Filosofi di balik ketupat: ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (lebaran, luberan, leburan, laburan)

  

Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan dan laku papat artinya empat tindakan:

Ngaku Lepat

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.

Laku Papat

Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran. Empat tindakan tersebut adalah:

1. Lebaran.

2. Luberan.

3. Leburan.

4. Laburan.

Arti Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan

🌹Lebaran

Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

🌹Luberan

Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.

Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

🌹Leburan

Maknanya adalah habis dan melebur. Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

🌹Laburan

Berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Nah, itulah arti kata ketupat yang sebenarnya.

Selanjutnya kita akan mencoba membahas filosofi dari ketupat itu sendiri.

Filosofi Ketupat:

🌹1. Mencerminkan beragam kesalahan manusia.

Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.

🌹2. Kesucian hati.

Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

🌹3. Mencerminkan kesempurnaan.

Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak Idul Fitri.

🌹4. Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa pun ada yang bilang “KUPAT SANTEN“, Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten (Saya Salah Mohon Maaf). 

Kiriman Mbak Tati, Lavender Ribbon Cancer Support Group.

🌹🌹🌹

Ternyata dibalik ketupat yang demikian sederhana, dan di balik kata lebaran yang sering kita gunakan untuk melambangkan Iedul Fitri dan Iedul Adha (lebaran haji), terdapat filosofi yang begitu dalam.

Semoga kita pun dapat menyelami, menghayati dan mengamalkan seluruh filosofi itu dalam memaknai perayaan Iedul Fitri kali ini.

🌹Pertanyaannya:

Kenapa penting memaknai Iedul Fitri dengan filosofi ketupat di atas?

Khusus untuk anda, apa yang dapat menjadi lebih baik dalam hidup anda dengan menggunakan filosofi ini untuk lebaran kali ini?

3 thoughts on “Filosofi di balik ketupat: ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (lebaran, luberan, leburan, laburan)

    • Assalamualaikum ww.

      Terima kasih juga, sama-sama.

      💐🌿💐🌿💐🌿💐🌿💐🌿

      pada suatu hari nanti
      jasad kami tak akan ada lagi
      tapi dalam bait-bait sajak ini
      kau takkan kami relakan sendiri

      pada suatu hari nanti
      suara kami tak terdengar lagi
      tapi di antara larik-larik sajak ini
      kau akan tetap kami siasati

      pada suatu hari nanti
      impian kami pun tak dikenal lagi
      namun di sela-sela huruf sajak ini
      kau takkan letih-letihnya kami cari

      Mohon maafkan salah kami
      Karena yang fana adalah waktu,
      Kita abadi.

      (Dirangkai dan digubah dari puisi Sapardi Djoko Damono)

      Taqabalallahu minna wa minkum.
      Selamat Hari Raya Iedul Fitri
      Mohon maaf lahir batin.

      Siraj, Indira, Hana.
      💐🌿💐🌿💐🌿💐🌿💐🌿

      Like

    • Assalamualaikum ww,

      💐🌿💐🌿💐🌿💐🌿💐🌿

      pada suatu hari nanti
      jasad kami tak akan ada lagi
      tapi dalam bait-bait sajak ini
      kau takkan kami relakan sendiri

      pada suatu hari nanti
      suara kami tak terdengar lagi
      tapi di antara larik-larik sajak ini
      kau akan tetap kami siasati

      pada suatu hari nanti
      impian kami pun tak dikenal lagi
      namun di sela-sela huruf sajak ini
      kau takkan letih-letihnya kami cari

      Mohon maafkan salah kami
      Karena yang fana adalah waktu,
      Kita abadi.

      (Dirangkai dan digubah dari puisi Sapardi Djoko Damono)

      Taqabalallahu minna wa minkum.
      Selamat Hari Raya Iedul Fitri
      Mohon maaf lahir batin.

      Siraj, Indira, Hana.
      💐🌿💐🌿💐🌿💐🌿💐🌿

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s