Lir ilir, bangunlah jiwa, bangkitkan iman dan bimbinglah umat dalam jalanNya

https://m.youtube.com/watch?v=8EceUtAJJ48

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh penganten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak’o surak: iyo…!!

Lir ilir, judul dari tembang di atas, bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang yang mengandung makna sangat dalam. 

Tembang karya Sunan Kalijaga ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah.

Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita simak.

Lir-ilir, lir-ilir 
(Bangunlah-bangunlah)

Tembang ini dibuka dengan lir-ilir; artinya bangunlah dari keterpurukan, bangun dari tidur panjang, bangun dari kemalasan; sadarlah. Apa yang perlu untuk dibangunkan? Apa yang perlu dihidupkan, disadarkan? Yaitu: Ruh, jiwa, akal dan jasmani. Kita sudah lama tertidur pulas hingga mirip orang mati.

Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. 
(Tanamannya sudah bersemi, demikian menghijau, bagai pengantin baru)

Bait ini mengandung makna kalau tanaman iman sebagai nikmat terbesar dari Allah jangan dibiarkan mati. Iman harus dirawat, ditumbuh kembangkan agar memberi manfaat dan kebahagiaan yang luas bagi diri dan masyarakat banyak. Pengantin baru itu adalah Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi.
(Wahai para penggembala, panjatlah pohon blimbing tsB-)

Mengapa “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu membimbing masyarakatnya dalam jalan yang benar. 

Lalu, kenapa “Blimbing”? blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu menggambarkan Rukun Islam, yang merupakan bangunan Islam.

Kenapa “Penekno”? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja
(para pemimpin) untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk konsisten dalam melaksanakan ajaran Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. 
(Licin-licin sekalipun tetap panjatlah, untuk membersihkan pakaianmu)

Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Rintangan dalam jalan da’wah itu banyak, dari mulai hawa nafsu hingga ancaman fisik dan mental. Ini semua dalam rangka membersihkan pakaian taqwa kita.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. 
(Pakaianmu, sobek di bagian pinggir)

Mungkin dalam berupaya istiqamah di jalan da’wah ini, pakaian taqwa itu tersobek karena beratnya tantangan yang harus dihadapi. 

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. 

(Jahitlah, perbaikilah untuk menghadap nanti petang)

Pakaian taqwa harus kita bersihkan. Iman, taqwa dan akhlak kita yang terkoyak karena rintangan di jalan da’wah harus kita perbaiki, kita perbarui lagi, untuk kita pertanggung-jawabkan kelak ketika menghadap Allah swt.  ”Sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa.”

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. 

(Mumpung rembulan bersinar terang, dan mumpung ada waktu luang)

Sunan Kalijaga mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika nyawa/hayat masih di kandung badan.

Yo surak’o surak: hiyo..!. 
(Mari sambut seruan ini dengan teriakan: siap..!)

Sambutlah seruan ini dg semangat dan berseru “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan dan rasa syukur. Sebagaimana firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfal :25)

Carrol Mc Laughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menerjemahkan dan mengaransemen lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Kiriman Mas Anto, Vanaya Coaches

🌹🌻🌹🌻🌹🌻

Terima kasih banyak Mas Anto.
Semoga kita bisa memahami, menjiwai tembang peninggalan pemimpin kita di masa lalu ini. Filosofi nya sangat dalam, universal dan relevan dengan tantangan-tantangan yang ada saat ini.

Coba perhatikan, pertama kita harus membangun kesadaran jiwa dulu. Jiwa yang terbuka, tercerahkan adalah awal dari kebangkitan menuju perbaikan terus menerus dalam jalanNya.

Sebagai awal, yuk kita jaga jiwa kita agar selalu dalam kesadaran murni (pure awareness) dalam membangun hidup kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s