Anak adalah cerminan gaya komunikasi orang tuanya. Bagaimana kita bisa berkomunikasi lebih baik dengan anak?

  
Sahabat blog terkasih,

Anak adalah amanah, tugas dari Allah. Kesuksesan mereka lahir batin, dunia akhirat, akan ditanya oleh Sang Pencipta dan harus kita pertanggungjawabkan. Baik tidak nya anak terpulang pada kita. Jangan marah kalau anak melakukan hal yang tidak kita suka karena anak adalah cerminan kita.

Simak paparan Bu Elly Risman pada hari Sabtu, 10 Januari 2015, @SACikeas, yuk. Semoga berkah dan bermanfaat ya.

🌹🌹🌹🌹🌹

Mendidik anak dengan baik, benar dan menyenangkan

Saat ini kebanyakan kita ternyata tidak siap jadi orangtua. Jika kita salah mengasuh anak kita sekarang, maka kita akan salah mengasuh cucu kita.

Mengapa kita tidak siap menjadi orang tua? Karena kita tidak menguasai tahapan perkembangan anak dan menguasai cara otak bekerja. Misalnya:

  • kapan anak boleh dikasih hp?
  • umur berapa anak boleh didudukan menonton tv?

Anak dibawah usia 3 tahun tidak boleh terpapar TV, karena anak usia tersebut memerlukan waktu 4-6 detik untuk memamah perubahan warna, gambar dan suara. Sedangkan pada TV perubahan itu terjadi 2-3 detik, sehingga dapatmenyebabkan kerusakan otak anak batita.

Banyak orang tua yang meletakkan anak batita di muka TV selama berjam-jam karena ingin mengajak anak belajar. Atau lebih parah lagi, karena tidak mau repot. Acara apa yang ditonton pun belum tentu dicek.

Itu baru urusan menonton TV. Belum yang lainnya.

Kita perlu mengetahui tahapan perkembangan anak, juga cara otak anak bekerja pada usia yang berbeda-beda. Apa yang kita lakukan dapat membangun atau merusak otak dan kepribadian anak yang tentunya berdampak panjang di masa depan anak.

Cara berkomunikasi dengan anak 

Cara kita berkomunikasi dan bahasa tubuh kita sangat berpengaruh pada perkembangan anak kita. Cara bicara yang salah dapat:

1. Melemahkan konsep diri anak 
2. Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama.
3. Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak.
4. Melemahkan kemampuan berfikir 
5. Melemahkan kemampuan memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri.
6. Menimbulkan rasa iri berkepanjangan yang dapat menimbulkan kesan “dunia tidak adil” sampai dewasa.

Danpak-dampak ini akan lebih besar dan lebih buruk daya rusaknya kalau sampai ada aspek emotional atau verbal abuse. 

Anak-anak yang mengalami hal-hal di atas cenderung berfikir negatif. Dan parahnya hal ini dapat terus terjadi di 40 tahun (krisis usia separuh baya). Mereka tidak hanya perlu dipeluk badannya tapi juga jiwanya. 

Dua hal yang perlu diingat terlebih dahulu sebelum memulai komunikasi yang baik dan benar:

🌸 Bila hati senang, otak akan menyerap lebih banyak. Jadi buatlah hati anak senang dulu sebelum berkomunikasi.

🌸 Banyak senyum. Ketika senyum, otot pipi bergerak.  Ini membuat otak dingin dan mengeluarkan seretonin (anti agresivitas). Tidak mungkin pula orang tua marah kepada  anak sambil senyum. 

Komunikasi orang tua yang tidak efektif:

🌸Bicara tergesa-gesa.
 Waktu terbatas, bicara panjang, sambil marah-marah dan muka kencang tanpa  plus tidak senyum.

🌸 Kurang kenal diri sendiri dan tidak introspeksi. Anak selalu disalahkan tanpa mau melihat porsi kesalahannya sendiri

🌸 Lupa kalau setiap individu itu unik dan tiap anak unik (QS. 3:6) dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, tak dapat dibandingkan.

🌸 Tidak mengerti perbedaan kebutuhan dan kemauan.
Kebutuhan dan kemauan bisa berbeda karena individunya berbeda, masanya pun berbeda. Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.

🌸 Tidak mau memahami anak: 

  • Tidak membaca bahasa tubuh.
  • Tidak mendengar perasaan
  • Kurang mendengar aktif

🌸 Melakukan parentogenik (penyakitnya ortu) yaitu 12 gaya populer.
1. Memerintah
2. Menyalahkan
3. Meremehkan
4. Membandingkan
5. Mencap/melabel
6. Mengancam
7. Menasehati
8. Membohongi
9. Menghibur
10.Mengeritik
11. Menyindir
12. Menganalisa

12 gaya populer ini adalah gaya yang menghambat komunikasi. Ketika kita menggunakan gaya ini anak langsung mengalami hambatan untuk memahami.

Anak yang terlalu sering menerima bentakan, kemarahan dan nasehat panjang yang mengabaikan perasaannya. Maka anak akan merasa terpojokkan. Dampak kedepannya ketika anak sudah besar kalo tidak melawan atau diam. Susah diajak kerjasama.

🌸 Selalu menyampaikan “pesan kamu.” Contoh: “kamu sih…sudah mama bilang….”

🌸 Tidak memisahkan “masalah siapa” dan langsung memarahi tanpa analisa.

Nah, sekali lagi, anak kita adalah cerminan diri kita, gaya komunikasi kita, kelebihan dan kekurangan kita. Marilah kita lihat apa yang harus diperbaiki. Dan mulailah memperbaiki diri sebagai orang tua, bukan mulai dengan memarahi anak. Ingatlah selalu bahwa kita akan mempertanggungjawabkan semua ini suatu hari nanti.

Semoga anak kita dapat menjadi sumber bahagia dunia dan akhirat. Aamiin yra.

🌸 

2 thoughts on “Anak adalah cerminan gaya komunikasi orang tuanya. Bagaimana kita bisa berkomunikasi lebih baik dengan anak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s