Semut mati karena gula. Apakah “gula” yang bisa membinasakanmu?

  
Pepatah mengatakan, “ada gula ada semut.” Semut sangat suka akan gula. Di mana ada gula semut akan merubung. Mau panggil semut? Taburkan saja gula. 

Tapi pepatah pun mengatakan “mati semut karena gula.” Karena tak mampu mengukur mereka pun sering jatuh ke dalam minuman manis.

Demikianlah juga manusia. Banyak sekali nikmat dunia yang sesungguhnya diberikan sebagai cobaan. Kalau kita mampu mengukur dan membatasi karunia itu menjadi gula yang manis dan nikmat. Tapi kalau kita serakah dan tak mau mengukur, membatasi, karunia pun menjadi sumber bencana.

Karunia dapat menjadi berhala sembahan manusia.

Saat sedekah berat dikeluarkan,
Saat kita terus menumpuk harta benda,
Saat memilih mengkoleksi barang mewah daripada memberikan dananya pada kaum dhuafa,
Saat kita mengejar tahta, lupa pada sesama,
Saat yang haram terlihat menarik dan yang halal terlihat membosankan,
Saat membicarakan orang lain terasa niimat dan tak dapat ditinggalkan,
Saat shalat dluha terasa tak penting karena “banyak kerjaan”
Saat shalat fardlu pun dikerjakan di akhir waktu karena “meeting penting.”

Semua yang kita prioritaskan tadi telah menjadi berhala, gula yang membinasakan kita, menjauhkan kita dari keselamatan dunia akhirat.

Dan saat hal itu terjadi, itulah saatnya kita perlu berkaca dan bertanya, mengapa kita begitu melekat pada gula kita dan lupa pada keselamatan dunia akhirat?

Karena sesungguhnya manusia diciptakan dalam kondisi baik. Tiap bayi adalah kebaikan, suci tak berdosa.
Apa yang kita lakukan sehingga gula kita mampu menjauhkan kita dari kebaikan?
Mengapa nurani kita tertutup dan tak mampu menjaga rasa, pikir, kata dan laku kita dalam kebaikan?
Kenapa sinyal dan pesanNya tak sampai pada kita?

Lalu apa yang dapat mengembalikan kita pada kebaikan?
Apa yang dapat membuat kita menakar untuk mencari gula sebagai sarana mencari kebaikan? menjadi sumber kebaikan?
Bagaimanakah kita dapat menjernihkan lagi nurani kita agar jernih menjaga kita dalam kebaikan?

Marilah kita terus menjaga diri dalam jalanNya, agar tak ada gula yang mampu menggoda kita untuk binasa.

Aamiin yra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s