Sudahkah kita menjadi tanganNya berbagi manfaat bagi semesta hari ini?

  

Tangan di Atas, Hati Berbadai

Oleh Salim A Fillah

H. Usman, pemilik salah satu usaha batik terkemuka di Yogyakarta memang dikenal atas kedermawanannya, seakan harta telah begitu tak berharga baginya. Seakan dunia tlah begitu hina dimatanya. Ringan baginya membuka kotak persediaan, dan seakan tanpa beban ia mengulurkan bantuan. Inilah sosok nyata orang yang dunia di tangannya dan akhirat di hatinya.

Maka beberapa org pengusaha muda mendatangi beliau, “Ajarkan kami bagaimana caranya agar kami seperti Ji Usman, bershadaqah terasa ringan?”

“Wah,” sahut Haji Usman, “Salah alamat.”

“Lho?”

“Saya ini sangat mencintai kekayaan saya. Saking cinta dan sayangnya saya pada harta, sampai-sampai saya tak rela meninggalkannya di dunia. Saya itu tak mau berpisah dengan kekayaan saya. Maka sementara ini saya titip-titipkan dulu. Titip pada Masjid, anak yatim, madrasah, pesantren, para pejuang fi sabilillah. Alhamdulillah ada yang sudi diamanati, saya bahagia sekali.  Saya ingin kekayaan saya itu dapat saya nikmati berlipat-lipat di akhirat.”

Jangan kita merasa lebih mulia dari yang menerima bantuan, sebab justru merekalah yang membantu kita agar beroleh kebaikan lebih besar dari Sang Pencipta. 

Sungguh dalam amal memberi, Allah-lah yang menganugrahi kita niat di dalam hati, kemampuan di tangan dan pahala sebakda kejadian. Betapa Dia Maha Mulia. Dan betapa kita amat beruntung ketika digunakan oleh-Nya membagi kemanfaatan pada sesama. Dan betapa kita amat berbahagia sebab ada yang berkenan menjadi penerima, yang dengan wasilah mereka semata harta kita menjadi berpahala.

Para pemberi di lapis-lapis keberkahan, memulai penyerahan hartanya dengan rasa bersalah, pengakuan dosa, niat membersihkan diri, tekad mensucikan hati agar beroleh ketentraman batin dari Rabbnya. Allah, Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Para pemberi di lapis-lapis keberkahan, sama sekali tak mengharapkan balasan dan ungkapan terima kasih sebab apa yang ada di sisi Rabbnya berupa RIDHA dan SURGA lebih baik lagi lebih kekal.
Di lapis-lapis keberkahan, berinfak adalah memperbaiki akhlaq. Dari hati yang ingin mensucikan diri dan membersihkan lekatan duniawi, muncul perilaku terpuji terhadap sesama.

“Pahala mereka hanyalah dari Allah, sebab mereka memang tak berharap selain itu,” menurut Al-Imam Ibn Katsir.
Kelapangan dan kesempitan sekalipun, takkan mampu menghalangi jiwa pemberi di lapis-lapis keberkahan.  Baik senang maupun susah, kuat maupun lemah, ringan maupun berat, berlimpah maupun hrs berhemat, para calon penghuni surga bergegas memenuhi seruan Allah ini terus berbagi memberi manfaat. Mereka amat curiga pada niat diri di dalam hati, jangan-jangan kelak Allah akan berfirman, “Dusta engkau! Kau lakukan semua itu hanya agar manusia mengatakan bahwa kau seorang dermawan!”

(Dicuplik dari buku Lapis-Lapis Keberkahan, Salim A Fillah)

Kiriman: Indri, Lavender

🎀🎀🎀🎀

Sahabat blog tercinta,

Seberapa banyak langkah kita hari ini membersihkan harta kita?

Seberapa besar usaha kita menggapai ridloNya?

Apa lagi hal yang dapat kita lakukan hari ini untuk berbagi dan memberi manfaat? Membantu orang lain? Meringankan beban orang lain?

Yuk kita lakukan dan kita tambah terus kualitasnya, yuk.

Semoga Allah ridlo dengan semua pemberian kita dan memasukannya dalam kategori amal sholeh, pembuka pintu surga.

Aamiin yra.

🎀🎀🎀🎀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s