Milikmu bukan hanya untukmu, ada hak orang lain di dalamnya

  

 Kemarin ada kejadian luar biasa. Saya bisa duduk di kereta yang saya naiki dari Bogor.

Yang luar biasa bukan saya. Yang luar biasa adalah keretanya. Di luar kebiasaan agak telat datang dari dipo. Di luar kebiasaan pintunya berhenti tepat di depan saya berdiri.

Tapi entah mengapa, karena luar biasa, jadi ada rasa aneh yang tidak biasa.
Kenapa saya bisa duduk? Biasanya tidak. Pasti ada skenario Allah yang indah.
Pertanyaan tersebut terus hadir diiringi keyakinan akan ada sesuatu namun tak tahu itu apa.

Lalu jawabannya hadir pada satu stasiun setelah Bogor. 

Jawabannya ada pada seorang ibu dan anak yang naik di stasiun Cilebut dan tidak mengarah ke bangku prioritas. Dia mengarah ke diriku dengan pandangan yang seakan berkata, “ini jawaban atas pertanyaanmu.”

Ya, Allah lah yang membuat aku duduk untuk kemudian membagi rezeki tersebut kepada ibu dan anaknya.

Tak semua untukmu.
Apa yang ada pada dirimu, apa yang kau rasakan, apa yang kau miliki memang sepenuhnya bukan milikmu.

Ketika kau memiliki pekerjaan yang lebih baik dibandingkan rekanmu yang lain, artinya ada tuntutan prestasi yang harus kau berikan dibanding rekanmu yang lain.
Ketika jabatanmu lebih baik dibandingkan yang lain, artinya ada kontribusi yang harus kau lakukan dibanding rekanmu yang lain.

Ketika begitu banyak harta dan kesenangan yang Allah titipkan kepadamu, artinya ada bagian yang banyak juga untuk para anak yatim dan fakir miskin.

Ketika gelar akademikmu lebih banyak dibandingkan yang lain, artinya ada ilmu yang harus kau bagi kepada yang lain agar ilmu tetap hidup dan bermanfaat.

Dan ketika buah hatimu lebih banyak dibanding yang lain, artinya lebih banyak waktu yang harus kau beri untuk menyayangi dan mendidik mereka

Tak semuanya untukmu.
Bahkan ketiadaan yang ada padamu pun tak semuanya untukmu.

Ketika jabatanmu belum setinggi yang lain, artinya ada rizki orang lain yang lebih sesuai dan dibutuhkan melalui jabatan tersebut.

Ketika kau menaiki kendaraan umum karena Allah belum titipkan kendaraan pribadi untukmu, artinya ada rizkimu yang menjadi bagian rizki supir angkot, tukang ojek atau tukang becak.

Ketika rizkimu tak begitu cukup untuk makan di restoran mewah, artinya ada rizkimu yang menjadi bagian para pemilik warteg dan pedagang kaki lima yang sangat berharap dengan kedatanganmu di warungnya.

Ketka kau tak bisa belanja bulanan di supermarket yang lengkap karena rizkimu tidak bulanan, artinya ada pedagang kelontong sekitarmu yang mengharapkan sebagian dari rizki harian yang kau dapatkan.

Ketika buah hati tiada hadir bertahun-tahun, artinya ada rizki, perhatian dan kasih sayang yang menjadi bagian saudara-saudaramu atau mungkin anak-anak jalanan yang sedang kau bina.

Tak semuanya untukmu.
Karena pada hakikatnya semua itu adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Dari mana kau dapatkan dan untuk apa kau habiskan.
————-
Kembali ke duduk di kereta.

Pertanyaan menggelitik timbul ketika melihat penumpang lain yang bernasib sama di Bogor dan hingga Manggarai masih tertidur lelap. Bukankah “itu” semua untuknya? Kenapa kau tak bersikap yang sama?

Wallahu a’lam.

Bisa jadi Allah berikan kantuk untuknya agar dirinya pulih atas tenaga yang dia berikan kemarin dalam mencari nafkah halal bagi keluarganya.

Atau bisa jadi dia tak peduli dengan kondisi sekitar sehingga Allah akan ambil rizki yang dia miliki untuk orang lain dengan cara yang lain.

Wallahu a’lam.

Kita hanya perlu meyakini bahwa apa yang ada pada dirimu memang tak semuanya untukmu.

-berbagi tak pernah rugi-
M Zulkifli

🍀💐🍀💐🍀💐🍀💐

Tulisan yang begitu indah dan menyentuh hatiku.

Hidup memang rangkaian permainan dari Allah.

Di saat kita diberi karunia, sesungguhnya kita sedang diminta untuk berbagi.

Di saat kita tak mendapat apa yang kita inginkan, sesungguhnya kita sedang diminta belajar untuk merasa cukup dan ikhlas akan apa yang ada.

Dari sinilah Allah memberikan nilai dan ponten permainan hidup kita. Yang berat timbangan ponten nya, insya Allah akan mendapat hadiah dariNya, baik di dunia maupun akhirat. 

Sungguh indah aturan main Allah. Semua didasari cinta dan kasihNya, dan membuatku bertanya, sudahkah aku berbagi hari ini?

Apa lagi yang dapat kubagi?

Bagaimana agar aku dapat berbagi lebih banyak bagi lebih banyak makhlukNya?

Bagaimana agar aku konsisten menjaga nikmat berbagi dalam hidupku?

Dan bagaimana menjadikan semua yang dibagi ini terus membawa manfaat sampai akhir zaman?

Rodloilah kami membangun amal jariah yang terus mengalirkan berkah dan manfaat bagi alam semesta sampai akhir zaman, ya Allah.

Aamiin yra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s