Iedul Adha: saat mengevaluasi apakah kita sudah merunduk dalam keikhlasan dan ketaatan hanya padaNya?


Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba ๐ŸŒน Semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhuโ€™ dan kasih sayangnya.

๐ŸŒน Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.

๐ŸŒน Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya.

๐ŸŒน Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama.

๐ŸŒน Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.โ€
(Al-Fawaโ€™id, hal. 149).

Saat semua karunia menambah kerendahan hati, tak akan masalah pula kalau Allah ambil kembali semuanya, karena bukan karunia dunia yang menjadikan kita manusia berharga.

Di Hari bahagia Iedul Adha ini marilah kita ingat bahwa kita semua tidaklah beda dengan Nabi Ibrahim as, dan setiap Ibrahim memiliki Ismail.

Apakah hal yang kita pegang teguh di dunia ini dan sangat kita cintai? Bahkan membuat kita merasa berarti tanpanya?

๐Ÿƒ Apakah Ismail kita harta kita? Apakah kita merasa lebih karena kita punya uang? Apakah saat bencana datang, harta hilang diambil kita merasa kecil dan tak berarti?

๐Ÿƒ Apakah Ismail kita kekuatan fisik dan kesehatan? Apakah kita merasa lebih karena kita lebih sehat dan kuat? Apakah saat sakit datang menjelang, yang ringan atau yang berat seperti kanker, kita terus bertanya, “Kenapa harus saya?”

๐Ÿƒ Apakah Ismail kita pasangan kita? Apakah kita merasa lebih karena suami, istri, anak atau keluarga kita? Apakah kalau ada apa-apa dengan keluarga atau pasangan, kalau ia pergi, selingkuh, bangkrut atau meninggal, kita merasa dunia runtuh?

๐Ÿƒ Apakah Ismail kita posisi dan jabatan? Apakah ia membuat kita merasa lebih tinggi? Kalau Allah ambil posisi dan jabatan, apakah kita akan sakit hati dan alami post power syndrome?

Allah tahu kita semua punya Ismail yang kita cintai dan Allah selalu menguji apakah hidup kita hanya untukNya atau untuk Ismail kita?

Ikhlaskah kita untuk melepasnya dan bertumpu hanya padaNya?

๐ŸŒน Ikhlas dengan harta karena percaya Allah Maha Mencukupi?

๐ŸŒน Ikhlas dengan kekuatan dan kesehatan yang ada, karena percaya Allah Maha Tahu apa yang terbaik?

๐ŸŒน Ikhlas dengan posisi karena yakin Allah Maha Memuliakan?

๐ŸŒน Merelakan keluarga karena yakin Allah Maha Kasih dan Maha Penyayang?

๐ŸŒน Melepas kerja saat waktu shalat tiba karena yakin rejeki hanya dari Allah?

Yakinlah bahwa kita hanya butuh Allah saja untuk menjadi manusia mulia di bumi dan di langit. Bukan harta, anak, pasangan, kerja, posisi atau karir yang membuat kita sangat berharga dan terhormat.

Marilah kita bangun sikap tawadlu, zuhud dan ikhlas atas semua ketentuanNya. Seperti Nabi Ibrahim yang ikhlas mengorbankan Ismail nya tercinta yang didambakan bertahun-tahun sebelumnya.

Jadi, Ismail kita yang manakah yang harus kita ikhlaskan hanya untukNya?

๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s