Skip to content
Advertisements

Rayakan kehidupan dengan selalu berkarya. Jean-Dominique pun mampu menulis buku dan mendirikan asosiasi dengan kode mata karena lumpuh 100%.

  

The Bubble and the Butterfly, Kisah Pemimpin Redaksi ELLE

Sahabat blog,

Banyak orang sehat sempurna, tanpa cacad, sakit bahkan kadang dalam kondisi harta berlimpah, mengatakan bahwa mereka sangat tidak bahagia. Mereka merasa hampa dan tak mampu mensyukuri berbagai nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan Sang Pencipta untuk mereka.

Kadang-kadang kita harus kehilangan karunia tersebut untuk bisa menghargai dan mensyukurinya. 

Coba tengok Jean-Dominique Bauby, mantan pemimpin redaksi Elle penulis memoir Le Scaphandre et le Papillon (The Diving Bell and the Butterfly). Pada tahun 1995 Jean-Do terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut ‘locked-in syndrome‘, kelumpuhan total yang disebutnya ‘seperti pikiran di dalam botol’.

Jean-Do sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi itulah caranya berkomunikasi dengan para perawatnya, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya. 

Mereka menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip bila mereka sampai pada huruf yang dipilihnya. Dengan cara itulah ia kemudian menulis memoir untuk bisa berbagi apa yang ia rasakan. Ia “menulis” dengan hanya menggunakan otot matanya. 

Dalam memoirnya itu ia menulis, “I would be the happiest man in the world if I could just properly swallow the saliva that permanently invades my mouth. (Saya akan menjadi manusia yang paling bahagia di dunia kalau bisa menelan ludah yang masuk ke dalam mulut saya.)”

Menelan ludah pun sudah menjadi anugerah yang besar baginya. Jean-Do merasa bahwa sakitnya awalnya membawanya tenggelam seperti diving bell, namun penyakitnya itu juga yang membuatnya bertransformasi seperti kupu-kupu. Itulah sebabnya bukuya diberi judul The Diving Bell and The Butterfly.

Dalam kondisi lumpuh itu juga ia sukses mendirikan asosiasi penderita ‘locked-in syndrome’ untuk membantu keluarga penderita. Ia juga menjadi “bintang film” dalam film yang dibuat TV Perancis yang menceritakan kisahnya. Ia merencanakan buku lainnya setelah ia selesai menulis yang pertama. 

Jean-Do mengatakan bahwa ia hidup untuk merayakan kehidupan, celebrate life, dengan melakukan kebaikan untuk orang lain.

Jadi kalau Jean-Do yang hanya bisa menggerakkan mata dan bahkan tak dapat menelan air ludah, bisa tetap fokus berbuat kebaikan dan tidak mengeluh, bagaimana dengan kita yang masih bisa mengetik di gadget dan membaca tulisan ini?

  
šŸŒ¹Jadi, karunia apakah yang dapat kita syukuri hari ini sebelum karunia itu diambil oleh Sang Pemilik?

šŸŒ¹Bagaimanakah kita dapat lebih banyak bersyukur setiap hari mulai hari ini?

šŸŒ¹Apakah panggilan hidup kita? Missi kita? Tujuan kita diciptakan di muka bumi ini?

šŸŒ¹Bagaimanakah kita dapat menggunakan semua karuniaNya untuk mewujudkan tujuan tersebut?

šŸŒ¹Bagaimanakah kita dapat mengurangi keluhan, kesedihan, kegalauan dan berbagai hal lain yang dapat menjauhkan kita dari tujuan itu?

šŸŒ¹Legacy atau warisan apa yang ingin kita ciptakan?

šŸŒ¹Kenapa hal itu penting?

Sumber:

Kiriman artikel dari Pak Stefanus, Lavender Ribbon Cancer Support group 

Fashion-statement: Jean-Dominique Bauby

ā€˜Diving Bell and Butterflyā€™ looks gorgeous

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: