Tanda-tanda manusia yang sudah berkurban secara sempurna: bahagia dan tenang lahir batin.

image

Bayangkan seorang Ibu yang baru melahirkan bayi, dibawa ke sebuah gurun yang kosong tak berpenghuni, dan ditinggalkan di sana sendirian tanpa bekal apapun oleh suaminya.

Inilah yang dialami Siti Hajar dan Nabi Ismail as kecil. 

Sebagai seorang ibu yang baru melahirkan bayi dikurbankannya keinginannya untuk dilayani dan dibantu, dijaga dan didukung untuk mengurus bayinya. Sebagai seorang istri dikurbankannya hak untuk minta dibantu oleh suaminya, ditemani dan dimanja saat ia kelelahan menyusui anaknya.

Tapi Ibu yang satu ini dengan tegar menjalani semuanya tanpa mengeluh. Ia mantap dalam penyerahan diri total pada Allah swt.

Bayangkan seorang ayah yang sangat merindukan anak laki-lakinya. Saat ia berjumpa kembali setelah sekian lama tak berjumpa ia diperintahkan untuk mengorbankan anaknya.

Bayangkan seorang anak yang mendengar bahwa bapaknya yang sangat dicintai dan dirindukannya akan mengurbankan dirinya.

Inilah yang dialami Nabi ibrahim as dan Nabi Ismail as.

Bayangkan semua itu terjadi pada kita.

Lazimnya manusia yang mengalami hal itu merasa marah, bingung, hancur hatinya, sedih berkepanjangan, bahkan sampai merasa dunia akan runtuh. 

Kok bisa suami meninggalkan istri seorang diri dengan bayi?

Kok bisa ayah mengorbankan anaknya?

Tapi apakah mereka merasa runtuh hidupnya? Apakah mereka marah menyalahkan Allah? Apakah mereka stress dan ketakutan?

Tidak. Mereka sangat tenang dan yakin. Allah yang membawa mereka pada kondisi itu, Allah pula yang akan menjaga mereka. Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang pasti menjaga mereka dan hanya menginginkan yang terbaik bagi mereka.

Allah izinkan hal di atas terjadi sebagai contoh bagi kita semua, umat manusia. Kalau sesuatu Allah izinkan terjadi, pasti Allah akan menjadi penanggung jawab utamanya.

Bukan berarti kita tak berusaha. Ibunda Siti Hajar sampai harus bolak balik tujuh kali dari bukit Safa dan Marwa, baru air zam zam dimunculkan. Nabi Ibrahim benar-benar siap melakukan pengurbanan baru anaknya diganti.

Itu semua contoh bagi kita.

Tak perlu marah pada Allah, marah pada pasangan, ketakutan, sedih atau stress. Dalam setiap ujian, mintalah petunjukNya dan berusahalah dengan usaha terbaik. Allah pasti bantu.

Fokus pada hari ini, saat ini dan pada sikap kita menjalani tugas dariNya. Tak ada guna larut dalam penyesalan masa lalu, “Kenapa begini, kenapa begitu.” Atau, “Harusnya begini harusnya begitu.” Jangan pula larut dalam kekhawatiran akan masa depan, “Kalau begini atau begitu, bagaimana?”

Tenang saja, yakin, dan lakukan yang terbaik. Ini yang dicontohkan dan diajarkan dari kisah hidup Nabi Ibrahim as sekeluarga yang diabadikan dalam perayaan Iedul Adha setiap tahun.

Allah sudah menyusun sistem reward punishment terkait hal ini. 

Kalau kita bisa dengan mantap mengatakan, “Hidupku matiku hanya untuk Allah swt. Maka apapun ketentuanNya kuterima dengan baik dan penuh syukur,” seperti yang diyakini Nabi Ibrahim as sekeluarga maka mujizat Allah hadir di mana-mana.

Tapi kalau kita stress, takut, khawatir, marah, sedih berkepanjangan, berbagai gangguan kesehatan siap menanti. Semua rasa ini adalah wujud lemahnya iman, tidak yakin pada Allah, dan adanya hal-hal lain yang dituhankan, mengalahkan keyakinan pada Allah swt. Stress adalah sumber dari berbagai penyakit. Demikianlah Allah sudah mengatur dan menentukan hadiah dan hukumanNya.

Hati-hati.

Jadi sudahkah kita kurbankan segalanya dalam hidup kita, karena hidup dan mati kita memang hanya untuk Allah?

Sudahkah kita ikhlas diberikan ujian, termasuk misalnya kanker, dan berikhtiar penuh dengan penuh rasa syukur?

Sudahkah kita yakini bahwa di atas dokter ada Sang Maha Penyembuh dan tetap berikhtiar serta bersyukur meskipun dikatakan hidup kita tinggal 6 bulan lagi? Hidup dan mati kita hanya untuk Allah, bukan? Kalau sampai kita diberi petunjuk bahwa hidup hampir berakhir, harusnya kita terima kasih, bukan? Orang lain banyak yang tak diberikan petunjuk dan waktu bersiap-siap.

Kenapa harus bilang dunia terasa mau runtuh? Kenapa harus marah pada Allah? Kenapa harus demotivasi? Badan, jiwa kita semua milikNya, terserah Allah mau diambil kapan, bukan?

Apa yang dikhawatirkan? Anak? Suami? Kenapa lemah keyakinan kita bahwa Allah Maha Penjaga dan Maha Mencukupi? Siapa lagi yang kita tuhankan dan membuat kita tak mau menerima keputusanNya?

Yang paling banyak dituhankan manusia adalah egonya. Kenapa harus marah, sedih, dendam, stress kalau dihina, dikhianati, didzalimi? Yang berdosa bukan kita kan? Kenapa kita merasa direndahkan? Tak ada yang bisa membuat kita merasa rendah selain diri kita sendiri bukan? Allah menciptakan kita begitu baik, kalau kita merasa kecil, kita mengecilkan ciptaanNya. Ego kita memang tersakiti. Maka marilah kita merunduk dalam dengan tawadlu, rendahkan hati serendah-rendahnya agar tak merasa sakit kalau direndahkan manusia lain. Yakinlah bahwa Allah Maha Memuliakan dengan dasar taqwa.

Marilah kita evaluasi, apakah kita sudah tenang dan bahagia dengan mensyukuri semua cobaanNya?

Tuhan yang mana lagi yang harus kita kurbankan agar kita mantap dengan keyakinan, “Hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan Pencipta Sekalian Alam?” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s