Siapa yang paling harus kuhormati? Ibumu, Ibumu, Ibumu, Ibumu

  

Ada seorang anak datang menemui seorang kyai, kemudian mengeluh tentang ibunya.
Dia mengatakan, ”Ibu saya itu orangnya kuno, tidak berpendidikan, akibatnya saya mrasa teraniaya dan tidak nyaman menjadi anaknya. Saya tidak suka dengan ibu saya Pak.”

Kemudian dengan tenang Pak Kyai trsebut berkata,b”Tulislah semua keburukan ibumu.”

Maka anak itu menulis keburukan-keburukan Ibunya,
”Ibuku itu orgnya pemarah, pelit, cerewet, pendendam, kurang perhatian dan seterusnya.” 

Setelah selesai,
Kyai itu berkata,”Sekarang tulislah secara jujur jasa-jasa kebaikan dan pengorbanan Ibumu kepadamu.” Anak itupun merenung,
”Sewaktu diperut Ibu, 9 bulan aku menghisap darahnya. Saat itu, ibu sulit berdiri, berjalan berat dan berbaringpun sakit.
Tiga bulan pertama perutnya mual dan sering muntah karena ada aku diperutnya.
Ketika aku akan terlahir ke dunia, ibu mempertaruhkan nyawanya, antara hidup dan mati.
Meskipun bersimbah darah dan sakit yang luar biasa, tetapi ibu tetap rela demi kehadiran saya.
Ya, hanya demi kehadiranku. Setelah aku lahir, satu per satu jariku dihitungnya dan dibelainya dengan lembut.
Ditengah rasa sakit, tiba-tiba Ibu tersenyum dan meneteskan airmata bahagia karena bahagia dengan kehadiranku didunia.
Dan saat itu pula ibu menyangka anak yang dilahirkannya itu kelak akan jadi anak sholeh, berbakti, penurut dan memuliakan orang tua”. 

Ketika anak tersebut semakin dalam tenggelam menulis tentang kebaikan dan pengorbanan-pengorbanan Ibunya, tak terasa air matanya berlinang.
Kini dia semakin sadar,betapa kebaikan yang ia lakukan kepada ibunya tak sebanding dengan untaian pengorbanan Ibunya selama ini.
Bahkan jika kulit kita dikupaspun masih belum sebanding dengan perihnya pengorbanan ibu kita. 

Maka anak itu segera pulang, dia berlari ingin melihat ibunya dan bertekad akan memperbaiki sikapnya terhadap ibu tercintanya. 

Alloh berfirman,

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

(QS. 17:24)

Kiriman teman di what’s app group

🌹🌻🌹🌻

Sahabat blogger tercinta,

Apapun keburukan Ibu, kita selalu wajib menghormatinya. Bahkan apabila kebaikannya “hanya” melahirkan kita dan selebihnya siksaan, kita tetap wajib menghormatinya. Tanpanya kita tak ada, sehingga apa yang disebut “hanya” adalah hal yang menentukan apakah kita ada atau tidak di atas muka bumi ini menikmati nafas karuniaNya.

Jadi, bagaimanakah kita dapat menghormatinya hari ini? Esok?

Mengapa hal itu penting?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s