Ikhlaskah kita bekerja hanya untuk Sang Maha Pemberi Kerja?

  

Suatu ketika Nabi saw dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar: “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya di jalan Allah.” 

Rasulullah saw menjawab: 

🌹 “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. 

🌹 Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah.

🌹 Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Allah. 

🌹 Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.” (Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb). 

Sungguh nikmat menjadi orang beriman karena semua kerja yang kita niatkan ada di jalanNya akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Namun kalau ada unsur riya dan sombong di sana, kerja kita adalah untuk setan. Makan sungguh rugah kita kalau niat kita bekerja membanting tulang menjerumuskan kita pada jalan setan.

Allah berpesan pula di surat Al Jumuah ayat 10:

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 
Nah dari hadits dan ayat di atas marilah kita evaluasi apakah kita sudah ikhlas bekerja hanya untukNya? Banyak masih kita mendengar, “Cari yang haram aja susah apalagi yang halal?” atau.. “Demi anak makan, yang haram pun kukerjakan.”

Sadarkah kita bahwa asal rejeki, asal pekerjaan, sumber segala kerja, adalah Sang Pemberi Rejeki yang sering menguji keikhlasan hambaNya?

Marilah kita evaluasi:

  • Sudahkah kita niatkan kerja kita untuk mencari rizki bagi keluarga, untuk menjaga kehormatan kita dan untuk menjaga orang tua?
  • Sudahkah kita jaga kerja menjauhi segala hal yang dibenciNya? 
  • Apakah “entertain” calon klien harus dilakukan dengan menjamu dengan alkohol?
  • Apakah kita rela membayar atau menerima “kickback” dalam proyek kita?
  • Apakah harta kita hanya datang dari sumber yang halal?
  • Apakah pekerjaan atau produk kita membawa manfaat atau mudlarat?
  • Apakah dalam pekerjaan kita mengeksploitasi orang?
  • Apakah kita selalu ingat Allah dalam bekerja?
  • Apakah kita meninggalkan pekerjaan saat adzan memanggil?
  • Apakah kita mendahulukan pekerjaan dan bukan kewajiban keluarga?
  • Apakah ada dalam hati kita rasa sombong karena kita sudah menempati posisi tertentu?
  • Apakah hasil kerja kita “dinikmati” dengan mengejar prestis agar kita terlhat “bergengsi” dan “berkelas” sehingga kita lebih tinggi derajatnya dari orang-orang lain?

Yuk, kita evaluasi yuk.

Hal ini sangat penting karena sebagian besar waktu kita ada di tempat kerja. Bahkan waktu bersama keluarga pun tidak sebanyak waktu di tempat kerja. Kalau waktu sebanyak itu ada di jalan Allah, Insya Allah kita aman. Namun kalau tidak… Bahaya sekali.

 “Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (QS. An-Najm: 39-41).

Semoga semua pemikiran, perkataan, perbuatan kita mendapat ridloNya dan mendekatkan kita semua pada surgaNya.

Aamiin yra.

2 thoughts on “Ikhlaskah kita bekerja hanya untuk Sang Maha Pemberi Kerja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s