Budak harta = menjadikan harta sebagai PRIORITAS. Ibadah pun harus menyesuaikan.

  

ENGKAU ADALAH MILIK HARTA, JIKA…

“Sesungguhnya engkau adalah milik harta jika engkau menahan harta tersebut. Dan harta menjadi milikmu tatkala engkau menginfakkan harta tersebut.” (Al-Ahnāf bin Qais)

Dan ini benar, bahwasanya jika seorang dia mencari harta yang banyak, sementara tidak dia infaqkan maka sesungguhnya dialah milik harta. 

Kenapa? 

Karena dia bekerja keras untuk mencari harta tersebut, dia tunduk kepada harta tersebut sementara harta tersebut bukan miliknya. 

Oleh karenanya, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda: 

“Sungguh celaka penyembah dinar dan sungguh celaka penyembah dirham.” (HR. Bukhāriy)

Di sana ada orang-orang yang benar-benar diperbudak oleh harta, dinar dan dirham. Waktunya habis untuk tunduk kepada dinar dan mencari harta tersebut. 

Bahkan ibadahnya diatur oleh harta tersebut. Kapan hartanya mengatakan, “Tunda ibadahmu, tinggalkan ibadahmu.” Maka demi harta dia akan tinggalkan dan tunda-tunda ibadahnya. 

Maka benarlah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Sungguh celaka penyembah dinar dan sungguh celaka penyembah dirham.”

Adapun jika harta tersebut kita ingin infaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka sesungguhnya harta tersebut milik kita. 

Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istri Nabi untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā: “Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?”

Maka kata ‘Aisyah: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.”

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Seluruh kambing tersisa kecuali pundak kami yang tidak tersisa.”
(HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Tatkala ‘Aisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā menjelaskan kenyataan bahwasanya daging kambing semua sudah dibagikan tidak ada yang tersisa, yang belum dibagikan hanyalah bagian pundak kambing, maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan sebaliknya; justru yang telah dibagikan seluruhnya itulah yang tersisa. 
Artinya apa? Tersisa di akhirat. 
Itulah harta yang benar-benar milikmu, yang akan membangun istanamu di akhirat. 
Adapun yang belum dibagi, itu yang tidak tersisa, karena itu tidak jadi milikmu. 
Dan ini sesuai dengan sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam: 
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Ada 3 perkara yang mengikuti mayat tatkala mayat dikuburkan, yaitu keluarganya, hartanya dan amalannya. Maka yang 2 akan kembali yaitu keluarga dan hartanya. (HR. Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960 dari shahābat Anas bin Mālik) 
Tatkala seseorang dikubur maka harta dan keluarganya (istri dan anak-anak) tidak akan ikut dikubur. 
Akan tetapi yang tersisa ikut dikubur bersama adalah amalnya. 
Tatkala harta tidak diinfaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla atau tidak diinfaqkan sesuai yang diridhai Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka harta tersebut tidak akan menjadi amal. 
Tetapi saat harta tersebut diinfaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka berubahlah status harta tersebut menjadi amalan shalih dan akan menyertai sang hamba dalam kuburnya. 

Oleh karena itu, tatkala kita mencari harta, niatkanlah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Tatkala kita mencari nafkah untuk anak istri, niatkanlah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Tatkala kita mengumpulkan harta, niatkanlah bahwa harta tersebut akan kita gunakan sebagiannya untuk dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Karena saat kita mencari nafkah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan mengeluarkannya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka harta tersebut akan menjadi amal shalih yang akan menemani kita di kubur dan akan membela kita tatkala di akhirat kelak. 
Akan tetapi sebaliknya, jika ternyata harta tersebut tidak kita niatkan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita gunakan hanya sekedar untuk berfoya-foya, tidak ada tujuan yang jelas, membangun rumah yang tinggi tanpa niat karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita kumpulkan harta, tanah, emas, dollar, rupiah yang banyak tapi bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka sesungguhnya harta yang kita kumpulkan tersebut akan menjadi bumerang dan memperberat hisab kita di akhirat kelak. 
Allāh berfirman: 

“Sesungguhnya kalian akan benar-benar ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla atas segala nikmat yang kalian rasakan.” (At-Takātsur 8)

Sumber:

BimbinganIslam.com, Sabtu, 30 Syawwal 1436 H / 15 Agustus 2015 M oleh Ustadz Firanda Andirja, MA

Sumbangan untuk Bimbingan Islam program Bantu Papua: Bank Mandiri Syariah No.Rek 7814500017 a.n. Cinta Sedekah [Infaq]. Setelah transfer konfirmasi SMS ke : 0878-8145-8000 

Format konfirmasi :

#BantuDakwahPapua#Nama#Domisili#Tanggal Transfer#Nominal#:

#BantuDakwahPapua#Sarrah#Solo#31/8/2015#500Rb#

Kebutuhan dana untuk program #BantuDakwahPapua Rp. 1,5 Milyar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s