Dunia adalah cerminan perasaanmu. Dunia seperti apakah yang telah kau bangun?

  
Sahabatku,

Pernahkah mendengar hasil penelitian Masaru Emoto mengenai kristal air?

Coba simak video di bawah ini:

https://m.youtube.com/watch?v=U_14nqkk-GU

Masaru Emoto membuktikan bahwa setiap tetes air menangkap emosi yang ada di dekatnya. Perkataan baik yang menimbulkan perasaan baik akan menghasilkan molekul air yang indah dan perkataan buruk yang menimbulkan perasaan buruk menghasilkan molekul yang buruk. Molekul yang baik akan dengan mudah menghantarkan oksigen dan baik bagi kesehatan, dan sebaliknya molekul air yang buruk tidak baik pula bagi kesehatan.

Air menangkap emosi. Bahkan air adalah seperti cermin dari perasaan kita. Bagaimana dengan benda yang terdiri dari air?

Kita simak yuk video ini:

https://m.youtube.com/watch?v=31shlv5Z71A

Nasi yang ditempel kata “love” (cinta) dan disapa penuh cinta tiap hari tetap putih dan terlihat enak dimakan di hari ketiga, sementara nasi yang ditempel kata “hate” (benci) dan disapa dengan penuh kebencian terlihat penuh jamur dan sangat menjijikkan. Padahal keduanya dimasak bersamaan dan diletakkan berdekatan. Nasi – dan berbagai benda di dunia – dapat menjadi cermin dari perasaan yang kita lemparkan padanya.

Kalau air bisa bereaksi, dan nasi pun bisa bereaksi terhadap emosi, bagaimana dengan tubuh manusia?

Dengan perasaan apakah kita hidup setiap hari? Bahagiakah kita setiap hari? Rajinkah kita berterima kasih dan menyapa seluruh tubuh kita dengan penuh cinta dan terima kasih?

Ataukah kita diliputi perasaan kesal, benci, dendam, menyalahkan diri sendiri setiap hari? 

Bagaimana dengan anak, keluarga, dan semua orang di sekitar kita? 

Apakah kita membantu mereka menjadi lebih sehat, cerdas, tumbuh dengan baik dan bugar? Atau kita membuat mereka lemah, penuh penyakit, jamur, atau bahkan berpotensi terkena kanker? Bahkan sejak dalam kandungan pun kita telah mendidiknya tanpa sadar melalui perasaan kita.

Banyak orang yang merasa “wajib” membuat orang lebih baik dengan kritik, pukulan, hinaan, cercaan atau amarah. Semua itu buruk bagi yang melempar maupun yang menerima kritik, dendam atau amarah tersebut. Keduanya terpapar energi yang negatif. Keduanya berpotensi menjadi lebih sakit.

Biasanya anak yang dipukul, dicerca dan dimaki di saat kecil akan tumbuh menjadi orang yang juga penuh kekerasan dan kebencian. Dunia macam apa yang kita ciptakan dengan segala emosi kita?

Bayangkan kalau kita mendidik anak yang penuh cinta, kasih sayang, memberdayakab potensinya untuk berkembang penuh. Saat ia dewasa ia pun akan membangun dunia yang indah. Inilah warisan kita bagi dunia.

Dan bayangkan apa jadinya dunia, alam yang dipenuhi emosi takut, benci, amarah, mengingat dunia ini penuh dengan air? Bukankah alam pun dapat melancarkan protes dan reaksinya terhadap emosi kita?

Anak, teman, sahabat, keluarga dan semua yang ada di alam semesta adalah cerminan dari emosi, perasaan dan energi kita. Jangan marahi anak kalau kita merasa ia berperilaku buruk karena ia adalah cerminan kita, orang tuanya.

Bayangkan seperti apa dunia yang penuh doa, penuh harapan, penuh cinta, penuh semangat dan gairah berbagi? Semua doa, harapan, kasih, semangat yang kita lemparkan pada dunia akan berbalik pada kita.

Yuk, kita ciptakan dunia penuh cinta, penuh harapan, penuh kebahagiaan dan kasih sayang, sesuai sifatNya, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan dunia pun akan berbalik mengasihi kita. Bahkan langit pun akan menebarkan kasih pada kita. Dunia inilah yang akan menghamparkan keindahan dan kebahagiaan dunia akhirat bagi kita semua.

Aamiin yra.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s