalu apa yang dapat membuat anda menjadi tuan dari harta dan dunia?

Apa hal terkecil yang dapat pelan-pelan pindah dari kondisi di atas ke kondisi sebaliknya?

Bagaimanakah anda dapat terus menjaga jalan anda sebagai tuan?

Semoga kita semua dapat terus menjadi tuan yang berkuasa atas harta dan kehidupan dunia kita, menjadikan mereka bekerja untuk meraih surgaNya di bumi dan langit.

🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹

Terinspirasi dari tulisan Ust. Raehanul Bahraen, kiriman Dr Budi Handrianto 19 Januari 2015, yang disampaikan pada group ODOJ Fasil delapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s