Kebaikan, kebaikan, kebaikan. Tak ada waktu untuk keburukan. “Panggilan pulang” bisa datang kapan saja.

  
Sebagai pemerhati dunia kanker dan penggiat Lavender Ribbon Cancer Support Group, aku sudah menemani, mendoakan, menghibur, menyaksikan banyak teman penyandang kanker. Setiap kali ada yang berpulang dalam group kami, kami sedih, merasa kehilangan, dan sering sekali aku harus bekerja keras memompa semangat teman-teman lainnya yang ada di dalam group. 

Banyak yang merasa takut. Sekarang giliran dia, lalu giliran saya kapan? 

Sahabat,

Sakit tidak mendekatkan ajal dan sehat tidak menjauhkan ajal. Berbahagialah kalau sampai kita diuji dengan sakit, karena kita diingatkan bahwa usia ada ujungnya, bahwa dunia hanya sementara.

Minggu lalu paman suamiku berpulang ke Rahmatullah. Pagi harinya masih antar cucu, lalu main tenis, siap-siap pulang, langsung jatuh, dan saat dicek beliau, yang pagi itu sangat sehat, sudah berpulang ke Rahmatullah.

Sangat tiba-tiba, dan sungguh benar kalau dikatakan sakit tak mendekatkan ajal, sehat tak menjauhkan ajal.

Bersyukurlah semua yang sempat disapa oleh sakit. Allah menyiapkan kita, membuat kita awas dan sadar akan hari yang pasti datang, dan tak diketahui saatnya. Keluarganya disiapkan, kita yang sakit pun bisa melakukan persiapan lebih banyak.

Waktu dokter mengatakan bahwa benjolanku kemungkinan besar kanker, aku sujud dan bertanya pada Allah, “Apa mau Allah atasku? Allah ingin apa dariku?”

Muncullah hikmah dan dialog dalam benakku saat itu. “Inilah peringatan, bahwa aku harus segera mempersiapkan diri menyiapkan hari yang pasti datang ini.”

Saat itu aku bertanya lagi, “Siapkah aku pulang?”

“Siapa yang siap? Jadi marilah segera bersiap. Jangan lengah. Alhamdulillah Allah berikan ini agar aku dan keluargaku selalu siap.”

Marilah kita selalu syukuri apapun yang Allah berikan, sahabat Lavender.

Termasuk kanker ini.

Biasakan menyebut “Alhamdulillah” dan “astaghfirullah” dalam setiap nafas agar kita selalu bisa bersyukur dan minta ampun.

Jagalah wudlu agar kita selalu suci, mengingatNya dan menjaga hati, menjaga rasa baik, menjaga kata dan perilaku agar Allah Ridlo. Setiap saat… Setiap detik. 

Karena panggilanNya BISA datang setiap detik.

Mungkin kisah yang saya terima di what’s app group pagi ini di bawah ini bisa menjelaskan mengenai hal ini.

🌹🌹🌹

Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang sedang bekerja di bawah.

Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.

Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp.1.000,- yang jatuh tepat di sebelah si pekerja.

Si pekerja hanya memungut Rp.1.000,- tersebut dan melanjutkan pekerjaannya.

Sang mandor akhirnya melemparkan Rp.100.000,- dan berharap si pekerja mau menengadah “sebentar saja” ke atas.

Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp.100.000,- dan kembali asyik bekerja.

Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja.

Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.

🌹🌹🌹

Nah, seperti itu jugalah kehidupan kita, Allah subhanahu wa ta’ala selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi “dunia” kita.

Nikmat dan rizki yang banyak seringkali melenakan kita. Bahkan banyak yang lupa bahwa semua rizki itu datang dari Allah swt. Seringkali kita merasa semua itu “hasil kerja keras kita” atau kalau sakit dan sembuh “berkat dokter yang hebat.”

Sakit adalah teguran agar kita lebih banyak lagi menengok ke atas, untuk berdoa dan merapat padaNya.

Janganlah lupa bahwa sakit adalah ujian yang jauh lebih mudah daripada nikmat. Waktu sel kankerku sudah tak ada lagi, aku berkata kepadaNya, “Allah aku sudah selesai nih sekolah kanker nya. Alhamdulillah aku tetap bersyukur. Pasti Allah masukkan aku ke sekolah yang lebih tinggi lagi. Sekolah apa lagi, ya Allah? Ujian apa lagi?”

Was was juga… Apa lagi nih.

Aku fikir-fikir, mungkin kesembuhan inilah ujian yang lebih tinggi. Tanpa ada sel kanker pun harus tetap punya intensitas ibadah seperti dulu.

Wow sulitnya… 

Ini memang ujian yang lebih berat, subhanallah.

Syukurilah semua nikmatNya, semasa kita hidup. Jadikan peristiwa berpulangnya sahabat dan kerabat kita sebagai pengingat agar kita terus mempersiapkan Hari H itu, yang pasti datang, tapi entah kapan.

Jangan sampai peristiwa kematian membawa demotivasi atau kesedihan berlarut-larut, karena dua hal itu menjauhkan kita dariNya.

Teruslah memperkuat iman dan memperbanyak amal sholeh, karena dua hal itulah yang kita butuhkan sebagai bekal di Hari H.

Kebaikan, kebaikan, kebaikan. Kita tak punya waktu untuk berfikir, merasa, berkata, berlaku buruk. Allah bisa panggil kita kapan saja. Sehat atau sakit, semua bisa mendapat panggilan kapan saja.

Lupakan yang tidak penting. Fokus pada kebaikan yang didasari iman.

🌹Jadi kebaikan apa yang akan kita lakukan dengan lebih baik dan lebih banyak hari ini?

🌹Bagaimana agar kita dapat terus memperbaiki dan memperbanyak amal sholeh tersebut?

🌹Mengapa itu penting?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s