Skip to content
Advertisements

Dengan ikhlas, sakit hati, takut, galau tak lagi ada.

  

Ikhlas…Oh… Ikhlas…

Ikhlas adalah kata yang sering kita dengar dan kita ucapkan. Kata yang begitu ringan dan mudah untuk disebut dan terasa enak di dengar. Namun, cukup sulit untuk merealisasikannya.

Inti ikhlas adalah beramal hanya untuk Allah semata. Seratus persen untuk Allah, LILLAAH, bukan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Benar-benar seratus persen untuk Allah, murni untuk Allah dan karena Allah tanpa ada yang lain. Tidak terkontaminasi oleh niat-niat lain walau hanya nol koma satu persen atau kurang dari itu. Oh betapa sulitnya.

Kita tidak akan pernah tahu kadar keikhlasan diri kita sendiri, bagaimana pula kita bisa menilai kadar keikhlasan orang lain..?!

Tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang keikhlasan orang lain karena tempatnya di dalam hati dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.

Kita diperintah untuk memperbaiki diri dan niat kita dan bukan membahas niat dan hati orang lain.

Orang yang mengaku telah berbuat keikhlasan berarti dia belum ikhlas dan keikhlasannya perlu di ikhlaskan lagi.

Amal yang tidak didasarkan oleh keikhlasan atau yang ikhlas namun terkontaminasi oleh niat-niat lain adalah amal yang sia-sia di sisi Allah dan tidak berarti sedikitpun, bahkan pelakunya akan mendapatkan hukuman daripadanya…Oh betapa ruginya..

Orang yang telah mengeluarkan harta, tenaga, pikiran, waktu dan lainnya akan menjadi sia-sia kalau tidak murni keikhlasannya, bahkan ia akan mendapatkan hukuman dan penyesalan..

Diantara syarat diterimanya amal adalah ikhlas…Pelajaran tentang ikhlas dan niat adalah pelajaran yang wajib..

Semoga kita semua mengetahuinya dan mampu merealisasikannya dengan sebenar-benarnya sehingga amal kita diterima Allah dan tidak sia-sia, aamiin..

Orang yang paling rugi adalah orang yang menyangka telah berbuat kebaikan yang sangat banyak namun ternyata semuanya adalah sia-sia di hadapan Allah, tidak berarti dan bahkan ternyata ia mendapat hukuman daripadanya..

Allah Ta’ala berfirman: 

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” 

(QS. Al-Furqaan: 23)

Akhukum Fillah

@AbdullahHadrami

🌍📚 WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang, Bimbingan Al-Ustadz Abdullah Sholeh Al-Hadromi hafidhahullah 📚🌏

🌹🌻🌹🌻🌹🌻

Tulisan ini kemarin dibahas di forum Coaching Lavender, di mana teman-teman Ericsonian Coaches mendampingi Sahabat Lavender, teman-teman penerima tamu kanker. Coach Riza bertanya, “Kalau ikhlas terasa berat, ikhlas bisa di ibaratkan seperti apa, sehingga terasa lebih ringan ?”

Indri, salah seorang Sahabat Lavender menjawab, “Mas Riza, bagi saya agar ikhlas teras lebih ringan, iklas saya ibaratkan seperti udara.

Kenapa udara? Karena udara adalah kebutuhan dasar saya.

Iklas pun kebutuhan saya, bukan kebutuhan orang lain apalagi kebutuhan Allah

Yaaa, iklas adalah kebutuhan saya agar Allah ridho dengan yang saya lakukan…

Kalau Allah Ridho, Allah memiliki hak melimpahkan segala bentuk kasih sayang-Nya pada saya

Inshaa Allah.”

Menganggap ikhlas seperti udara terasa pas bagi saya. Saat kita menjalani berbagai cobaan, menghadapi perilaku orang lain yang tak sesuai keinginan, saat ada penyakit seperti kanker yang datang menghampiri, kalau kita bisa menghadapinya hanya karena Allah, maka kecewa, sakit hati, perasaan tidak terima, apalagi marah kepada Allah tak lagi relevan.

Kanker? Alhamdulillah, dosaku dihapus.

Didzalimi? Alhamdulillah, dosaku akan diambilnya nanti di akhirat. Dosanya bukan urusanku. Kewajibanku hanya beribadah. 

Dirampok? Alhamdulillah dosaku dibayar di sini. Insya Allah kalau bersyukur Allah ganti yang lebih besar di dunia atau akhirat.

Doa tak kunjung dikabulkan? Alhamdulillah, mungkin ada bencana yang dihapuskan sebagai pengganti, atau dikabulkan di akhirat lebih besar lagi, Masya Allah.

Kalau semua hanya untuk Allah Insya Allah kita selalu bahagia dunia akhirat karena tak ada lagi rasa kecewa, marah, sakit hati. Energi tubuh akan mengalir tanpa hambatan, frekuensi tubuh tinggi, dan semua sel bergetar harmonis. Semua membuat pikiran, jiwa dan badan sehat dan kuat. Insya Allah semua penyakit pun jauh.

Sebaliknya kalau saat ini ada penyakit, ini saatnya bagi kita untuk evaluasi. Apakah yang belum kita ikhlaskan dalam hidup ini sehingga muncul ketidak seimbangan yang menimbulkan penyakit?

Yuk, kita bangun semangat ikhlas yuk… Jaga rasa, jaga hati, jaga pikiran. Kalau rasa baik, pikiran baik, perkataan baik, perbuatan baik, Insya Allah akan terbangun kebiasaanand baik, karakter baik, hasil baik dan akhirnya nasib baik.

Di sini kita bisa lihat, nasib sangat terkait dengan pikiran dan perasaan ikhlas sehari-hari.

Semoga Allah mudahkan kita untuk selalu ikhlas, dalam perjalanan kita menuju surgaNya. Aamiin.

Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, [yaitu] surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan [bagi] orang-orang yang berbuat kebaikan [yang ikhlas keimanannya]

QS5:85

🌹🌻🌹🌻🌹🌻

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: