Kisah hafalan quran 

  
Sahabat sekalian,

Di bawah ini adalah tulisan, kisah Mbak Titik yang sangat rajin membaca dan menghafal Al Quran, yang sangat menohok saya. Semoga tulisan ini juga dapat memotivasi sahabat sekalian. 

🌹🌹🌹

Sekian tahun silam, saat saya duduk di SMA, Bapak sakit gagal ginjal dan harus cuci darah. Saat itu rasanya begitu momok mendengar cuci darah . Gak tega banget melihat tangan bapak dicoblos jarum segede “gajah.”

Sebagai anak , tak ada keinginan lain kecuali menghibur dirinya . Dan itu adalah … Memilih masuk Fakultas Teknik jurusan nuklir di UGM. 

Sementara bapak di rawat cuci darah di RSPP Jaksel, saya mondar mandir antara kampus UGM Yogua dan RSPP jakarta. 

Suatu ketika Bapak merasa sangat kesakitan dan meminta saya mmbacakan doa. Apa saja. 
Deg.

Saat itulah merasa betapa diri yg selama ini merasa pintar, langganan beasiswa, ternyata tidak mengerti apa-apa tentang doa, atau tentang agama. 

Sediiiih sekali. 

Dan ternyata Allah pun menunjukkan rasa sayangnya. Ketika mendorong kursi roda bapak di RS saya terjatuh. Mungkin kelelahan?

Ternyata saya kena sakit typhus akut. 

Parah . 

Nyaris koma. 

Setengah sadar mendengar bapak menangis sambil memijit-mijit kakiku. 

“Sembuh ya, Tik ..sembuh ya. Hidup .. Ayo hidup.”

Bagaimana ini … Saya yang harusnya merawat bapak kenapa Bapak yang malah merawat saya?

Kami berdua sama-sama jadi pasien rupanya. 
Dalam kondisi setengah sadar, saya mengharap kemurahan Allah utk sembuh, untuk berbakti kpada orang tua, untuk memperbaiki diri, belajar agama. 

Alhamdulillah setelah diopname 3 bulan di RSPP (masuk bulan sept. Keluar Desember). Saya pun pulang langsung ke jogja utk ujian semester. Dalam hati berjanji akan mencari ilmu agama. Niat kuat ingin belajar agama. Bingung tdk tau bagaimana dan dimana.

(Kondisi tahun 1990 zaman belum canggih. Jangankan whatsapp. HP pun blm ada zaman itu). Duduk merenung diruang kuliah, teringat bapak yang kesakitan cuci darah tiap dua hari sekali, memohon didoakan.

Teringat saat ku diambang maut, berjanji pada Allah tuk memperbaiki diri. 
Saat itu seorang dosen fisika nuklir masuk ke ruangan membuyarkan lamunan. 
“Buka al Quran nya !” 

Eh gak salah ni?

Apa mimpi ya gara-gara tadi ngelamun pingin belajar agama sampai-sampai dosen fisika nuklir terdengar nyuruh buka al Quran.
Hihihi senyum geli sendiri. 

“Buka al Qurannya ..” 
Eiiitsss …tidak salah dengar ternyata. 

Subhannallah … 

Hari itu belajar fisika nuklir dengan sumber rujukan Al Quran. Ternganga …terlongo-longo… 

MasyaAllah …semua ilmu fisika koq ada di al Quran .

Jadi terkagum-kagum dengan al Quran yang luarbiasa. 
Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang  menarik tuk buka al Quran. 

Mulai akrab dengan al Quran, meski sebatas mmbaca terjemah ayat-ayat sains. Mulai mikir untuk pakai kerudung. Hmm… Satu-satunya muslimah di Nuklir . 

Yup … Pakai deh. Alhamdulillah. Ternyata inilah petunjuk Allah. Dengan berkerudung identitas menjadi jelas, meski sungguh ini tidak mudah. Berkali-kali kerudungku di jambak, ditarik oleh mahasiswa kristen. 

Namun kerudung ini membuatku berkenalan dengan mbak-mbak sholihah dari fakultas lain. Jadilah …belajar agama dalam sebuah Lingkaran Cinta. 

Thn 1990. 📝

Bahagia .. 💚🌸

Semangat belajar Islam. Bisa untuk mendoakan Bapak, pikirku. Tapi belum sebulan kabar baik ini Bapak pun telah meninggal. 

Setelah bapak meninggal keinginanku sangat kuat untuk belajar agama. 

Pingin jadi anak yang berbakti. 

Pingin jadi anak yang sholihah. 

Yang doa-doanya bisa mengguncang arsyNya. Doa Allahummaghfirli waliwalidayya.

Kata ustadz, seberapa sholih diri kita.. Sebegitu kuat doa anak mengguncang langit. 

Selanjutnya kusibuk bekerja, kuliah, dan belajar islam. Kalau malming milih mondok di salah satu pesantren agar bisa ikut kajian bada subuh. 

Alhamdulillah.

Semakin terkagum-kagum pada Al Quran, namun kumasih terbata-bata membacanya. 
Mmberanikan diri menghadap ustadz.
“Ustadz, tolong carikan saya seorang suami yang punya hafalan Quran.” 
“Berapa juz?”
“Satu juz pun boleh.”

Lalu datanglah seorang ikhwan dari jakarta ke Yogya membawa proposal hafal Quran.

Tidak juz 30. 

Tapi 30 juz . 

Dengan kemurahan Allah, maka kumenikah dengan mahar hafalan Quran. 

Alhamdulillah .
Diuji dengan musibah kita sering kuat dan tegar. Namun diuji Allah dengan nikmat kita justru sering lalai. 

Awal menikah senaaaang sekali menerima dan menyimak setoran hafalan, sholat berjamaah sangat lama dengan surat yang puanjang . 
Namun kesibukan menjadi ibu mulai meletihkan raga. Mulai berkurang ketertarikan dengan Al Quran. 

Tak lagi sabar menyimak hafalan suami. 
Mulai bingung ketika anak-anak tumbuh seperti Abinya, suka Al Quran. 

Sibungsu sangat keranjingan menghafal sejak usia 3 tahun . 

Tiap pagi menagih untuk dibunyikan sebuah ayat . 10 x Ummi mengulang, dan dia pun hafal. Suatu hari (Lima tahun lalu ) dia bertanya : 

“Ummi …Al Quran itu semua ada berapa ayat?”
“Hmm, 6 ribuan. Kenapa Lis?”

“Umur ummi ada berapa?”
“40 tahun. Kenapa, Lis?
“40 tahun itu ada 6000 hari nggak, Mi?”
Ada. Lebih malah, 12.000 hari lebih.”
“Kenapa ummi belum hafal Quran, Mi? 6.000 hari itu berapa tahun, Mi?”

“Eh ..20 tahun itu, Lis.”

“Ayo, Ummi menghafal sekarang. Nanti 20 tahun lagi Ummi dah hafal Quran.”
Mungkin ini pesan Allah lewat mulut bocah kecil. Namun ku koq abai ya.

Teguran kedua pun datang . Rasa sakit yang amat sangat hebat. Sekali lagi seperti maut menghampiri. Ternyata empedu hampir robek dan tubuh nyaris keracunan. 

Ada batu segede kelereng TUJUH biji. !!! 

Sekali lagi memohon kepada Allah. Memohon kehidupan . Memohon kesempatan mmperbaiki diri. Allah Yang Maha Baik mengabulkan doaku. 

Operasi berhasil. 

Kusehat kembali. 

Alhmdllh .. 

Cukuplah zikrul maut dua kali ( 2x) jadi peringatan. 
Lima tahun terakhir saya mulai mengakrabkan diri dengan Al Quran . 

Selalu ingin mengkhatam . 

Lagi. Dan lagi. 

Untuk mensyukuri nikmat hidup dan kehidupan. Untuk menggoncang arsy dengan doa-doa yang tertuju pada almarhum kedua orang tua. Harus bersyukur. 

Jika Rasulullah yang sudah dijamin masuk syurga saja bersyukur hingga kakinya bengkak (lama berdiri sholat), apalah kita … 

Kita tak ada jaminan syurga.

Mata yang lelah karena tilawah, punggung yang pegal lama duduk di sajadah. Itu sama sekali tak seberapa, dibanding nikmat kesempatan untuk hidup. 

Yaaa akhwatyy… 

Yuk cinta Quran . 

😍

🌿🌸 the END 🌸🌿

Kiriman Ria Sirwan, fasil akhwat 18

🌿🌷🌿🌷🌿🌷🌿🌷

Sahabatku,

Kita tak harus ditegur meregang nyawa dulu untuk mulai mendekat padaNya untuk menjadi makhluk kecintaanNya yang cinta Al Quran, bukan?

🌿 Apa langkah terkecil yang dapat kita lakukan hari ini untuk lebih dekat kepada Al Quran?

Untuk mulai rutin membacanya?

Untuk mulai menghafalkannya?

Untuk mengajak seluruh keluarga menghafalkannya?

Untuk menggapai ridloNya melalui setiap huruf yang kita baca?

Ya Rabbi, ya Rahman, ya Rahim, jagalah kami dalam jalanMu, tanamkanlah Al Quran dalam hati kami dan sanubari keluarga kami. Ridloilah kami dengan bacaan Al Quran kami, Ya Rabbi, Ya Ghaffar, Ya Rahman.

Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s