Agus Salim, diplomat ulung yang cerdas dan sangat sederhana

  

Agus Salim adalah diplomat ulung yang pernah dimilki bangsa ini. Beliau fasih beberapa bahasa asing dan pandai berpidato. Belajar sendiri tanpa guru, sering memakai sarung dan topi, berkumis dan berjanggut. Konon dalam suatu pertemuan di jaman Belanda, ketika beliau nail ke atas podium, beberapa hadirin dengan riuhnya mengembek-embek, tanda tidak senang, mengejek janggutnya.

Dengan tenangnya beliau membuka pidatonya, “Hadirin sekalian, barang siapa di antara hadirin merasa dirinya seekor kambing, kami persilakan keluar ruangan, karena pertemuan ini hanya disediakan untuk manusia, bukan untuk kambing-kambing !”

Maka malulah antek kolonial yang mengembek-embek.

Konon kabarnya pula ketika beliau makan malam bersama ratu Inggris, seorang diplomat setengah menghina bertanya ;

“Saya dengar kebanyakan bangsa Tuan kalau makan masih pakai jari tangan. Kedengarannya jorok sekali. Tidak seperti sendok dan garpu orang eropa atau sumpit buat orang Cina. Dan manakah yang paling bersih diantara ketiganya ?”

Seraya melihat ke sekeliling, Agus salim menjawab, “Tuan betul. Sendok garpu memang bersih apalagi jika dibuat dari perak. Sebelum dipakai dicuci dulu oleh pelayan. Sumpit bersih dan amat praktis,  Sekali pakai bisa dibuang, bisa juga dicuci tuk dipakai lagi.

Setelah batuk sedikit beliau melanjutkan.

“Tetapi yakinkah tuan

 Bahwa sendok yang tuan pakai itu benar-benar suci. Karena waktu mencucinya tuan tidak melihatnya, bagaimana cara mencucinya dan air apa yang dipakai, atau kalau sebelumnya diludahi atau dikencingi oleh pelayan pun, tuan tidak tahu. Sumpit begitu juga

 Tuan tidak tahu kalau kayu atau bambu yang dipakai ternyata beratus tahun tumbuh di atas bangkai, pupuknya tahi sapi. Tuan tidak akan tahu kalau garpu atau sumpit itu sebelum dicuci sudah dipakai oleh pelayan tuan untuk menggaruk punggung, mengaduk comberan, membunuh coro atau menindas kepinding. Kalau sang pelayan sedang marah, semua yang buruk-buruk bisa terjadi terhadap peralatan makan tuan tanpa kelihatan !”

Yang hadir saat itu merah padam mukanya tapi Agus Salim tetap melanjutkan ; “Dan siapakah yang meragukan kesucian dan kebersihan jari tangan kita sendiri. Kita paling tahu apa yang kita pegang sebelum kita makan. Kita paling tahu kalau jari tangan kita sudah dipergunakan untuk mencolek lubang hidung, lubang telinga, lubang pantat atau mencolek lubang-lubang lainnya !”

Subhanallah…

H Agus Salim sering sekali mempesona pendengarnya saat ia berbicara. Seorang Indonesianis, Mc Turnan Kahin, pernah dibuat takjub melihat Ngo Dinh Diem, yang belakangan menjadi perdana menteri Vietnam Selatan, dibuat terpana oleh kepiawaian Agus Salim dalam sebuah perdebatan yang seru dalam bahasa Perancis.

Layaknya seorang Minang, ia suko maota, pandai maota, dan lamak maota (suka bicara, pandai bicara, dan enak ketika berbicara). Namun ia tak mau menggurui. Dalam sebuah forum ia dimintai pendapat oleh para pemuda dalam forum tersebut. Ia berbicara mengenai banyak hal tapi tak mau menjawab langsung pertanyaan yang diajukan. “Jawab permasalahan itu ada pada Saudara-saudara, karena ini persoalan generasi Saudara, bukan persoalan saya. Lihat anak saya (sambil menunjuk anaknya yang masih kecil). Jikalau saya menggendongnya terus, kapan ia berjalan? Biarlah ia mencoba berjalan. Terjatuh tapi ia akan beroleh pengalaman dari situ” (Ridwan Saidi dalam buku 100 tahun Agus Salim).

Luar biasa, kesederhanaanya adalah ketika KH. Agus Salim rela berjualan minyak tanah, sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa rasa malu ia menjualnya dengan cara mengecer, meski pada saat itu dia sudah pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan perwakilan tetap Indonesia di PBB. Bahkan saat ada acara di Jogyakarta, KH.Agus Salim terpaksa membawa minyak tanah dan menjualnya disana. Hasil penjualan minyak tanah itu, lanjut Roem, dipergunakan untuk menutupi ongkos perjalanan Jakarta – Yogyakarta.

Begitulah KH Agus Salim, hidupnya yang jauh dari kemewahan memang tidak membuat kiprahnya sebagai negarawan yang tangguh terhenti. Dia, tidak juga memanfaatkan berbagai jabatan penting yang di sandang untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. Adalah Profesor Schermerhom, seorang guru besar Belanda yang secara terang-terangan mengagumi KH Agus Salim.

Menurutnya, sang kiai ini adalah cendekiawan dan tokoh kenegarawan yang hebat. “Hanya satu kelemahan KH Agus Salim (menurut Schermerhom), selama hidupnya, ia selalu saja melarat dan miskin”, papar Schermerhom.
Benar, KH Agus Salim memang tidak kemaruk harta. Dan, sikap itu pula yang berusaha dia tanamkan pada setiap pemimpin. Tidak hanya kepada anak istrinya, namun juga kepada pejabat lain di negeri ini. Salah satu yang paling dikenang adalah ceramahnya di hadapan Bung Karno, Bung Syarir, dan Soeharto. Ketika itu dia mengatakan “Memimpin adalah menderita, bukan menumpuk harta.”

Betapa cerdas dan sederhananya seorang Agus Salim ini. Semua itu tentu adalah hikmah yang diberikan Allah SWT karena kedekatan dirinya pada-Nya. Semoga saja kita pun diberi kecerdasan itu !

Aamiin YRA.

Sumber:

One thought on “Agus Salim, diplomat ulung yang cerdas dan sangat sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s