Sudahkah kita berpuasa dengan puasa yang sejati?

  ~PUASA SEJATI~ 

Dikisahkan pada suatu hari Imam Ahmad Ibnu Hanbal rahimahullāh sedang berpuasa. Menjelang berbuka dengan dua potong roti kering, datanglah seorang pengemis ke rumah beliau untuk meminta-minta. 
Imam Ahmad merasa iba dengan pengemis tersebut. 

Apa yang dilakukan oleh Imam Ahmad? Ternyata dua potong roti kering yang beliau siapkan untuk berbuka puasa diberikan semuanya ke pengemis tersebut sehingga tidak ada makanan tersisa di dalam rumah beliau. 

Lantas beliau berbuka dengan apa? 
Beliau berbuka dengan segelas air putih dan keesokan harinya bersahurpun dengan segelas air putih. Luar biasa bukan? 

Begitulah sosok orang-orang yang puasanya telah mempengaruhi perilaku kesehariannya. 

Dan puasa bagaimanakah yang akan mempengaruhi perilaku seorang hamba? 
Yaitu puasa yang bukan sembarang puasa yaitu PUASA SEJATI. 

🌹Apakah PUASA SEJATI itu? 

Puasa sejati bukanlah hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi makna puasa lebih luas dari itu. 
Sebagaimana yang diisyaratkan oleh shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang bernama Jābir bin ‘Abdullāh radhiyallāhu ‘anhu: 


“Jika engkau berpuasa hendaklah telingamu ikut berpuasa, lisanmu ikut berpuasa dan matamu ikut berpuasa.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/3)

Jadi, Jābir bin ‘Abdullāh memberikan sebuah makna yang sangat dalam dari ibadah puasa. Ternyata puasa itu bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar. 

🌹PUASA MATA

Yaitu menjaga mata ini dari melihat hal-hal yang diharamkan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
Demi mengamalkan firman Allāh Subhānahu Wa Ta’āla: 
 

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum mu’minin agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.” (An-Nūr 30)

Dan Allāh berkata kepada kaum mu’mināt: 


“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum mukminat, hendaklah mereka senantiasa menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.” (An-Nūr 31)

Jadi Allah menjelaskan didalam ayat ini bahwa mata digunakan untuk sesuatu yang tidak dimurkai oleh Allah. Kita terkadang heran dengan perilaku sebagian orang yang berpuasa, biasanya pada sore hari duduk-duduk (ngabuburit) di jalan-jalan. 

🌹PUASA LISAN

Puasa lisan adalah menggunakan lisan ini dalam hal-hal yang diridhai Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. Jika tidak bisa mengatakan kata-kata yang baik, maka diamlah. 
Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam: 
  

“Barangsiapa yang beriman kepada Allāh dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aneh sekali jika orang yang berpuasa tapi masih menggunjing orang lain, berbohong, mencaci orang lain.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menegaskan dalam sebuah hadits shahīh: 
 

“Orang yang berpuasa kemudian tidak meninggalkan perkataan dusta, Allāh tidak butuh dengan laparnya dan dahaganya.” (HR. Bukhari)

Ini peringatan keras dari Nabi kita saw bahwa orang yang berpuasa tapi masih menggunjing orang lain, gemar berdusta, suka mencaci dan menghina orang lain maka orang-orang seperti ini puasanya tidak dibutuhkan Allāh. Dan bisa sampai tidak diterima oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla seandainya dia tidak memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun puasa. 

🌹PUASA TELINGA

Yaitu kita berusaha untuk tidak memasukkan ke dalam telinga kita kecuali sesuatu yang baik. Maka jangan habiskan waktu berpuasa kita (dan juga ketika tidak berpuasa) untuk mendengarkan gosip/aib oranglain dan nyanyian. 

Habiskan waktu kita untuk mendengarkan bacaan Al-Qurān, pengajian. 

Maka, puasa sejati adalah orang yang telah berpuasa bukan hanya perutnya saja tapi juga berpuasa dengan telinga, mata dan lisannya bahkan seluruh anggota tubuhnya (tangan, kaki, hati).

SELAMAT BERPUASA DENGAN PUASA YANG SEJATI. 

👤 Ustadz ‘Abdullāh Zaen, LC, MA hafizhahullāh

📺 Sumber: https://youtu.be/9nlDLLHgNGc

🌹🌹🌹🌹🌹

Sahabatku,

Kalau 1=sangat jauh dari puasa sejati dan 10=sejati 100%, sudah ada di angka berapakah kita?

🌹 Apakah yang harus kita lakukan agar kita dapat mendapai tingkat puasa sejati 100%?

🌹 Mengapa hal itu penting bagi sahabat?

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk selalu berpuasa dengan puasa yang sejati, agar tak sia-sia waktu kita di bulan Ramadlan suci ini. Belum tentu tahun depan Allah berikan lagi kesempatan menikmati Ramadlan kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s