Sudahkah kita ikhlas menjadi tuan dalam hidup kita?

  
Suatu hari, dua orang sahabat A dan B menghampiri sebuah lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk dan wajah kusut
Orang pertama A, jelas jengkel menerima layanan seperti itu. 
Yang mengherankan, orang kedua, B, tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu.
Kemudian A bertanya kepada B, sahabatnya, “Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”

B menjawab, “Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah SANG PENENTU atas kehidupan kita, bukan orang lain.”

“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah A yang masih merasa jengkel.

“Ya, itu masalah dia. Dia mau berwajah  bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia MENGATUR  dan MEMPENGARUHI hidup kita. Padahal kitalah yg BERTANGGUNG JAWAB atas diri kita sendiri.”

Saudaraku…

Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. 

Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. 

Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi.

Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.

Coba renungkan:
• Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain..?.
• Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu..?

Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita, menentukan cara kita bertindak!

Berusahakah untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.
“Pemenang kehidupan” adalah kita yang:

  • Tetap sejuk di tempat yang panas
  • Tetap manis di tempat yang sangat pahit
  • Tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar
  • Tetap sabar di tengah gelombang  ujian, serta 
  • Tetap tenang kala menghadapi badai kehidupan yg berat…”

Have a nice day

Kiriman Pak Nizar Ali, SS.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Sahabat blogger tercinta,

Stephen Covey mengatakan bahwa kebiasaan nomor satu orang yang efektif adalah proaktif, dan tidak reaktif. Keberhasilan kita adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab orang lain. Dengan demikian perasaan, pemikiran, perkataan dan perbuatan kita adalah tanggung jawab kita sendiri, tidak dapat kita sandarkan pada kesadaran orang lain untuk berkata atau berlaku baik atau buruk pada kita.

Orang yang judes, orang tua, pasangan, pemerintahan yang korup, boss yang tidak adil adalah contoh dari para penentu nasib yang sering dipilih. Sering kan dengar orang yang bilang:

“Gimana kita bisa sukses kalau pemerintah korup kayak begini?”

“… Orang tuaku tak sekaya orang tuanya. Mana bisa aku lebih sukses dari dia?”

Nah… Mereka inilah orang-orang yang menyerahkan nasibnya pada pemerintah atau orang tua.

Orang-orang yang proaktif akan menjadi pemenang dalam hidup karena mereka fokus dalam usaha mereka menjadi pemenang. Kita dapat kenali dari kata-kata mereka seperti:

  • Ini konsekuensi pilihanku. Aku terima. Aku akan cari jalan keluar.
  • Aku diberi banyak sekali ujian hidup. Sungguh besar karuniaNya memberikanku kesempatan naik derajat terus menerus.

Orang-orang reaktif akan menjadi pecundang yang terus fokus mencari alasan kenapa mereka tidak sukses. Kita bisa kenali dari kata-kata mereka:

  • Yaah… Aku hanya rakyat kecil, bisa apa?
  • Orang miskin seperti aku, cari makan haram saja susah, apalagi yang halal?

Coba catat kata-kata kita, kenali apakah kita lebih banyak menjadi pemenang atau pecundang dalam hidup?

Untuk selalu menjadi pemenang, kawal selalu rasa yang baik. 

  • Rasa yang baik akan membawa pikiran yang baik.
  • Pikiran yang baik menghasilkan kata-kata dan perbuatan yang baik
  • Perkataan dan perbuatan yang baik akan menjadi kebiasaan yang baik
  • Kebiasaan yang baik akan membantuk karakter yang baik
  • Karakter yang baik akan membawa keberuntungan yang baik
  • Keberuntungan yang baik membuka jalan untuk nasib yang baik

Lihatlah bagaimana perasaan yang baik sangat penting untuk selalu dijaga, karena ia dapat menentukan nasib kita, dengan izinNya.

Syukuri segala hal. Ini kunci yang sangat efektif membuat kita happy selalu. Yakinlah Allah hanya ingin yang terbaik bagi kita. Orang tua, pemerintahan, sikap buruk orang pada kita… Semua adalah ujian dan karunia dalam satu paket yang sama. Tinggal kita cari hikmahnya.

Di MBP training kita belajar bagaimana membangun “rasa yang baik” yaitu:

  • Nafas damai
  • Present moment 
  • Visualisasi
  • Tapping/EFT
  • Love healing

Yuk… Bangun nasib baik dengan menentukan bagaimana kita merasa dengan baik, apapun yang terjadi di luar, bagaimanapun judesnya orang pada kita, apapun cuaca hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s